Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2024 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Sunday, April 29, 2018

Cara membuat Form Kontak dengan powr.io


Hari ini Minggu, 29/4 2018 saya menemukan sebuah jawaban dari apa yang terjadi dengan blog saya. Di blog saya ada berita seperti ini:Gadget This content is not yet available over encrypted connections. Saya kemudian mencari informasi yang kisahnya secara singkat saya tuturkan sebagai berikut.
Membuat blog dan mengisi dengan sejumlah postingan berkualitas (baca: berguna bagi pengunjung bog) tentu menjadi dambaan para blogger. Bila postingan-postingan di blog menjadi ramai dikunjungi pengunjung maka pemilik blog pasti bersukacita karena karyanya melalui dunia online telah berguna bagi orang banyak. Ramainya pengunjung akan menjadi daya dorong tersendiri untuk terus menulis dan mempublikasi artikel bermanfaat di blog.
Menulis di blog tentu berbeda dengan menulis dan mempublikasi di website. Dikatakan demikian karena di blog penulis dan pengunjung blog dapat berinteraksi melalui fasilitas "Komentar" yang ada di akhir postingan. Sering juga ada pengunjung yang ingin berkonsultasi atau menayakan sesuatu yang sifatnya tidak ingin disampaikan di kolom komentar tetapi mealui kolom khusus di blog. Kolom khusus ini kita namakan dengan kontak form. Melaui kontak form, kita sediakan beberapa pilihan: seperti email, nama dan hal-hal yang hendak ditanyakan. Setelah itu, pengunjung blog dapat submit kemudian pemilik blog dapat membalasnya.
Untuk membuat form kontak, kita bisa gunakan beberapa pilihan, yaitu:
1. Google drive. Fasilitas ini sudah menyatu dengan email dari gmail yang kita gunakan.Tentu bagi mereka yang menggunakan email dari ...gmail

2. Powr.io. Saya baru kenal situs ini setelah di blog saya mengalami beberapa pemberitahuan tentang hal ini: Gadget This content is not yet available over encrypted connections. Saya kemudian mencari informasi dan menemukan satu situs yang menjelaskan tentang cara mengatasi masalah ini. Namun sebenarnya saya kurang teliti, seharusnya saya tinggal menghapus gadget tidak valid. Walau begitu, informasi di powr.id menolong saya untuk membuat sebuat kontak form yang lebih baik. Kontak Form itu saya tempatkan di bilah kanan paling bawah blog ini.

Jadi bila teman-teman blogger mengalami pesan seperti ini:Gadget This content is not yet available over encrypted connectionsdi blog maka perhatikan dengan teliti. Apakah dihapus gadget yang ada atau memasang kode html dari powr.io. Saran saya adalah perhatikan secara teliti dan hapus gadget yang bermasalah. Khususnya bila teman-teman sedang mendaftar ke Google Adsense dan sedang dalam masa approve. Sayapun mengalami dalam blog ini. Ada beberapa gadget yang bermasalah dan saya harus menghapusnya.
Sekarang saya lanjutkan dengan informasi membuat kontak form dengan powr.io dengan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Mendaftar secara gratis di Powr.io
2. Masukan email yang masih aktif
3. Mengisi pasword khusus untuk powr.io
4. Klik Sign Up For Free
5. Masuk ke dashboard untuk membuat Contact Form
6. Klik contact form yang dibuat untuk dapat kode HTML
7. Copy kode HTML
8. Masuk ke laman Blog
9. Cari Gadget
10. Klik dan masukan kode html
11. Simpan
12. lihat hasil
Selesai

Demikian informasi dari saya, semoga menjadi bermanfaat.

Salam
Yonas Muanley

Thursday, April 26, 2018

Cara Membuat Kode Button

Cara membuat kode button yang dimaksud disini yakni kita membuat sebuah kotak yang didalamnya memuat kata yang kita pakai untuk menuju link website yang dituju. Misalnya kita membuat link downoad, link jualan online dll maka kita dapat menggunakan button. Caranya nanti saya sampaikan pada refisi berikutnya. Ini disebabkan karena ada kode-kode html/hml yang harus dimunculkan di laman blog. Tentu ini ada cara tersendiri. Jadi caranya nanti saya beritahu, sekarang lihat contohnya dulu.

Contoh 1:



Contoh 2:



Bila kompetensi Guru Pendidikan Agama Kristen dapat dikembangkan untuk menguasai Teknologi Pembeajaran berbasis weblog seperti memanfaatkan blogspot maka salah satu yang dapat dijadikan sebagai variabel penelitian yakni: Kode Button.
Kode ini dapat dikembangkan secara kreatif dan inovatif. Tentu Guru PAK dapat lakukan secara mandiri dengan menjadikan internet sebagai guru.

Sekarang perhatikan krteria interpretasi skor berikut ini:
Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan untuk data atau item No. 2
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 10 menjawab 5 : 10 x 5 = 50
Jumlah skor untuk 5 menjawab 4 : 5 x 4 = 20
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 70
Jumlah skor ideal untuk item No. 2 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.2) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 70/75 x 100 % = 93,33 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.1 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat
Perhitungan untuk data atau item No. 3
Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 7 menjawab 5 : 7 x 5 = 35
Jumlah skor untuk 4 menjawab 4 : 7 x 4 = 28
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 1 menjawab 2 : 1 x 2 = 2
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 65
Jumlah skor ideal untuk item No. 3 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)

Jadi, berdasarkan data (item No.3) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 65/75 x 100 % = 86,66 dibulatkan menjadi 87 % tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.3 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor
Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Perhitungan untuk data atau item No. 4

Perhitungan Skor Penelitian ....
Jumlah skor untuk 10 menjawab 5 : 10 x 5 = 50
Jumlah skor untuk 5 menjawab 4 : 5 x 4 = 20
Jumlah skor untuk 0 menjawab 3 : 0 x 3 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 2 : 0 x 2 = 0
Jumlah skor untuk 0 menjawab 1 : 0 x 1 = 0
Jumlah = 70

Jumlah skor ideal untuk item No. 4 (skor tertinggi ) = 5 x 15 = 75 (SS)
Jumlah skor terendah 1 x 15 = 15 (TS)


Jadi, berdasarkan data (item No.4) yang diperoleh dari 15 responden maka Kepemimpinan .... yaitu 70/75 x 100 % = 93,33 tergolong Sangat Kuat. Presentase kelompok responden untuk item No.4 dapat dilihat sebagai berikut.

Data di atas didasarkan pada kriteria interpretasi Skor

Angka 0% - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21% - 40 % = Lemah
Angka 41% - 60% = Cukup
Angka 61% - 80% = Kuat
Angka 81% - 100% = Sangat Kuat

Semoga berkenaan

Wednesday, April 25, 2018

Perjuangan Membuahkan Hasil


Saya bergembira malam dan sampai subuh 26/4 2018 pukul 3.00 karena blog ini berhasil disehatkan dari link-link iklan yang sering mengganggu pengunjung. Sering membuka blog ini dan dialihkan ke laman website tertentu, sekarang tidak lagi. Saya tes berulang-ulang di laptop saya dan hasilnya klik di blog tidak lagi membawa ke halaman-halaman website tertentu yang mempromosikan iklan dari web yang bersangkutan. Tentunya slamat tinggal link-link yang sedikit mengganggu kenyamanan mengakses blog. Sekaligus menjadi pelajaran terindah untuk berhati-hati menjadi publisher.

Saturday, April 21, 2018

Contoh Bab I Skripsi dan Tesis

Apakah Anda mencari inspirasi untuk mendapat judul skripsi dan tesis untuk memulai sebuah usulan judul karya ilmiah seperti Skripsi dan Tesis, maka Anda tepat berada dalam weblog ini. Selanjutnya tentu Anda juga butuh contoh bab I yang akan menolong Anda dalam mewujudkan Bab I. Disini kami menyajikan contoh Bab I Skripsi dan Tesis. Semoga menginspirasi. Silakan baca Judul (Isi .... dengan nama Gereja tempat di mana Anda mengadakan penelitian) dan Contoh Bab 1 berikut ini. Ingat penelitian harus punya tempat penelitian (orang-orang atau populasi penelitian). Hal ini disebabkan karena pengetahuan yang benar adalah hasil kebenaran rasional (baca buku dan dapat pengetahuan tentang variabel yang diteliti) dan kebenaran empiris (fakta lapangan/pengetahuan yang diperoleh dari jawaban responden/pengamatan kita terhadap orang-orang yang kita teliti). Metodologi yang dipakai bisa kuantitatif maupun kualitatif. Baik kuantitatif dan kualitatif sama-sama memerlukan populasi peneitian (mengadakan peneitian lapangan). Sekarang baca Contoh Bab I dan Skripsi dan Tesis berikut ini.

MENJADI PENTAKOSTALISME
TERHADAP PERTUMBUHAN GEREJA ....

BAB I
PENDAHULUAN

Beberapa pokok yang dibahas dalam bab ini: Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Metode Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Definisi Istilah, dan Sistematika Penelitian. Setiap pokok itu dijelaskan sebagai berikut.

A. Latar Belakang Masalah

Gereja Pentakosta memiliki pengaruh perkembangan yang signifikan di dunia. Pengaruh ini tentu karena karya Allah Tritunggal dalam diri anggota gereja Pentakosta, khususnya semangat penekanan kepenuhan Roh Kudus atau pengalaman dipenuhi Roh.

Dalam sejarah Pentakosta, kelahirannya dihubungkan dengan pergumulan spiritualitas pada masa lampau, yaitu pengamatan atas fakta daam kehidupan gereja kala itu terjebak kepada formalisasi, doktrinisasi dan pemetodean penghayatan iman kepada Yesus Kristus serta kurangnya pengalaman yang dinamis dengan Roh. Pengalaman dinamis yang dimaksud yaitu penghayatan akan firman TUHAN, pengalaman yang hidup, kesederhanaan, spontanitas, serta komitmen untuk mewujudnyatakan Firman TUHAN dalam kehidupan sehari-hari. Inilah roh atau spiritualitas Pentakostal. Jadi, dalam gereja Pentakosta, spiritualitas merupakan cirri yang melekat dan selalu menjadi indicator mengenal pentakostalisme.

