Dukungan dan keterlibatan pembaca sangat berarti untuk menjaga keberlanjutan penyediaan konten yang bermutu, kontekstual, dan bertanggung jawab.
Dukung Situs Kami & Dapatkan Konten Eksklusif
Pilih salah satu cara untuk mendukung situs ini:
PERPUSTAKAAN ONLINE. Penyedia layanan referensi online Contoh Skripsi Sarjana Pendidikan Agama Kristen(S.Pd.K),Tesis Magister Pendidikan Agama Kristen (M.Pd.K), dan Disertasi (D.Th.) Bidang Pendidikan Agama Kristen.
Pilih salah satu cara untuk mendukung situs ini:
Penulis: Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Okultisme merupakan praktik dan kepercayaan yang terkait dengan ilmu gaib, mistisisme, atau supranatural. Di era modern, okultisme semakin mudah diakses melalui media digital dan komunitas tertentu. Fenomena ini banyak ditemukan di kalangan remaja yang mencari identitas, kontrol atas hidup, atau hiburan yang “misterius”.
Dari perspektif psikologi sosial, keterlibatan dalam praktik okultisme dapat memengaruhi perilaku, kepribadian, dan interaksi sosial. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memahami motivasi dan konsekuensi sosial psikologis yang terkait dengan okultisme pada remaja.
Bab I: Pendahuluan
Bab II: Tinjauan Pustaka
Bab III: Metodologi Penelitian
Bab IV: Hasil dan Pembahasan
Bab V: Kesimpulan dan Saran
Studi tentang keterlibatan remaja dalam okultisme di Indonesia dan negara lain. Faktor risiko termasuk pengaruh teman sebaya, keluarga, media sosial, dan lingkungan sekolah.
Diagram konsep menghubungkan motivasi, faktor psikososial, dan dampak keterlibatan dalam praktik okultisme.
Pendekatan kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan pengalaman remaja dalam praktik okultisme.
Lokasi: SMA/SMK di kota X. Subjek: 10–15 remaja yang aktif mengikuti praktik okultisme.
Analisis tematik untuk menemukan pola motivasi dan pengaruh sosial. Validasi melalui triangulasi sumber.
Informasi umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, dan pengalaman dalam praktik okultisme.
Menyandingkan temuan dengan teori Erikson dan teori pengaruh kelompok. Menjelaskan bagaimana pencarian identitas dan tekanan sosial mendorong keterlibatan okultisme.
Pelayanan gereja tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, budaya, dan ekonomi jemaatnya. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, gereja menghadapi tantangan berupa keberagaman etnis, agama, dan nilai-nilai budaya yang berbeda-beda. Banyak gereja cenderung mengadopsi model pelayanan universal yang seragam tanpa memperhatikan konteks lokal, sehingga sering kali terjadi kesenjangan antara kebutuhan jemaat dan praktik pengajaran atau penginjilan.
Teologi kontekstual hadir sebagai pendekatan yang menekankan relevansi Firman Tuhan dengan kehidupan nyata jemaat. Pendekatan ini memungkinkan gereja memahami pengalaman, budaya, dan masalah sosial jemaat secara lebih mendalam, sehingga pelayanan menjadi lebih efektif dan transformatif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan teologi kontekstual dapat meningkatkan partisipasi jemaat, kesadaran sosial, dan kualitas kehidupan rohani mereka (Hiebert, 1994; Bevans, 2002).
Penelitian ini difokuskan pada gereja-gereja yang berada di wilayah perkotaan dan pedesaan dengan karakteristik multikultural. Objek penelitian meliputi pemahaman pendeta, strategi pelayanan, serta pengalaman jemaat dalam menerima pelayanan berbasis teologi kontekstual.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pendeta dan jemaat, observasi partisipatif, serta analisis dokumen gereja. Analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi untuk memastikan validitas informasi dan temuan penelitian.
Teologi kontekstual merupakan pendekatan teologi yang menekankan relevansi Firman Tuhan terhadap konteks kehidupan jemaat. Pendekatan ini berkembang sebagai respon terhadap keterbatasan teologi universal yang seringkali mengabaikan pengalaman nyata masyarakat lokal. Menurut Bevans (2002), teologi kontekstual tidak hanya menafsirkan teks Alkitab, tetapi juga menempatkannya dalam dialog dengan budaya, ekonomi, politik, dan masalah sosial yang dihadapi jemaat.
Hiebert (1994) menekankan pentingnya cultural context dalam membentuk cara jemaat memahami Injil. Dalam praktiknya, teologi kontekstual mengharuskan pemimpin gereja memperhatikan konteks sosial, budaya, dan ekonomi jemaat untuk menjadikan pelayanan relevan dan transformatif.