Di atas telah dideskripsikan bahwa pada awal gerakan Pentakosta, penekanan utama adalah pada aspek praktis dari firman TUHAN yang dibaca, didengar dan direnungkan, ketimbang formulasi doktrin tentang isi kepercayaan. Dengan demikian yang diutamakan adalah pengalaman pada karya Rohkudus, penekanan pada kepenuhan Roh Kudus atau pengalaman baptisan Roh berimplikasi pada bahasa Roh. Bahasa Roh yang dimaksud disini seperti Kisah Para Rasul 2 dan I Korintus 14.

Dalam kasus kepenuhan Roh yang diceritakan dalam Kis 2, para murid Yesus dan orang-orang yang berkumpul bersama mereka di Yerusalem menggunakan bahasa yang dimengerti tetapi tidak dipelajari sebelumnya. Mereka mengalami kemampuan berbicara dalam bahasa lain karena pencurahan Roh Kudus. Kemudian dalam Korintus (lihat I Korintus 14), anggota jemaat mendapat karunia berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti. Kasus ini berbeda dengan kasus di Yerusaem. Selanjutnya dalam gerakan Pentakosta, gerakan ini disebut “Bahasa Roh”.

Bahasa Roh yang ditekankan dalam gerakan Pentakosta, telah diwariskan atau dipraktikkan gereja Pentakosta di berbagai tempat di dunia ini, khususnya di Indonesia. Pengalaman itu tentu didasari atas penafsiran terhadap teks I Korintus 14 dan reaitas bahasa Roh pada mereka yang telah mengalaminya dan ikut mempengaruhi anggota gereja Pentakosta. Dalam hal ini ada pengaruh pemahaman teks dan realsasi teks dalam kehidupan nyata. Tentu pemahaman teks I Korintus 14 juga bukanlah hal yang mudah. Hal ini memerlukan pendekatan biblika atas teks yang menjadi dasar pengalaman Bahasa Roh. Walaupun begitu, kenyataan menunjukkan bahwa ada anggota berbicara dalam bahasa-bahasa yang tidak dapat dimengerti sesamanya dan dirinya juga tidak memahaminya, namun ada gerakan yang mendorong diucapkannya kata-kata yang tidak dimengerti.

Fakta tentang ajaran kepenuhan Roh (Baptisan Roh) dan Bahasa Roh yang ditekankan dalam gereja Pentakosta, khususnya “berbahasa Roh” namun yang menjadi masalah yaitu beberapa gereja menyatakan bahwa, bahasa roh telah membangkitkan gereja, sementara yang lain mengamati bahwa bahasa roh telah menyebabkan kekacauan. Disini jelas, ada pro dan kontra. Ada kelompok Kristen yang menyatakan bahasa roh menumbuh kembangkan gereja, namun yang lain menyatakan bahwa hal itu menyebabkan ketidakteraturan atau kekacauan.

Selain itu adanya anggapan bahwa klaim kaum Pentakosta atas pengalaman dalam baptisan Roh atau bahasa roh telah menyebabkan suatu kontroversi yang serius dan meluas di antara cabang-cabang Gereja Kristen, terutama sekali sejak kelahiran Gerakan Karismatik pada tahun 1960-an.

Perdebatan di sekita bahasa roh telah ada dalam beberapa literature Kristen. Buku-buku Kristen yang membahas tentang bahasa roh juga dikelompokkan dalam dua kubu, ada yang membela bahasa roh, ada pula yang menyerang bahasa roh. Perdebatan itu tentu menjadi salah satu sebab perpecahan di gereja-gereja lokal maupun di tingkat denominasi yang lebih besar. Sementara isi syafaat Yesus agar umat-Nya menjadi satu.

Berbagai penilaian di atas merupakan hak setiap orang untuk menilai, namun yang jelas bahwa upaya untuk memahami gerakan pentakosta dengan segala kebenaran yang terkandung dalam gerakan Pentakosta yang merupakan pengalaman terindah dengan Roh Kudus harus menjadi bagian yang penting dari denominasi Pentakosta, sebab gerakan ini berdiri dan berkembang di atas dasar firman Tuhan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah penelitian yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana cirri pentakosta ?
2. Apa penekanan Pentakosta?
3. Bagaimana sejarah gerakan pentakosta?
4. Bagaimana menjadi pentakostalisme?
5. Bagaimana implikasinya terhadap pertumbuhan gereja?

C. Batasan Masalah

Identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas memperjelas bahwa ada banyak masalah yang perlu diteliti. Namun karena berbagai keterbatasan yang ada pada point 4 dan 5, yaitu menjadi pentakostalisme dan pertumbuhan gereja yang dirumuskan menjadi variabel penelitian Menjadi Pentakostalisme terhadap Pertumbuhan Gereja A

D. Rumusan Masalah

Adapun pertanyaan pengarah dalam peneitian ini yakni: Bagaimana menjadi pentakostalisme terhadap Pertumbuhan Gereja A
E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritik Manfaat penelitian ini berkenaan dengan aspek teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini berguna bagi disiplin ilmu teologi, khsusunya teologi pentakosta. Orang Pentakosta mesti berteologi secara pentakostalisme (dipengaruhi gerakan kepeunuhan roh dan bahasa roh) dalam konteks pentakosta yang bersifat biblika maupun konteks (gerakan pentakosta dalam kosteks kekinian)

2. Manfaat Praktika

Secara praktika, penelitian ini memiliki manfaat praktis yaitu memberi kontribusi praktis kepada kaum Pentakosta dalam meneruskan semangat pentakostal yang berkait dengan pengalaman dibaptis Roh dan hidup dalam karunia-karunia Roh termasuk penggunaan bahasa untuk pekabaran Injil. Identifikasi ini sesuai dengan pengalaman Pentakosta yaitu para murid menggunakan berbagai bahasa untuk memberitakan perbuatan Tuhan yang ajaib sebagaimana yang muncul dalam homilia Petrus pada saat pentakosta.

Catatan Metodologi:

lanjutan dari komentar awal. Dalam penelitian kuantitatif dipakai kuesioner untuk mendapatkan data/pengetahuan yang kita peroleh dari kuesioner yang kita bagikan kepada responden. Jawaban responden ini akan kita olah pakai analisis statitistik. Berdasarkan hasil olah data statistik dan komntar kita atas data tersebut yang kita muat dalam bab III dan IV, menjadi sebuah pengetahuan yang benar tentang variabel yang diteliti. Pertanyaan kita dalam quesioner atau angkek itu merupakan inti dari isi skripsi atau tesis yang kita simpulkan dalam definisi yang disebut konstruk penelitian (definisi kita) yang tersimpul dari uraian terhadap setiap variabel. Konstruk ini kemudian kita buat lagi menjadi definisi konseptual dan operasional atas setiap variabel penelitian. Ini biasanya kita lakukan di Bab III. Dalam definisi operasional mesti ada dimensi dan indikator. dari indikator-indikator inilah kita susun pertanyaan atau pernyataan untuk dijawab oleh responden. Jawaban responden itu saya sebut "Kebenaran empiris" atau pengetahuan yang kita peroleh berdasarkan informasi responden. sementara kebenaran rasional adalah pengetahuan yang kita peroleh dari buku tentang pokok yang kita teliti.Disini, pengetahuan yang kita peroleh itu tidak hanya berdasarkan buku tetapi berdasarkan juga fakta lapangan (tempat penelitian).

Misanya kita meneiti tentang Pemuda terkuat di Gereja A di kota A
Dalam Bab II kita bahas tentang Pemuda terkuat menurut buku. Setelah kita membaca 50 buku (lihat syarat daftar pustaka untuk S1 dan S2), kita mendapat jawaban tentang pemuda terkuat menurut penulis buku. Setelah kita membahas Bab II berdasarkan buku dan jurnal, kita mendapat pengetahuan yang benar tentang pemuda terkuat. Setelah itu kita membuat angket untuk disebarkan kepada pemuda untuk diisinya. Hasilnya kita olah dan kemukakan di BAB IV. Di Bab IV adalah hasil pengetahuan yang benar dari membaca buku dan hasil lapangan. Jadi kebenaran pengetahuan adalah perpaduan yang rasional dan empiris. Namun ini hanya pada tataran menguji teori. Belum menemukan teori. Jika mau menemukan teori maka pakailah penelitian kualitatif.

Misalnya pemuda terkuat di Gereja A. Ketika kita membaca buku ternyata pemuda terkuat adalah orang yang memiliki kemampuan memikul sebuah beban 200 kg. Namun ketika diadakan pengamatan lapangan di Gereja A, ternyata ada seorang pemuda yang kurus (badannya tidak gemuk) tetapi memiliki kemampuan memikul beban 250 Kg. Disini mulai ditemukan sebuah fakta baru yang tidak sesuai dengan bacaan buku. Fakta ini dikembangkan menjadi sebuah penemuan teori. Untuk Populasi, penelitian kuantitatif membutuhkan jumlah populasi penelitian yang banyak (lihat ketentuan statistik), sementara dalam penelitian kuaitatif, jumlah responden tidak harus banyak. Bisa dimulai dengan jumlah yang kecil bahkan berdasarkan 1 orang tetapi ia dianggap sebagai orang kunci. Misalnya ketika terjadi tawuran masal dan terjadi korban, pihak kemanan akan mengambil siapa saja yang ada di lokasi tawuran kemudian akan diinterogasi. Dari interogasi tersebut akan berkembang menjadi banyak, bahkan akan menemukan siapa pelakunya. Sedangkan orang yang tidak terlibat dilepas. Kira-kira itu penelitian kualitatif.

Semoga menginspirasi.

Thursday, April 19, 2018

Pemeliharaan Kesehatan Blog

Kesehatan tidak hanya berlaku pada manusia tetapi juga pada aspek-aspek yang lain. Ada yang disebut kesehatan kantong, kesehatan dapur, kesehatan perbankan, kesehatan keuangan dan lain-lain. Dalam konteks ini saya ingin menyampaikan bahwa saya telah melakukan tindakan menyehatkan kesehatan blog. Tindakan yang dimaksud, yaitu:
1. Melepaskan kode iklan kode iklan yang dipasang dalam blog
2. Mencari artikel yang terhubung dengan kemungkinan disusupi koneksi iklan yang membahayakan  atau menyebabkan firus komputer
3.  Melepas kode-kode html iklan yang mempengaruhi pada waktu mengunjungi bog
4. Beberapa kode yang dipertahankan yakni dari GOOGLE
3. Tindakan ini bertujuan untuk pemeliharaan kesehatan blog
4. Saya telah melakukan tindakan kesehatan terhadap blog pada beberapa minggu yang sudah lewat,  malam ini secara tota memeriksa seuruh artikel dalam blog
5. Kiranya bog ini tetap sehat dan berguna bagi pengunjung. Hidup ini harus jadi berkat (Doa Yabes)

Thomas H. Groome, dalam Daniel Nuhamara mengklaim bahwa iman sebagai yang utama, maksudnya disini adalah iman merupakan inti manusia yang mendasar, disposisi fundamental dan membentuk segala sesuatu yang datang setelah iman.” Iman Kristen sebagai suatu pengalaman yang nyata mempunyai tiga dimensi yang esensial, yakni:1). Suatu keyakinan / kepercayaan; 2). Suatu hubungan memercayakan diri; 3).Suatu kehidupan yang dijalani dalam kasih agape (Daniel Nuhamara, 2007: 43)

1. Iman sebagai kepercayaan (Believing)

Iman Kristen lebih dari sekedar kepercayaan, walaupun demikian harus dikatakan bahwa iman Kristen mempunyai dimensi kepercayaan apabila ia mendapatkan perwujudannya dalam kehidupan manusia. Aktivitas dari iman Kristen menghendaki agar didalamnya ada suatu keyakinan dan percaya tentang kebenaran-kebenaran yang diakui sebagai esensi dalam iman kristiani. Dimensi iman sebagai kepercayaan tertuju pada dimensi kognitif.

2. Iman sebagai keyakinan (Trusting)

Dimensi iman sebagai keyakinan tertuju pada dimensi afektif yaitu mengambil bentuk dalam hubungan mempercayakan diri, serta yakin akan Allah secara pribadi, yang menyelamatkan melalui Yesus Kristus.
3. Iman sebagai tindakan (Doing)
Iman Kristen sebagai suatu respons terhadap kerajaan Allah dalam Yesus Kristus, harus mencakup pelaksanaan kehendak Allah. Dimensi tindakan ini memperoleh perwujudan dalam kehidupan yang dijalani dalam kasih agape, yakni mengasahi Allah dengan jalan mengasihi sesama manusia.

Pembahasan Pertumbuhan Iman
Pertumbuhan iman adalah suatu proses dimana seseorang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (Yohanes 1:12), diberi kuasa jadi anak Allah, lalu rindu mendengar, menerima dan memahami kebenaran Firman Allah dalam hidupnya setiap hari (1 Korintus 10:17), selanjutnya di dalam diri orang tersebut, kebenaran Firman Tuhan mengakar dan bertumbuh hingga dapat menghasilkan buah yang sesuai dengan kehendak Allah (Matius 3:8). Nacy Poyah mengatakan dalam bukunya bahwa: “Hidup di dalam iman kepada Kristus bagaikan tunas yang baru, terus bertumbuh dan berbuah. Bertumbuh dalam pengenalan yang benar akan Allah, sehingga hidup umat berkenan kepada Allah dalam segala hal dan terus mengarah kepada Kristus (Efesus 4:13-16). Berbuah dalam kesaksian hidup yang baik, untuk memuliakan namaNya (Yohanes 15:7; Efesus 2:10)”( Nacy Poyah & Bentty Simanjuntak, 2004: 30)
1. Iman timbul dari pendengaran oleh Firman Kristus.(Rom. 10:17)
2. Iman timbul dari Berita Injil, (Filp 1:27).
Bagaimana iman dapat tumbuh, sebagai contohnya dapat dilihat pada kisah seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun (Mark. 5:25-29) Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: “Asal ku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Kalimat “Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus,” menjelaskan darimana iman perempuan itu mulai tumbuh. Kabar-kabar yang dia dengar dari banyak orang bahwa Yesus menyembuhkan semua orang dan semua penyakit membuat perempuan malang itu memiliki harapan baru dan keyakinan baru bahwa penyakitnya pasti dapat sembuh asalkan dia ketemu Yesus Kristus, bahkan dia berkata dalam hati “Asal ku jamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (ayat 28).
Menurut Ichwei G. Indra, dalam Alkitab sedikitnya terdapat 7 cara yang dapat menguatkan iman, yakni (Ichwei G. Indra, 1993: 15)
1.Ucapan syukur kepada Allah (Mzm 50:23). Salah satu cara untuk dapat menguatkan iman adalah dengan menaikkan pujian dan menyampaikan ucapan syukur kepada Allah.
2.Mengakui Dosa Kepada Allah (Mzm.32:3, 5). Ketika Daud memberitahukan dosa dan salahnya kepada Allah, ia bukan hanya beroleh pengampunan dosa, tetapi imannya juga dikuatkan.
3.Berdoa Kepada Allah (Yes.40:31). Berdoa adalah hal yang paling penting, apalagi saat menantikan Tuhan dengan tenang dan teratur didalam doa. Tanpa berdoa, iman tidak akan ada.
4.Berpegang pada Firman Allah (Roma 10:17). Iman timbul dari pendengaran, jika menginginkan iman tumbuh dan dikuatkan, renungkanlah dan berpeganglah selalu pada Firman Allah.
5.Gunakanlah Iman (Mat.25:29). Iman harus digunakan, maka kehidupan akan berkemenangan setiap hari.
6.Saksikanlah Iman (Rm.10:10). Maksudnya adalah kesaksian tentang apa yang telah dilakukan Allah.
7.Layanilah dengan Iman (Yak.2:17). Bekerja terus dan melayani Tuhan dan sesama dengan bersandar kepada pimpinan Roh kudus yang senantiasa memberikan kekuatan iman.
Dalam buku Pendidikan Agama Kristen ‘Hidup dalam Anugrah-Nya’ dirangkum beberapa cara untuk menumbuhkan iman agar dapat terus hidup dalam Yesus Kristus dan bahkan berbuah sesuai dengan yang diharapkan-Nya, yakni sebagai berikut:
1.Berdoa, Martin Luther menyebut doa adalah nafas hidup orang percaya. Dalam doa dapat menyampaikan pengakuan akan kuasa dan kemuliaan serta kekudusan Tuhan, pergumulan sebagai orang beriman, dan juga memohon pengampunan dosa kepadaNya.
2.Membaca Firman Tuhan. Manusia mengenal Allah yang menyatakan diriNya dalam sejarah keselamatan melalui Firman dan karyaNya. KaryaNya dinyatakan melalui para nabi dan utusannya, dan dikumpulkan dalam Alkitab. Membaca Alkitab adalah upaya dalam mengenal Allah, menggali yang kehendak Allah
. 3.Beribadah. Ibadah adalah pengabdian hidup dan pelayanan terhadap Tuhan dan sesama. Ibadah adalah aktivitas hidup beriman. Ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan (Kelompok Kerja PAK-PGI, 2004: 30)


Salam
Yonas Muanley

Keteladanan Orangtua

Variabel Keteladanan Orangtua


Keluarga adalah pewujud kehendak Allah. Banyak pasal dalam Alkitab yang dapat dijadikan dasar yang kuat untuk membuktikan bahwa keluarga adalah penyelamat dunia. Keluaran 2 menceritakan tentang kelahiran Musa. Bangsa Israel yang mengalami penindasan oleh bangsa Mesir akhirnya diselamatkan Tuhan melalui Musa. Demikian pula Hakim-hakim 13 menceritakan latar belakang kelahiran Simson yang membawa pembebasan bangsa Israel atas dari penindasan bangsa Filistin. Alkitab selalu menulis proses kelahiran seseorang (bahkan kelahiran Yesus Kristus) untuk menyelamatkan suatu bangsa. Dari beberapa contoh ini dapat disimpulkan bahwa keluarga di mata Tuhan merupakan suatu lembaga yang dipersiapkan untuk menyelamatkan bangsa/dunia, oleh karenanya, orangtua harus berperan maksimal dalam keluarga.


1. Konsep Keteladan Orangtua


Meniru, dinamis dan berkreasi merupakan karakteristik anak. Pembentukan perilaku anak terjadi melalui peniruan dari apa yang anak saksikan di sekitarnya. Anak selalu terdorong untuk aktif melakukan berbagai aktivitas dalam eksplorasi diri dan lingkungannya. Begitu pula anak selalu aktif untuk melakukan berbagai kegiatan yang mungkin sifatnya baru dan ingin mencoba. Hal itu terjadi karena besarnya dorongan anak untuk mengenal segala sesuatu di lingkungannya.

Berkaitan dengan karakteristik di atas, dalam memberikan pendidikan kepada anak, orangtua hendaknya menjadi sumber keteladanan bagi anak. Anak akan dengan mudah mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya baik melalui perkataan maupun perbuatan; oleh karenanya orangtua harus selalu memberikan contoh hidup sebagai keteladanan baik berupa dorongan maupun motivasi untuk melakukan hal-hal yang positif dan menghindari hal-hal yang negatif.

Mendidik anak merupakan salah satu tugas kewajiban orangtua sebagai konsekwensi dari komitmennya untuk membina rumah tangga melalui pernikahan. Anak yang lahir ke dunia pada hakikatnya merupakan titipan dari Tuhan kepada orangtua untuk dididik dan disiapkan bagi peranannya di masa yang akan datang. Kondisi dan kualitas kehidupan seseorang, khususnya seorang anak di masa yang akan datang sangat bergantung pada sejauh mana orang tua telah menanamkan investasinya melalui teladan hidup bagi anak-anaknya. Orangtua yang akan menikmati kebahagiaan di hari tuanya adalah orangtua yang sejak dini telah memberikan teladan hidup bagi anak-anaknya melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan bermakna.