Tantangan utama meliputi resistensi pemimpin gereja konservatif, kesulitan memahami budaya lokal, risiko akulturasi berlebihan, dan keterbatasan sumber daya pengajaran kontekstual.
Penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas teologi kontekstual dalam meningkatkan keterlibatan jemaat dan relevansi pelayanan (Hiebert, 1994; Bevans, 2002; Tan, 2015).
Penelitian dilakukan di beberapa gereja yang berada di wilayah perkotaan dan pedesaan. Wilayah ini ditandai dengan keberagaman etnis, budaya, dan agama, sehingga menjadi representatif untuk studi teologi kontekstual di lingkungan multikultural.
Labels: Christian Education, Character Education, Faith Development, Education and Character, Biblical Education, Moral Development
Education is not merely a process of transferring knowledge but a holistic endeavor aimed at shaping human character, values, and worldview. In contemporary society, education often emphasizes cognitive achievement, technological competence, and measurable outcomes, while neglecting moral and spiritual formation. This imbalance has contributed to a growing concern regarding ethical decline, identity confusion, and weakened character among young people.
Christian Religious Education, particularly Biblical Education, offers a distinctive approach by integrating faith, character, and learning into a unified educational vision. The Bible presents education as a formative journey that nurtures wisdom, obedience, and moral integrity. Proverbs 1:7 states that the fear of the Lord is the beginning of knowledge, indicating that spiritual orientation is foundational to authentic learning.
In the context of Christian education, faith growth is not limited to doctrinal understanding but includes the transformation of attitudes, behaviors, and character. Biblical narratives consistently portray education as relational and transformational, shaping individuals to live responsibly before God and society.
However, many educational practices today treat character education as a supplementary program rather than an integral framework. As a result, students may excel academically but lack ethical discernment and spiritual maturity. This condition highlights the urgent need to reposition Biblical Education as the foundation for holistic faith growth and character development.
The novelty of this study lies in its integrative framework that positions Biblical Education not merely as religious instruction but as a character-forming educational paradigm. Unlike conventional approaches that separate cognitive learning from moral development, this model emphasizes that character formation is inseparable from faith-based education.
Most existing studies on character education focus on secular moral values such as responsibility, respect, and citizenship. While valuable, these approaches often lack a transcendent foundation. This study introduces a biblical-theological perspective, asserting that authentic character formation is rooted in a living relationship with God and shaped through Scripture, community, and spiritual practice.
Another significant contribution is the reconceptualization of faith growth as an educational outcome. Faith development is often discussed in theological or pastoral contexts but rarely integrated into educational theory. This study bridges theology and pedagogy by framing faith growth as an intentional and assessable dimension of Christian education.
By integrating biblical theology, educational philosophy, and character education theory, this study offers a contextual and holistic model that responds to contemporary educational challenges while remaining faithful to Christian convictions.
A critical theoretical gap exists between Christian theology and modern educational practice. Although Christian theology strongly emphasizes moral transformation and character formation, many Christian educational institutions still rely on secular pedagogical models that prioritize academic performance over spiritual and ethical development.
Additionally, much of the literature on character education lacks explicit theological grounding, resulting in fragmented moral frameworks. Conversely, theological discussions on faith growth often overlook practical pedagogical strategies applicable within formal education systems.
This gap reveals the need for an integrated educational approach that unites Biblical Education, character formation, and pedagogical practice. The central focus of this study is to explore how Biblical Education can effectively foster faith growth and character development within Christian learning environments.
By addressing this gap, the study aims to provide a conceptual foundation for Christian educators to design learning experiences that cultivate intellectual competence, moral integrity, and spiritual maturity. Education, therefore, is affirmed not only as preparation for professional life but as a formative process shaping individuals of character and faith.
Keywords: Christian Education, Character Formation, Biblical Education, Faith Growth, Education and Character
Artikel ini menyajikan contoh skripsi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang membahas pendidikan biblika sebagai sarana pertumbuhan iman peserta didik. Uraian disusun secara sistematis mulai dari BAB I sampai BAB III dan dapat digunakan sebagai referensi akademik bagi mahasiswa PAK.
Pendidikan Agama Kristen merupakan proses pembentukan iman yang berakar pada Firman Allah dan diarahkan pada pertumbuhan rohani peserta didik. Dalam konteks gereja maupun lembaga pendidikan Kristen, pendidikan biblika memegang peranan penting karena Alkitab menjadi sumber utama ajaran iman Kristen.
Dalam praktiknya, pendidikan biblika sering kali masih berfokus pada penguasaan pengetahuan Alkitab secara kognitif, seperti membaca dan menghafal ayat, tanpa diikuti proses refleksi dan penerapan iman secara kontekstual. Akibatnya, peserta didik memiliki pengetahuan Alkitab, tetapi pertumbuhan iman mereka tidak selalu tampak dalam sikap dan perilaku hidup sehari-hari.