Anak lahir ke dunia dalam keadaan tidak berdaya, meskipun sebenarnya sudah membawa sejumlah potensi sebagai bekal untuk kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Dalam ketidakberdayaan itulah orangtua diharapkan mampu memberikan pengaruh yang bermakna demi perkembangan anak selanjutnya melalui teladan hidup. Kewajiban orangtua juga untuk mengembangkan potensi itu melalui teladan hidup sehingga terbentuk manusia yang utuh. Pada hakikatnya teladan hidup otang tua merupakan suatu usaha sadar dari orangtua untuk mempersiapkan anak bagi peranannya di masa yang akan datang. Keberhasilan atas teladan hidup orangtua akan terlihat dari perwujudan diri anak dalam peranan-peranannya setelah memasuki kehidupan di masa dewasa dan seterusnya.

Jadi, teladan hidup orangtua dalam keluarga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perbuatan baik orangtua (ayah dan ibu) yang didasarkan pada terang firman Tuhan (Alkitab) yang patut ditiru anak, karena keteladanan demikian merupakan inti dan fondasi dari upaya pendidikan secara keseluruhan di rumah yang juga mempengaruhi di dunia (lingkungan di mana sang anak berada). Teladan hidup yang baik dalam keluarga akan menjadi fondasi yang kokoh bagi upaya-upaya pendidikan selanjutnya baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hubungannya dengan upaya mencerdaskan anak, teladan hidup dalam keluarga merupakan andalan pertama dan utama bagi upaya menyiapkan anak agar berkembang secara optimal dan bermakna.


2. Asas-asas keteladanan orangtua dalam Keluarga


Agar pendidikan anak dalam seluruh aspek dapat berlangsung optimal, ada sejumlah asas yang harus diajarkan sekaligus dipraktikkan orangtua sebagai teladan hidupnya, antara lain: pemenuhan atas kebutuhan spiritual dan material, pembentukan karakter, motivator dan komunikator, dan lain-lain.

a. Pemenuhan atas Kebutuhan Spiritual dan Material


Dalam memenuhi kebutuhan spiritual anak, Allah mengharuskan para orangtua memberi teladan kepada anak-anaknya dalam banyak bidang, khususnya dalam bidang rohani. Salah satu contoh teladan tersebut adalah dengan cara mengadakan waktu khusus yang berulang-ulang untuk mengajar anak-anak prinsip-prinsip dasar iman, sehingga tiap generasi patuh, setia, dan mengasihi Allah (bnd. Ul. 6:1-25). Inti dalam ayat ini adalah penekanan tentang keesaan Allah. Keesaan Allah itu diajarkan secara berulang-ulang. Ulangan 6 menyebutkan ada empat tempat bagi orangtua untuk mengajar anak-anak tentang keesaan Allah. Pertama, di rumah. “ ...apabila engkau duduk di rumahmu...”. Pendidikan khususnya pendidikan rohani didapat di sekolah, tetapi umumnya dimulai dari rumah ketika anak-anak masih bayi maupun ketika berkumpul bersama orangtua di rumah. Kedua, sedang dalam perjalanan. Setelah anak cukup kuat, orangtua sudah bisa mengajak anak-anak bepergian. Anak sering bertanya tentang apa-apa yang dilihat dan dirasakannya. Di sinilah orangtua mempunyai banyak kesempatan untuk mengajar dan mendidik anak, karena beberapa tahun kemudian kesempatan seperti ini sudah kurang berguna karena anak sudah mendapatkannya dari luar. Ketiga, ketika berbaring/tidur. Kepada anak diajarkan tentang keesaan Allah melalui cerita. Lewat cerita tersebut, Roh Kudus menanamkan kebenaran yang akan anak ingat dan menjadi bekal sampai dewasa. Keempat, ketika bangun. Mulai dari bangun sampai waktu tidur kembali banyak hal yang dialami anak, oleh karena itu perlu diajarkan tentang keesaan Allah. Berbahagialah orangtua yang tetap mampu mendidik anaknya sekaligus menerima setiap keluh kesah dan kegagalannya, yang mendidik anak dalam segala waktu dan keadaan. Pendidikan rohani, khususnya pengajaran tentang keesaan Allah yang dilakukan secara dini dan sebaik-baiknya akan memberikan fondasi kepribadian yang kokoh terutama dalam menghadapi berbagai tantangan yang datang dari luar diri anak; keimanan yang kokoh ini turut serta dalam mewujudkan anak sebagai generasi kemudian yang cerdas dan mandiri. Demikian pula dalam memenuhi kebutuhan material anak (sandang, pangan, dan papan), orangtua harus menyadari bahwa pendidikan anak hanya dapat berlangsung dengan baik apabila berada dalam lingkungan yang kondusif. Lingkungan kondusif adalah lingkungan yang sedemikian rupa dapat menunjang terjadinya proses pendidikan. Penataan lingkungan rumah yang sehat dan menyenangkan, serta suasana interaksi antara anggota keluarga, merupakan lingkungan yang baik bagi pendidikan anak. Orangtua sebaiknya menyediakan berbagai sarana yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam berbagai aspek sesuai dengan kebutuhannya, misalnya alat permainan, tempat bermain, kesempatan bermain dan eksplorasi diri, dengan demikian anak dapat tumbuh dan berkembang secara lebih sehat dan kreatif.


b. Pembentukan Karakter


Kebiasaan yang baik (karakter) dibentuk dan dikembangakan melalui proses pendidikan yang baik khususnya melalui lingkungan, pengalaman, terlebih teladan hidup orangtua. Jadi, orangtua yang menuntun anak dengan cara mendidik anak-anaknya sesuai dengan kehendak Tuhan pasti akan mendapat anak-anak yang berkarakter baik. Dan anak-anak yang berkarakter baik akan menghindari perilaku buruk.

Teladan hidup harus dilakukan orangtua setiap waktu, misalnya kebiasaan dalam penggunaan waktu dan sarana secara tepat, demikian pula berkomunikasi dan bersikap secara tepat. Anak perlu dibiasakan untuk mengatur waktu antara menonton TV dengan bermain, belajar, istirahat dan kegiatan lainnya. Apabila kebiasaan ini sudah dimiliki oleh anak, maka anak sendiri akan menyesuaikan berbagai tindakannya sehingga tidak saling menghambat. Orangtua hendaknya benar-benar menyadari bahwa sesungguhnya anak sedang berada dalam proses perkembangan yang berkesinambungan menuju keadaan dewasa dan matang. Dalam proses perkembangannya anak dihadapkan dengan sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya agar mencapai tahap kematangan yang sebaik-baiknya. Pendidikan pada hakikatnya merupakan bentuk upaya membantu proses perkembangan ini. Orangtua hendaknya memperhatikan karakteristik perkembangan anak dalam berbagai aspek seperti aspek sosial, intelektual, nilai, emosional, moral, fisik, dan sebagainya. Hal ini sangat diperlukan untuk memilih pendidikan yang lebih sesuai bagi anak. Orangtua dapat memberikan perlakuan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.

Di samping beberapa hal di atas, orangtua diharapkan pula mengenal kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan taraf perkembangannya. Tindakan orangtua yang bijaksana adalah tindakan yang disesuaikan dengan jenis dan sifat kebutuhan anak. Beberapa jenis kebutuhan anak yang perlu mendapat perhatian antara lain adalah, kebutuhan akan kasih sayang, kebebasan positif untuk bertumbuh, penghargaan, penerimaan (baik ketika berhasil maupun gagal) sekaligus dorongan, kedamaian dan keharmonisan keluarga.


c. Orangtua sebagai Motivator dan Komunikator


Orangtua sebagai motivator. Apa yang dimaksud tokoh idola? Dalam pengertian sehari-hari idola sering diartikan sebagai “pujaan”, sehingga makna tokoh idola ialah seseorang yang dijadikan subjek pujaan untuk ditiru atau dijadikan rujukan dalam berperilaku. Tanpa disadari hampir semua orang terutama remaja selalu memiliki tokoh idola untuk dijadikan sebagai sumber rujukan bagi kepentingan perkembangan dirinya yang berupa tokoh dalam berbagai bidang seperti olahraga, musik, politik, bisnis, dan pendidikan. Umumnya seseorang mengidolakan orang lain ketika ia mulai mewujudkan identitas diri khusunya dalam aspek-aspek tertentu yang ada pada idolanya tersebut, misalnya aspek kepemimpinannya, intelektualnya, fisiknya, dan sebagainya untuk dapat dijadikan pola dalam perwujudan dirinya. Ia akan memilih hal-hal tertentu yang akan diinternalisasikan ke dalam dirinya dengan cara meniru misalnya meniru cara bicara, cara berpakaian, dan penampilannya.

Mencari dan memiliki tokoh idola tidak segampang yang dibayangkan, banyak masalah yang timbul, antara lain ketidakmampuan mencari dan memiliki tokoh idola yang positif sehingga dapat diperkirakan perkembangan diri akan banyak mengalami hambatan seperti kurang arah, kurang motivasi, bahkan idola yang tidak sesuai dengan norma dan nilai lingkungan. Membimbing anak memerlukan kemampuan, dalam hal ini orangtua harus memiliki kemampuan membimbing anak, namun disadari bahwa tidak semua orangtua mampu membimbing anak kearah perwujudan diri dengan tokoh idola yang tepat. Sebenarnya tokoh idola itu dapat dimulai dari keluarganya, khususnya orangtua. Orangtua harus dapat menjadi sumber idola atau dalam hal ini disebut sebagai “sumber motivasi” bagi anak-anak. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau pola-pola keteladanan orangtua dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya atas dasar kasih yang tulus. Orangtua wajib memberi bimbingan dan arahan, membantu anak dalam mengembangkan kreativitas. Orangtua adalah motivator sekaligus idola anak-anaknya. Dalam peran orangtua seperti itu tepatlah pernyataan ini: kalau anak-anak banyak diberikan atau motivasi dalam kegidupannya maka anak akan belajar percaya diri. Orangtua sebagai komunikator. Komunikasi yang bersifat dialogis sangat membantu perkembangan anak. Melalui komunikasi yang baik antara anak dan orangtua, membuat kedua belah pihak mendapat kesempatan untuk melakukan dialog yang interaktif. Melalui dialog yang baik, anak akan memperoleh berbagai informasi dan sentuhan-sentuhan pribadi yang sangat bermanfaat bagi perkembangan dirinya, sekaligus anak akan mempelajari nilai-nilai yang diperlukan dalam memilih berbagai tindakan. Dengan nilai-nilai yang baik tersebut maka pengaruh-pengaruh buruk dari luar dapat dicegah sedini mungkin.

Orangtua perlu mengembangkan komunikasi yang efektif sehingga terjadi kesamaan persepsi mengenai berbagai aspek kehidupan. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang sedemikian rupa terjadi di mana pesan yang disampaikan oleh pemberi pesan dapat diterima secara tepat oleh penerima pesan; anak-anak dan orangtua adalah komunikator dalam arti akan selalu diposisi sebagai pemberi dan penerima pesan.


3. Beberapa Bentuk Keteladanan Ayah dalam Keluarga


1 Korintus 11:3 menunjukkan ada tiga kepala sebagai otoritas, ini adalah struktur keluarga yang ditetapkan oleh Allah: pertama, kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus; kedua, kepala dari perempuan adalah laki-laki. Jadi, laki-laki atau ayah adalah pemimpin. Ketiga, kepala dari Kristus adalah Tuhan. Sama seperti seorang prajurit harus tunduk kepada panglima, dan panglima tunduk kepada jendralnya. Yang membedakan hirarki dalam keluarga adalah fungsi bukan posisi; karena di mata Tuhan posisi laki-laki dan perempuan adalah sama.


a. Keteladanan Ayah sebagai Imam, Pelindung, dan Penasihat


Imam. Perintah Tuhan dalam 1 Timotius 2:8 agar suami/ayah dan isteri berdoa agar supaya Iblis tidak mudah merusak keluarga. Jika orangtua khususnya para ayah mengangkat tangan, maka Tuhan pasti turun tangan untuk memberkati keluarganya. “...supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan...” Pendidikan dalam keluarga merupakan inti dari pendidikan secara keseluruhan, inti dari pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan rohani. Pendidikan rohani yang dilakukan oleh orangtua secara dini dan sebaik-baiknya kepada anak akan memberikan fondasi kepribadian yang kokoh, cerdas dan mandiri terutama dalam menghadapi berbagai tantangan dari luar. Orangtua terutama ayah yang mengerti fungsinya sebagai imam sebenarnya sedang menaati perintah Tuhan sekaligus menolong keluarga terutama anak-anaknya dalam menjalani hidup yang penuh dengan godaan dan tantangan. Dari sudut pandang psikologi, godaan merupakan suatu rangsangan (stimulus) dengan intensitas daya tarik yang kuat sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan dirinya; suatu godaan akan terjadi apabila ada rangsangan yang kuat baik dari luar diri maupun dalam diri anak. Misalnya anak yang sedang berkonsentrasi belajar menjadi tergoda bila ia melihat penyanyi kesukaannya di acara televisi; timbul pertentangan dalam dirinya antara kekuatan untuk melihat acara tersebut atau untuk terus belajar. Si anak dikatakan tergoda apabila ia akhirnya lebih memperhatikan acara tersebut. Selain karena rangsangan yang kuat, godaan akan lebih mudah terjadi apabila anak tidak memiliki iman dan ketahanan diri yang kuat. Iman dan ketahanan diri anak bersumber dari kualitas kepribadian anak yang berasal dari kualitas keluarga yang menanamkan nilai-nilai kerohanian dan kualitas emosional yang sehat dan mengakar pada anak. Secara psikologis proses anak menghadapi godaan dapat dikatakan sebagai suatu mekanisme penyesuaian diri di mana anak akan mencari keseimbangan antara diri dan lingkungannya. Dalam proses ini akan terjadi berbagai kemungkinan antara yang bersifat berhasil, terganggu, gagal, dan patologis. Dikatakan berhasil bila anak mampu mendapatkan keseimbangan antara ketahanan diri dan rangsangan yang menggoda. Dikatakan terganggu apabila keseimbangan anak mengalami goncangan dalam melaksanakan perilakunya karena intervensi godaan. Dikatakan gagal apabila anak tidak mencapai tujuan karena teralihkan perhatian dan kegiatannya kepada godaan. Dan akhirnya yang dikatakan patologis apabila anak mengalami berbagai gangguan atau sakit baik fisik maupun psikis sebagai akibat dari godaan. Pelindung. Dunia akan hancur, bukan karena perang atau bencana alam, namun hancur karena banyaknya ayah yang tidak menjadi pelindung dan tidak bertanggung jawab. Hakim-hakim 11 menceritakan tentang Yefta sebagai hamba Tuhan sekaligus hakim yang dahulu memiliki latar belakang yang jahat karena ayahnya tidak bertanggung jawab. Anak yang tidak mendapat perlindungan dan kasih sayang seorang ayah cenderung jahat hati dan perilakunya. Penasihat. Dalam kamus bahasa Indonesia, nasihat artinya jalur atau garis-garis batas. Banyak anak lebih suka meminta nasihat kepada ibu, karena ibulah yang mengandung dan melahirkan anak, namun sangat disayangkan banyak ibu yang tidak tegas dalam memberi nasihat, sehingga anak tidak berada pada jalur semestinya. Mengingat dampak tersebut, maka jalur atau garis-garis batas sepantasnya diberikan oleh ayah yang umumnya lebih tegas dan berwibawa. 1 Tesalonika 2:11 membuktikan bahwa salah satu tugas penting seorang ayah adalah menasihati dan menguatkan hati: “... Seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu...”


b. Keteladanan Ayah sebagai Perencana Masa Depan yang Inspiratif


Perencana masa depan. Sering dikatakan bahwa hari kini merupakan hasil hari kemarin dan untuk hari esok. Ungkapan ini mempunyai makna bahwa masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang merupakan suatu rangkaian yang mempunyai hubungan sebab-akibat. Semua orang mengharapkan apa yang terjadi di masa datang lebih baik dari pada sekarang. Orangtua terlebih ayah yang tidak sempat menikmati pendidikan yang baik umumnya mengharapkan agar pendidikan anaknya lebih baik. Yang menjadi masalah ialah bahwa semua orang mengharapkan masa depan yang baik, tetapi tidak semua orang menyadari bahwa untuk itu perlu perencanaan yang baik pula; sebagian orang masih menjalani kehidupan masa depannya dengan seadanya “bagaimana nanti” bukannya “nanti bagaimana”. Kalaupun menyadari pentingnya perencanaan untuk masa depannya, tidak semua memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakannya. Lalu bagaimana? Dalam kehidupan keluarga, perencanaan merupakan milik dan tanggung jawab seluruh anggota keluarga di bawah pimpinan ayah yang harus dikembangkan melalui forum komunikasi keluarga.

Anggota keluarga terutama ayah hendaknya memahami dan memberlakukan beberapa prinsip dalam perencanaan masa depan, antara lain: 1) Mengenal secara jelas gambaran masa depan: gambaran masa depan merupakan acuan dari perencanaan. Untuk memperoleh gambaran-gambaran tentang karier, pekerjaan, pendidikan, pola-pola kehidupan, ekonomi, pergaulan sosial, jodoh, dan sebagainya dapat bertanya kepada pihak yang mengetahui, membaca buku-buku yang relevan, mengkaji pengalaman orang lain, berusaha mengumpulkan berbagai informasi yang relevan. 2) Mengenal dan memahami keadaan diri: bagian ini adalah bagian inti dari perencanaan karena diri sendiri itulah yang akan menjalani perjalanan menuju masa depan, bukan orang lain.

Jadi, selain mengenal gambaran masa depan, gambaran diri sendiri ini justru lebih penting. Gambaran diri sendiri meliputi: gambaran tentang keadaan fisik, prestasi belajar, bakat, minat, pengalaman, sikap, kelemahan, dan sebagainya. Seorang anak tukang becak yang nilainya rendah di SMA tentulah tidak mungkin masuk fakultas kedokteran yang menuntut kepintaran dan biaya yang besar; antara gambaran masa depan dan gambaran diri sendiri perlu ada kesesuaian, jika tidak maka kemungkinan akan mengalami kegagalan. 3) Menjabarkan berbagai alternatif: Setelah gambaran masa depan dan gambaran diri sendiri jelas, perlu dijabaran secara realistis berbagai alternatif kemungkinan langkah-langkah untuk mencapai tujuan. 4) Mengadakan persiapan: mencakup beberapa hal misalnya, biaya, fasilitias, menghubungi pihak-pihak terkait dan pembuatan jadwual; perlu dipersiapkan pula untuk menghadapi berbagai akibat termasuk kemungkinan kegagalan. Inspirator yang handal. Setiap anak memiliki pandangan dan harapan terhadap ayahnya, ayah adalah seorang laki-laki kuat, tegas, dan sukses. Oleh karenanya, ayah harus mampu menjadi inspirator sekaligus merealisasikan pandangan dan harapan anak tersebut, sehingga anak memiliki rasa aman dan kepercayaan diri yang kuat. Kepercayaan diri akan menghasilkan seorang anak yang memiliki nilai-nilai hidup yang baik sekaligus berpendirian teguh. Ketika seorang anak berumur 3-4 tahun biasanya senang jika ayah meletakkannya di atas meja tinggi, lalu disuruh melompat dan ayah siap menyelamatkannya. Ternyata, secara psikologis, latihan itu menanamkan sekaligus menguatkan nilai-nilai positif bagi anak: anak menjadi berani, percaya diri, sekaligus sekaligus percaya kepada ayah yang melindunginya. Sebagaimana kita maklumi, setiap orang mempunyai berbagai pengalaman yang memungkinkan dia berkembang dan belajar. Dari pengalaman itu orang akan mendapatkan patokan-patokan umum untuk bertingkah laku sehingga membentuk sebuah nilai dalam seseorang yang cenderung memberikan arah dalam kehidupannya. Nilai/patokan menunjukkan apa yang cenderung kita lakukan dalam waktu dan tempat tertentu atas dasar keyakinan dan penghargaan tertentu, misalnya apa, bagaimana dan dampak dari menghormati orang lain, mengambil tindakan yang tepat, membuat keputusan yang efektif. Nilai/patokan yang negatif yang terbentuk umumnya menghasilkan arah hidup yang negatif pula. c. Keteladanan Ayah dalam Pengambil Keputusan yang Berwibawa, Disiplin, dan Semangat Pengambil keputusan. Pada dasarnya aktivitas manusia dalam keseluruhan hidupnya merupakan rangkaian pengambilan keputusan yang berkesinambungan. Untuk menjalankan dan mencapai keberhasilan kehidupannya, manusia senantiasa harus mengambil keputusan sejak bayi, anak-anak, remaja, dewasa, sampai masa usia lanjut. Keputusan-keputusan yang harus dibuat senantiasa terus ada sepanjang hidup, mulai dari keputusan yang sangat sederhana misalnya memutuskan mandi atau makan lebih dahulu. Keputusan dapat menyangkut berbagai hal sekaligus berdampak terhadap banyak hal.