Selain itu, tantangan perkembangan zaman menuntut pendidikan biblika disampaikan secara lebih kontekstual. Peserta didik hidup dalam dunia yang plural dan digital, sehingga pembelajaran iman yang monoton dan tidak relevan dengan realitas kehidupan menjadi kurang efektif.
Pertumbuhan iman Kristen merupakan proses holistik yang mencakup pemahaman iman, penghayatan nilai Kristiani, dan perwujudan iman dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, pendidikan biblika seharusnya diarahkan secara sadar untuk menumbuhkan iman peserta didik, bukan sekadar meningkatkan pengetahuan keagamaan.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian tentang pendidikan biblika bagi pertumbuhan iman menjadi penting untuk dilakukan dalam konteks Pendidikan Agama Kristen.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pemahaman pendidikan biblika sebagai proses pedagogis-teologis yang secara langsung diarahkan pada pertumbuhan iman peserta didik. Pendidikan biblika tidak hanya dipahami sebagai transfer pengetahuan Alkitab, tetapi sebagai sarana pembentukan iman yang holistik.
Penelitian ini juga menekankan peran guru Pendidikan Agama Kristen sebagai paidagōgos, yaitu pembimbing iman yang menuntun peserta didik menuju kedewasaan rohani.
Berbagai penelitian sebelumnya lebih banyak menekankan pendidikan biblika dari sisi metode pengajaran atau penguasaan materi Alkitab. Kajian yang secara khusus mengaitkan pendidikan biblika dengan pertumbuhan iman peserta didik secara holistik masih relatif terbatas.
Selain itu, terdapat kesenjangan antara konsep teologis tentang pertumbuhan iman dan praktik pendidikan biblika di lapangan. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut.
Pendidikan biblika merupakan bagian integral dari Pendidikan Agama Kristen yang menempatkan Alkitab sebagai sumber utama pembelajaran iman. Pendidikan ini bertujuan menolong peserta didik memahami Firman Tuhan dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.
Dasar pendidikan biblika dapat ditemukan dalam Ulangan 6:4–9 yang menegaskan pentingnya pengajaran Firman Tuhan secara berkelanjutan dalam kehidupan umat Allah.
Dalam 2 Timotius 3:16–17 ditegaskan bahwa seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar serta mendidik dalam kebenaran. Ayat ini menunjukkan fungsi edukatif dan transformatif Firman Tuhan.
Yesus Kristus sebagai Guru Agung memberikan teladan pengajaran yang bersifat relasional, kontekstual, dan transformatif.
Pertumbuhan iman Kristen merupakan proses menuju kedewasaan rohani. Efesus 4:13 menegaskan bahwa tujuan pertumbuhan iman adalah mencapai kedewasaan penuh dan keserupaan dengan Kristus.
Indikator pertumbuhan iman meliputi pemahaman Firman Tuhan, sikap iman yang tercermin dalam kasih dan ketaatan, serta perilaku hidup yang sesuai dengan nilai Kristiani.
Pendidikan biblika memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan iman peserta didik. Melalui pembelajaran Alkitab yang terencana dan kontekstual, peserta didik dibimbing untuk menghayati iman secara nyata.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan pelaksanaan pendidikan biblika dan kaitannya dengan pertumbuhan iman peserta didik dalam konteks Pendidikan Agama Kristen.
Lokasi penelitian dilakukan di gereja atau lembaga pendidikan Kristen. Subjek penelitian meliputi peserta didik dan guru Pendidikan Agama Kristen yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan biblika.
Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi guna memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai pelaksanaan pendidikan biblika.
Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengelompokkan dan menafsirkan data berdasarkan tema-tema yang berkaitan dengan pendidikan biblika dan pertumbuhan iman.
Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
The relationship between humans and the natural environment has become increasingly complex in modern times. Ecological crises such as climate change, pollution, deforestation, and biodiversity loss demand a deep theological reflection. Christian Eco-Theology emerges as a discipline emphasizing human responsibility toward God's creation, integrating faith, ethics, and practical action.
For theology students, understanding eco-theology is not merely theoretical; it provides a practical foundation for developing ministry and actions that care for both the environment and communities.
Gap: Research on eco-theology applications in Indonesia is still limited, particularly in theological education and church ministry.
Novelty: This study presents an integrative model of theory, practice, and spiritual reflection that is contextual, relevant for students, and applicable to theological education and church ministry.
Chapter I highlights the urgency of Christian Eco-Theology in theological education, emphasizing both theoretical gaps and novel contributions. Applying eco-theology strengthens faith while fostering ecological awareness for ministry and daily life.