Kesejahteraan hidup dalam keluarga banyak bergantung pada keputusan-keputusan yang dibuat. Keberhasilan maupun kegagalan seseorang berasal dari sebuah keputusan. Bagaimana mengambil keputusan yang tepat? Pengambilan keputusan dalam keluarga seyogjanya melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari menyadari masalah, menganalisis berbagai alternatif, dan mengambil keputusan serta melaksanakannya; semua anggota keluarga hendaknya menyadari posisi masing-masing dalam keluarga. Sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah, ayah adalah pemegang keputusan utama, namun keputusan seorang ayah tetaplah harus berasal dari kesepakatan anggota keluarga lainnya.

Kewibawaan. Kewibawaan merupakan salah satu unsur kepribadian pada diri seseorang baik sebagai pribadi maupun sebagai pemegang otoritas tertentu. Secara umum kewibawaan dapat diartikan “daya pribadi” seseorang yang membuat pihak lain menjadi tertarik, bersikap mempercayai, menghormati, dan menghargai secara intrinsic (sadar, ikhlas). Kewibawaan seorang ayah banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik formal maupun informal, baik dari dalam maupun dari luar, baik yang bersifat material maupun non-material, baik yang tampak maupun tidak nampak. Secara umum, kewibawaan seorang ayah baik di dalam maupun di luar rumah ditentukan sekurang-kurangnya oleh beberapa unsur, antara lain: memiliki keunggulan, memiliki rasa percaya diri, ketepatan dalam pengambilan keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya, mampu menjadi teladan seluruh anggota keluarga.

Disiplin. Disiplin pada hakikatnya merupakan salah satu unsur penting dalam keseluruhan perilaku dan kehidupan baik secara individual maupun kelompok. Dengan disiplin, perilaku seorang individu akan lebih serasi dan seimbang dengan tuntutan ketentuan yang berlaku sehingga dapat menunjang terwujudnya kualitas hidup yang lebih bermakna . Disiplin mempunyai kaitan yang erat dengan berbagai masalah psikologis dalam keluarga. Oleh karenanya, upaya menegakkan disiplin pada hakikatnya berpangkal pada pengembangan psikologis individu yang semuanya berawal dari dalam keluarga. Disiplin sering dikaitkan dengan “hukuman”, dalam arti disiplin diperlukan untuk menghindari terjadinya hukuman karena sebuah pelanggaran. Hukuman dapat diberikan sebagai alat pendidikan. Secara psikologis, hukuman dapat dipandang sebagai sumber motivasi dalam keseluruhan perilaku manusia. Dengan menyadari adanya hukuman, individu cenderung untuk termotivasi melakukan tindakan yang benar. Dari sudut pandang positif, disiplin merupakan suatu proses pendidikan agar individu mampu mengembangkan kendali perilakunya sendiri secara sadar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Yang sering menjadi masalah adalah disiplin yang dimaksudkan sebagai “sumber motivasi dan alat pendidikan”, dalam kenyataannya seringkali tidak efektif atau tidak memberikan hasil yang tepat. Dalam menjalankan disiplin diperlukan kerjasama yang tepat antara pemberi disiplin, penerima disiplin, dan lingkungan. Pendisiplinan hendaknya jangan sampai melukai hati anak-anak: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya” (Kol. 3:21).

Semangat Juang. Semangat juang pada dasarnya merupakan suatu kualitas pribadi yang berupa kekuatan motivasi dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam semangat juang ini orang akan selalu tetap berusaha untuk mencapai tujuan dengan menggunakan berbagai cara. Pribadi yang memiliki semangat juang yang tinggi, akan ditandai dengan beberapa karakteristik, antara lain: (1) memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, memiliki prinsip hidup yang konsekwen dan konsisten; (2) memiliki ketahanan dalam menghadapi rintangan sekaligus menyelesaikannya; (3) mampu bekerja sama dengan orang lain. Semangat juang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi, bekerja, bermasyarakat dan bernegara, maupun dalam kehidupan beragama.


4. Beberapa Bentuk Keteladanan Ibu dalam Keluarga


Keberadaan kaum wanita mempunyai makna yang amat penting dalam seluruh kehidupan manusia. Wanita yang baik merupakan unsur utama yang memberikan warna dan nuansa keserasian, keindahan, dan dinamika kehidupan; sebaliknya kehidupan akan hancur di tangan wanita yang tidak baik. Dalam pengertian yang khusus “ibu” adalah sebutan atau panggilan dari seorang anak terhadap sosok seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkannya. Secara lebih luas “ibu” mempunyai makna sebagai seorang wanita yang mempunyai tugas, peran, dan tanggung jawab untuk mewujudkan fungsi-fungsi keibuan seperti merawat, mengasuh, dan mendidik dalam mengembangkan kepribadian, baik yang berlangsung di keluarga maupun di luar keluarga. Keluarga sebagai satuan terkecil lembaga kehidupan sosial manusia, sangat ditentukan oleh citra wanita yang ada di dalamnya terutama wanita sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anaknya. Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dalam perkembangan zaman yang penuh tantangan disertai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pergeseran nilai-nilai positif, peran serta ibu diharapkan semakin nyata untuk memberikan warna dan nuansa positif bagi keluarganya. Keberadaan ibu dalam berbagai aspek kehidupan merupakan perwujudan dari berbagai peran ganda yang disandangnya yaitu sebagai pribadi, sebagai unsur keluarga (anak, istri, ibu, nenek), sebagai anggota masyarakat/negara, sebagai pekerja. Peran-peran ganda ini harus diwujudkan oleh ibu sesuai dengan tuntutannya tanpa harus meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Peran-peran itu akan diwujudkan melalui berbagai penampilan perilaku dalam bentuk ucapan, pikiran, dan tindakan. Adalah sangat diharapkan agar penampilannya itu mencerminkan citra ibu yang sebaik-baiknya.

Dalam kehidupan keluarga, seorang ibu yang kurang mampu menampilkan citra yang baik akan berpengaruh pada pola-pola pendidikan anak-anaknya. Dan pada gilirannya anak tidak mendapatkan pendidikan yang memadai yang diperlukan untuk pembentukan kepribadiannya, demikian juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.

a. Keteladanan Ibu dalam Merawat, Mendidik, dan Mendoakan Keluarga

Merawat keluarga dan anak Amsal 31. Dalam pasal ini digambarkan bagaimana seorang ibu harus mengurus rumah tangga dalam hal merawat, mendidik, dan mendoakan keluarga. Ibrani 11 menceritakan tentang para tokoh iman, namun mengapa cerita tentang Musa lebih banyak dibandingkan tokoh yang lain? “...karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun...(Ibr. 11:24)”. Bagaimana Musa memiliki iman sehebat itu sehingga meninggalkan Mesir?. Musa hidup mewah dan banyak menyerap ilmu-ilmu orang Mesir. Alkitab mengatakan bahwa dia hanya diasuh selama tiga bulan pertama dan kemudian dihanyutkan. Demikian pula Samuel, mengapa memiliki iman kepada Tuhan sementara dalam masa pertumbuhannya, Samuel mempunyai dua kakak angkat (anak-anak imam Eli) yang jahat? Tuhan menunjukkan melalui Alkitab bahwa mereka disusui/diberi “asi” oleh ibu mereka. Ada apa dengan “asi”? Kebiasaan para ibu saat menyusui anaknya, sering mennyanyikan myanyian yang mengandung pengharapan bagi anaknya. Tanpa disadari, ada doa sekaligus memori yang ditanamkan oleh ibu kepada anak-anaknya berupa harapan agar kelak menjadi anak baik; seorang ibu dapat menanamkan kebenaran dan pendidikan sedini mungkin lewat cara menyusui anaknya. Sebagai unsur keluarga, seluruh sisi kehidupan ibu tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan kehidupan keluarga. Tanpa kehadiran ibu, suatu keluarga akan kehilangan makna dan dinamikanya; seorang ibu harus mampu berperan sebagai sumber kehidupan untuk memberikan motivasi baik bagi suami, anak-anak, atau anggota keluarga lainnya melalui perilaku ibu dalam keluarga misalnya bagaimana seorang ibu harus berpikir, bersikap, berkreasi, dan sebagainya. Meskipun bukan kewajiban utama, seorang ibu dapat berperan sebagai pekerja untuk mencari nafkah demi menunjang kehidupan ekonomi keluarga, namun rasa keibuan/kodratnya akan tetap melekat. Setiap manusia dilahirkan dari kandungan ibunya yang kemudian mendapat perawatan dan pengasuhan untuk perkembangan selanjutnya. Hal ini mempunyai makna bahwa “ibu” mempunyai andil yang paling fundamental dalam pembentukan kepribadian seseorang, oleh karenaya ibu dibutuhkan oleh setiap orang. Setiap anak mengidamkan ibu yang ideal sebagai sumber keteladanan, penuh kasih sayang, penyabar, memberikan apa yang dibutuhkan anak terutama kebutuhan sentuhan emosional. Dari sudut pandang suami, ibu yang baik adalah istri yang dapat menjadi mitra dalam mengasuh, merawat, memperlengkapi, mendidik, baik pendidikan rohani maupun pendidikan jasmani dalam keluarga. Seorang ibu dapat mewujudkan tugas keibuannya dengan optimal apabila didukung oleh pihak lain termasuk suami, anak, orangtua, pemerintah, dan masyarakat. Mendidik/membina anak. Berbicara mengenai pembinaan anak adalah berbicara mengenai pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu upaya sadar dalam mengembangkan kepribadian bagi peranannya di masa yang akan datang. Siapakah yang bertanggung jawab bagi pendidikan anak? GBHN dan UU No. 2/89 menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Di antara ketiga pihak yang bertanggung jawab sebagaimana dikemukakan di atas, keluarga merupakan penanggung jawab pertama dan utama. Disebut pertama karena anak datang dari keluarga dan akan kembali ke dalam keluarga. Kondisi dan kualitas kehidupan seseorang di masa yang akan datang sangat bergantung pada sejauh mana keluarga menanamkan investasinya melalui pendidikan anak-anaknya.