Christian Eco-Theology examines the relationship between faith and human responsibility toward God’s creation. It integrates theological principles, ecological ethics, and practical actions.
Chapter II emphasizes that Christian Eco-Theology has a strong theological basis and high relevance for theological education. Principles such as stewardship and cosmic harmony provide students with a holistic ecological awareness framework.
Integrating eco-theology into theological curricula equips students to understand the connection between Christian faith and ecological responsibility, emphasizing theory, practice, and spiritual reflection.
Curricula based on eco-theology prepare students as Christian leaders aware of ecological issues, linking faith, knowledge, and concrete action.
Worship and prayer serve as tools for building ecological awareness. Students learn that caring for nature is part of active faith.
Worship and prayer practices develop ecological awareness among students and congregations, offering opportunities for research and innovative theological education grounded in faith and environmental care.
This chapter emphasizes the implementation of eco-theology in local churches, illustrating how eco-theological principles are applied in ministry, worship, and theological education.
Eco-theology implementation in Indonesian churches demonstrates real impacts on student and congregational ecological awareness. Theoretical gaps provide opportunities for innovation, while novelty lies in integrating theory, practice, worship, prayer, and community action. Theology students can act as ecological change agents, and churches become centers of contextual and relevant ecological transformation.
Pemahaman manusia tentang alam dan lingkungan hidup semakin kompleks di era modern. Krisis ekologis seperti perubahan iklim, polusi, deforestasi, dan hilangnya keanekaragaman hayati menuntut refleksi teologis yang mendalam. Eko-teologi Kristen hadir sebagai disiplin yang menekankan tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan, menghubungkan iman, etika, dan tindakan nyata.
Bagi mahasiswa Program Studi Teologi, memahami eko-teologi bukan hanya teori, tetapi menjadi landasan praktis untuk membentuk pelayanan yang peduli terhadap alam, masyarakat, dan kesejahteraan bersama.
Gap Teori: Studi penerapan eko-teologi di Indonesia masih terbatas, khususnya pada pendidikan mahasiswa teologi dan pelayanan gereja. Evaluasi dampak praktisnya jarang dilakukan secara sistematis.
Novelty: Penelitian ini menawarkan model integrasi teori, praktik, dan refleksi spiritual yang kontekstual, relevan bagi mahasiswa, dan dapat diterapkan dalam pendidikan teologi maupun pelayanan gereja.
Bab I menekankan urgensi eko-teologi Kristen dalam pendidikan teologi, khususnya bagi mahasiswa. Gap teori dan novelty penelitian menunjukkan bahwa pengembangan eko-teologi kontekstual masih terbuka lebar. Penerapan eko-teologi memperkuat iman sekaligus membentuk kesadaran ekologis yang relevan bagi pelayanan dan kehidupan sehari-hari.
Eko-teologi Kristen adalah studi tentang hubungan iman dan tanggung jawab manusia terhadap alam ciptaan Tuhan. Fokusnya adalah integrasi prinsip teologis, etika ekologis, dan tindakan nyata.
Bab II menekankan bahwa eko-teologi Kristen memiliki dasar teologis kuat dan relevansi tinggi untuk pendidikan teologi. Prinsip stewardship dan shalom kosmik menjadi landasan bagi mahasiswa dalam mengembangkan kesadaran ekologis yang holistik.
Integrasi eko-teologi dalam kurikulum pendidikan teologi membekali mahasiswa untuk memahami hubungan iman Kristen dan tanggung jawab ekologis. Kurikulum ini menekankan teori, praktik, dan refleksi spiritual.
Kurikulum berbasis eko-teologi menyiapkan mahasiswa menjadi pemimpin Kristen yang sadar ekologis, menghubungkan iman, ilmu, dan tindakan nyata.
Ibadah dan doa menjadi sarana membangun kesadaran ekologis. Mahasiswa memahami bahwa kepedulian terhadap alam adalah bagian dari iman yang aktif.
Praktik ibadah dan doa membangun kesadaran ekologis mahasiswa dan jemaat, membuka peluang penelitian dan inovasi pendidikan teologi berbasis iman dan lingkungan.
Bab ini menekankan implementasi eko-teologi di gereja lokal, memberikan gambaran nyata prinsip eko-teologi diterapkan dalam pelayanan, ibadah, dan pendidikan teologi.
Implementasi eko-teologi di gereja Indonesia menunjukkan dampak nyata pada kesadaran ekologis jemaat dan mahasiswa. Gap teori membuka peluang inovasi, sementara novelty penelitian terletak pada integrasi teori, praktik, ibadah, doa, dan aksi komunitas. Mahasiswa Program Studi Teologi dapat belajar menjadi agen perubahan ekologis berbasis iman, dan gereja menjadi pusat transformasi ekologis yang kontekstual dan relevan.