Pendidikan yang paling awal dilakukan dalam keluarga sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Orangtua secara genetik dan alamiah jelas sebagai penanggung jawab pendidikan anak-anaknya. Pada umumnya ibu lebih memiliki kesempatan untuk mendidik anak-anaknya dibandingkan dengan ayah karena lebih banyak berada di dalam rumah. Beberapa contoh pendidikan/pembinaan yang ibu dapat lakukan misalnya: 1) Mendidik anak dalam bidang kerohanian sebagai landasan bagi pembentukan kualitas manusia secara utuh; 2) Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak dengan kasih sayang yang tulus; 3) Menciptakan situasi kondusif sekaligus memotivasi anak bagi berlangsungnya pendidikan secara efektif; 4) Membentuk anak agar terbiasa mewujudkan perilaku-perilaku yang baik; 5) Menciptakan komunikasi yang efektif.

Mendoakan keluarga dan anak. Rasul Paulus memuji keluarga Timotius dengan berkata, “Aku melihat iman yang kamu warisi dari ibumu dan iman itu diwarisi ibumu dari nenekmu” (2 Tim. 1:15). Timotius mencontoh teladan iman ibunya dan neneknya.

Dalam Matius 18:19-20 dinyatakan “...Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Berdasarkan firman Tuhan ini dapat dikatakan bahwa seorang ibu dan ayah yang sepakat mendoakan kebaikan bagi anaknya pasti Tuhan mengabulkan doanya. Dalam keluarga, pengertian dua orang di sini dapat juga dihubungkan pada suami-istri; namun karena ibu umumnya lebih banyak berada di rumah maka perikop ini dapat pula ditujukan bagi ibu agar sesering mungkin mengajak anak-anaknya untuk berdoa bersama bagi keluarganya.


Berikut ini beberapa variabel (judul) penelitian Pendidikan Agama Kristen. Bila ada yang memerlukan paparan latar belakang masalah (Bab I) dan kajian teori atau kajian teologis-teoritis (Bab II)  maka dapat memilih dan memesannya dengan menyediakan ongkos mengetik (biaya ketik) yang relatif terjangkau. Namun harus diingat bahwa ini hanya contoh. Bagi yang berminat silakan menghubungi via telp atau SMS.(081388662585) atau via email: triofilsafat@gmail.com. Selain itu jika ada yang ingin mendapatkan arahan/pencerahan membuat tesis maka kami siap memandu Anda. Variabel atau judul skrispsi maupun tesis yang akan diteliti sebaiknya disesuaikan dengan kerinduan mendalami bidang-bidang Pendidikan Kristen yang berguna dalam tugas melaksanakan "tugas didaktik/pengajaran Yesus Kristus di Indonesia". Bila Ada yang membutuhkan bantuan silakan hubungi kami di: 081388662585.


Berikut variabel-variabel penelitian dalam Pendidikan Agama Kristen:


Variabel-variabel Penelitian Skripsi/Tesis PAK:


Judul-judul berikut ini terdiri dari variabel bebas dan terikat (2 variabel)

1. Hubungan Pendidikan Agama Kristen dengan Pekabaran Injil

2. Pengaruh Keteladanan Orangtua Terhadap Perilaku Anak

3. Daya Tahan Guru PAK Terhadap Pengaruh Kebenaran yang relatif dalam Pluralisme Agama

4. Pencobaan Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Melaksanakan Didaktik Yesus Kristus

5. Karakter Guru Pendidikan Agama Kristen yang berintegritas

6. Pengaruh Guru Pendidikan Agama Kristen Inklusif Terhadap Perilaku Peserta didik dalam Masyarakat 

     Majemuk

7. Pengaruh Percaya Diri Terhadap Keberhasilan Mengajar Guru PAK

8. Tanggungjawab orangtua mendisiplin anak Terhadap Peningkatan minat belajar anak

9. Implementasi Kecerdasan Majemuk dalam proses PAK

10. Pengaruh Penggunaan Metode Creatif Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen

11. Pengaruh Pengembangan Kinerja Guru Terhadap Efektivitas Proses Pembelajaran PAK

12. Pengaruh Tingkat Pemahaman Guru PAK Tentang Tempramen Peserta didik Terhadap Perubahan ranah pembelajaran peserta didik

Contoh Bab II Kajian Peran Gembala Jemaat

Penolong Anda dalam menginspirasi Skripsi Sarjana Teologi atau S.Th. Anda sedang mencari inspirasi Judul Skripsi S.Th., Judul Tesis M.Th., Contoh Skripsi Teologi, Contoh Tesis Teologi, Tesis Magister Teologi (Bab I, II dan III)? Kami menyediakan dalam weblog ini. Silakan Anda pelajari sendiri yang diposting dalam blog ini.

Bagi yang sedang mencari judul untuk Skrips S.Th., dan Tesis M.Th., saya memposting variabel penelitian tentang "peran gembala jemaat". Variabel ini merupakan salah satu variabel penelitian dari konsentrasi Teologi Kependetaan (S.Th., dan M.Th.). Postingan ini hanya bersifat menginspirasi. Silakan teliti lebih lanjut. Selanjutnya saya posting peran gembala sebagai berikut:
BAB II KAJIAN TEORI PERAN GEMBALA JEMAAT

Para gembala jemaat memiliki tugas-tugas pelayanan atau yang sering disebut dengan peranan gembala jemaat. Ada beragam peranan gembala jemaat dalam menggembalakan atau melayani anggota jemaat, khususnya peranan-peranan gembala jemaat yang berhubungan dengan kesetiaan beribadah. Artinya bila gembala jemaat melakukan beberapa peranannya sebagai gembala jemaat maka akan menolong anggota jemaat untuk setia beribadah di gereja. Berikut ini penjelasan tentang peranan-peranan gembala.






a. Pemberitaan Firman (Pelayanan Mimbar)

Seorang gembala jemaat memiliki peran utama sebagai pelayan firman Tuhan. Pelayanan firman Tuhan atau khotbah merupakan perioritas seorang gembala jemaat. Pemberitaan firman Tuhan menuntut sebuah tanggungjawab. Tidak ada seseorang yang mengemban tugas lebih berat dari orang yang beridiri di mimbar untuk menyampaikan maksud Allah kepada jemaat. Seorang gembala jemaat ketika di mimbar, ia berbicara atas nama Allah. Perioritas pemberitaan firman Tuhan menopang perioritas yang lain dari seorang gembala sidang yaitu menggembalakan kawanan domba (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:11)
Bila pelayan adalah penafsir sabda tertulis maka jemaat yang datang beribadah pada hari Minggu mendapat perjumpaan dengan Tuhan yang berbicara kepadanya secara pribadi. Jemaat datang dalam ibadah untuk perjumpaan akbar yaitu secara bersama-sama dengan anggota tubuh Kristeu berjumpa dengan Allah. Menurut Thurneysen, pelayanan firman Allah adalah satu-satunya bentuk pelayanan pastoral yang benar-benar melayani Injil sebagai berita dari presensia dan aktifitas Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus (J.L.Ch. Abineno, 2012)
Seorang gembala jemaat adalah orang yang tahu membedakan prioritas, maka berkhotbah menjadi tugas pelayanannya yang nomor satu. Dalam hal ini ia tidak melalaikan tugas penggembalaan, malahan meningkatkan tugas tersebut. Gembala yang baik harus memberitakan firman Tuhan bagi anggota jemaat.
Gembala sebagai pengkhotbah mempunyai hak istimewa dan tanggungjawab untuk mempelajari sabda Allah, merenungkannya, meresapinya, mengolahnya untuk orang lain, dan menyajikan kepada umat Allah. Setiap kali kita membuka Alkitab, suatu kebenaran lama akan berisi kekuatan baru, atau Roh Kudus menunjukkan suatu kebenaran baru yang memberi dorongan kepada gembala dalam persiapannya. Pengkhotbah bukanlah pembuat (produsen); ia adalah seorang penyalur. Sama seperti para nabi, ia dapat berkata, “Firman Allah datang kepadaku…” “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku mikmatinya; Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku…” (Yer.15:16). (J.L.Ch. Abineno, 2012)

Seorang gembala tidak boleh kehilangan sukacita dalam panggilannya, bila hal itu terjadi maka gembala kehilangan kuasa. Ia tidak lagi menjadi berkat bagi gerejanya. Hal ini tidak berarti bahwa para pendeta atau gembala tidak pernah mengalami masa-masa tawar hati, bahkan nabi-nabi besar sekalipun di dalam Alkitab dan sejarah gereja pernah mengalami kesuraman. Sebaliknya, ini berarti bahwa dalam masa pencobaan dan ujian ia masih merasa senang bahwa ia adalah milik dan penyambung sabda Allah. Hatinya meluap dengan kegembiraan setiap membuka Alkitab dan mempelajarinya sebagai persiapan untuk mengajar jemaat-nya. Sukacita dalam berkhotbah itu begitu besar sehingga mengatasi semua masalah dan beban. Sukacita ini menolong pendeta menanggung semua beban serta member kekuatan dalam menghadapi dan menyelesaikan semua persoalan.
Seorang gembala yang melayani Firman Allah mesti memahami bahwa ia dengan penuh kasih mempersiapkan firman dan menyampaikan firman secara bersungguh-sungguh. Kebenaran tanpa kasih adalah kasar dan dapat melukai hati orang, tetapi kasih tanpa kebenaran adalah kasih yang dangkal, tidak sepenuh hati dan sentimental. Tanggung jawab yang terakhir ialah kesediaan untuk didatangi jemaat sesudah mereka menerima khotbah. Khotbah yang baik dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang datang kepada kita dan member komentar, khotbah itu berguna bagi jiwa saya. (Warren W.Wiersbe dkk, 2002)

b. Mengadakan Pelayanan Konseling

Seorang gembala jemaat adalah seorang yang berperan dalam memberi bimbingan. Kita kenal ada kata Konseling. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, dari kata Counseling. Di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata counsel, yang memiliki beberapa arti yaitu : nasehat, anjuran dan pembicaraan. Berdasarkan arti kata ini, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran. (Ngalimun, 2014: 6). Dalam konteks konseling Kristen, konseling diartikan pemberian nasehat, perembukan atau penyuluhan sehingga orang yang dikonseling mampu menghadapi masalahnya dan berusaha mengatasinya atau mencari solusi.(Rudi A. Alouw, 2014: 25) Menurut Rogers, memberikan “bantuan “ dalam konseling adalah dengan menyediakan kondisi, sarana, dan keterampilan yang membuat klien dapat membantu dirinya sendiri dalam memenuhi rasa aman, cinta, harga diri, membuat keputusan, dan aktualisasi diri. Memberikan bantuan juga mencakup kesediaan konselor untuk mendengarkan perjalanan hidup klien baik masa lalunya, harapan-harapannya, keinginan yang tidak terpenuhi, kegagalan yang dialami, trauma, dan konflik yang sedang dhadapi klien (Ngalimun, 2014)

Konseling sedemikian penting bagi anggota jemaat. Demikian pentingnya konseling ini dapat dipahami dalam pandangan Saertsshertzer dan Stone (1974) yang dikutip dari tulisan Mappiare 2002 yang mengungkapkan bahwa kebutuhan akan adanya konseling pada dasarnya timbul dari dalam dan luar diri individu yang memunculkan pertanyaan mengenai “apa yang seharusnya dilakukan individu?”. (Ngalimun, 2014: ). Sepakat dengan ahli yang lain, konseling tidak lain adalah mengembangkan setiap individu untuk mencapai batas optimal, yaitu dapat memecahkan masalah sendiri dan membuat keputusan yang sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Keputusan itu bukan hasil paksaan dari konselor/seorang guru yang memberi bimbingan tersebut. Akan tetapi keputusan tersebut berasal dari diri siswa yang dibimbing.(Sutrisna, 2013)

Seorang gembala yang memberi perhatian kepada jemaat dalam bentuk konseling adalah gembala yang peduli dan merawat domba-dambanya. Seorang gembala yang peduli kepada jemaat adalah seorang gembala atau pendeta yang tinggal dan melaksanakan kasih secara utuh. Kasih demikian merupakan dorongan kesaksian Alkitab.
Seorang gembala dapat memberi konseling kepada jemaat yang menghadapi masalah sehingga jemaat oleh pertolongan Roh Kudus dapat mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Jadi, pelayanan konseling yang dilakukan gembala jemaat merupakan pemberian bantuan kepada seseorang berupa nasisehat atau petunjuk agar ia dapat mengatasi persoalan yang dihadapinya.(Abineno, 2012)
c. Mengadakan Pelayanan Persekutuan

Seorang gembala jemaat memiliki peran yang relatif banyak. Salah satu dari pembahasan di atas yakni peran gembala jemaat dalam mengadakan pelayanan persekutuan. Anggota jemaat adalah yang hidup dalam persekutuan tubuh Yesus Kristus. Kalau ia melakukankesalahan (dosa), ia mengganggu atau merusak hubungan yang terdapat dalam persekutuan itu. Maksud pelayanan pastoral ialah: memperbaiki hubungan yang terganggu atau yang rusak itu, supaya anggota jemaat yang bersangkutan mendapat kembali tempatnya dalam persekutuan itu, sehingga ia dpat berfungsi lagi sebagai anggota tubuh Kristus.

Kita lihat, bahwa antara pelayanan pastoral dan persekutuan terdapat suatu hubungan yang sangat erat. Justru terhadap orang-orang ini Gereja harus mencurahkan perhatiannya yang khusus. Mereka bukan saja membutuhkan kunjungan dan percakapan, tetapi terutama bimbingan dan persekutuan. Gereja harus menjadi “rumah” di mana mereka setiap saat dapat berlindung dan dapat mengalami persaudaraan dan kekeluargaan yang sesungguhnya (J.L.Ch. Abineno, 2012).

Muller, dalam karyanya tentang penataan kembali ibadah jemaat mengatakan : “Gereja orang-orang Lewi dan imam-iman bukanlah Gereja (yang benar). Gereja yang benar ialah Gereja orang Samaria yang murah hati”. Gereja-gereja yang sama dengan orang-orang Lewi dan imam-imam di tengah jalan dari Yerusalem ke Yerikho, kalau mereka melalaikan tugas mereka dibidang koinonia: tidak melayani orang-orang yang menderita (= yang disiksa dan dirampok) yang membutuhkan bantuan mereka.

d. Menolong Jemaat dalam Kesembuhan Manusia seutuhnya

Seorang gembala jemaat perlu memberi perhatian dan pelayanan dalam hal menolong jemaat dalam kesembuhan manusia seutuhnya. Kegiatan ini merupakan peran seorang gembala jemaat. Persekutuan Kristen memberikan suasana untuk penyembuhan yang penuh kuasa. Apabila dua atau tiga orang berkumpul kuasa Roh Kudus dinyatakan,sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus. (Bruce Larson dkk, 2004: 144). Oleh karena itu menyembuhkan manusia seutuhnya lebih dari menyembuhkan manusia saja. Manusia adalah manusia yang utuh. Yang dimaksudkan ialah: Manusia. Manusia bukan terdiri dri jiwa saja, tetapi dari kedua-duanya: dari tubuh dan jiwa. Hal ini jelas kit abaca dlam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama, maupun dabiasanya dalam Perjanjian Baru. Pengertian tubuh, roh dan jiwa, biasanya digunakan secara bergantian dalam arti yang sama, yaitu manusia seutuhnya:manusia sebagai suatu totalitas. Kalau Alkitab katakan: “ Jiwaku memuji Tuhan, maka yang dimaksud ialah “Aku memuji Tuhan”. Demikian pula kalau ia katakana “Tuhan menyertai rohmu”, maka yang dimaksud ialah “Tuhan menyertai engkau”. Dan lain-lain. Alkitab tidak mengenal ikotomi (pembagian manusia atas dua bagian sebagai tubuh dan jiwa) atau trikotomi(pembagian manusia atas tiga bagian sebagai tubuh, roh dan jiwa). Baginya manusia ialah suatu kesatuan dari tubuh, roh dan jiwa (Abineno, 2012)

d. Membantu Anggota Jemaat Mengatasi Kesulitas Hidup

Peran yang lain yakni seorang gembala dapat membantu anggota jemaat untuk mengatasi kesulitan hidup. Dikatakan demikian karena seorang pelayan memiliki relasi dengan anggota jemaat yang telah diberkati Tuhan dan memiliki sumber-sumber pekerjaan. Misalnya ada anggota jemaat yang memiliki perusahan, seorang pendeta dapat memperkenalkan anggota jemaat yang sedang mengalami kesulitan hidup untuk dapat bekerja di perusahan tersebut. Cara lain yaitu memberdayakan kemampuan anggota jemaat melalui wirausaha atau entrepreneur.
Dalam pelayanan pastoral sering bertemu dengan anggota-anggota jemaat yang hidup terpisah atau terasing, baik dari anggota-anggota jemaat yang lain maupun dari persekutran mereka dengan Allah. Keterpisahan itu disebabkan oleh pertentangan-pertentangan yang terdapat diantara mereka, seperti pertentangan-pertentangan kepentingan, pertentangan-pertentangan golongan, pertentangan keluarga atau suku dan pertentangan lain. Oleh karena banyaknya pertentangan tersebut tidak cukup memdapat perhatian dari gereja maka diperluka pelayanan pastoral untuk menolong anggota jemaat hidup dalam pendmaian. Tentang fungsi mendamaikan ada yang tidak menganggapnya sebagai suatu fungsi yang tersendiri tetapi ada pula yang menganggapnya fungsi mendmaikan ialah berusaha memperbaiki relasi yang rusak antara manusia dan sesame manusia, dan antara manusia dan Allah.

Monday, April 16, 2018

Contact

Blogspot adalah milik Google maka kami memanfaatkan fasilitas milik google. Tentu bersifat free. Fasilitas ini sudah ada di gmail kita. Jadi, bisa langsung digunakan. Kita jangan malu menggunakan yang free seperti blogspot, gmail, google drive,google docs. Fasilitas ini sangat berkualitas. Hanya saja jangan menggunakan fasilitas free yang ada di google untuk merugikan orang lain. Ok sekarang  Silakan mengisi form yang sudah kami sediakan.


Yonas Muanley
081388662585