Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2024 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Wednesday, February 26, 2020

Contoh Bab I Masalah Pemanggilan Arwah Samuel

BAB I
PENDAHULUAN

Pokok-pokok yang dibahas dalam bab pendahuluan ini yaitu: latar belakang masalah, indentifikasi masalah, rumusan masalah, btasan masalah, pentingnya penelitian. Walaupun begitu, dalam postingan ini hanya masalah penelitian yang dijelaskan. Sedangkan yang lain dibahas secara mandiri oleh pembaca blog.

A. Latar Belakang Masalah

Alkitab adalah firman Allah yang berkuasa atas kehidupan umat beriman. Segala ajaran dan praktik hidup (etika Kristen) harus sesuai dengan Alkitab. Dikatakan demikian karena Alkitab adalah Kanon Kristen. I Samuel 28:14 adalah salah satu bagian firman Tuhan yang mesti dipahami oleh orang Kristen. Namun masalah yang terjadi adalah ada pro dan kontra terhadap teks ini. Pro dan kontra ini disebabkan karena ada kasus pemanggilan arwah atau spiritisme yang sering dihubungkan dengan praktik yang berkaitan dengan okultisme, yaitu suatu keyakinan bahwa dunia arwah atau roh orang mati memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan dunia orang hidup. Pemanggilan roh orang mati ini dapat dilakukan dengan memakai manusia sebagai mediator untuk menghubungkan dunia orang mati dengan orang hidup. Selain itu cara-cara pemujaan dan pemanggilan arwah-arwah orang mati dengan tujuan untuk memintai nasihat dan pertolongan.

Adapun praktik Saul memanggil roh Samuel melalui medium yaitu seorang perempuan karena Tuhan tidak lagi berbicara kepada Saul. Pada zaman Perjanjian Lama, Menurut H. Rothlisberger, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui tiga cara. Dengan kata lain Tuhan biasanya menyatakan kehendak-Nya kepada manusia melalui (1) mimpi (1Sam. 3:2-9; 1Raj. 3:5); (2) Urim (Bil. 27:21; 1Sam. 10:20-21); (3) para nabi.
Pemanggilan arwah Samuel memang menjadi perdebatan. Akan tetapi munculnya roh Samuel juga menjadi perdebatan. Apa roh sesungguhnya dari Samuel atau iblis menyamar roh Samuel. Perempuan yang menjadi medium pemnggilan roh Samuel juga sangat terkejut dan menjadi takut ketika Samuel betul-betul datang dan dia baru mengetahui bahwa orang yang minta tolong kepadanya itu adalah raja Saul yang pernah membunuh para dukun (lih. ay. 3).19
Walaupun demikian Saul tidak mengakui hal itu. Itulah sebabnya Saul mencari jalan lain untuk memaksakan kehendak Tuhan. Namun Tuhan menolak Saul karena Saul telah memberontak kepada TUHAN.

Menurut Rothlisberger, ada dua penafsiran untuk menguraikan bagian ini: (1) nama Samuel seharusnya diganti dengan Saul. Ketika “arwah Samuel” meninggalkan mereka, barulah dukun perempuan itu memandang dia dengan teliti, lalu mengenali raja Saul; (2) kata “melihat” seharusnya diganti dengan “mendengar nama.” perempuan petenung itu menjelaskan kepada Saul bahwa ia melihat sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi, menyerupai seorang tua berselubungkan jubah (ay. 13-14). Mendengar itu, Saul langsung menyimpulkan bahwa roh itu adalah Samuel. Setelah pemunculan “Samuel,” dialog pun mulai terjadi antara Saul dengan Samuel yang intinya menyatakan bahwa karena ketidaktaatanSaul, maka ia dan keluargaanya akan mengalami kekalahan dalam perang dan berakhir dengan kematian, sedangkan tentara Israel akan diserahkan Tuhan ke tangan orang Filistin (ay. 15-19). Setelah mendengar informasi tersebut, Saul menjadi sangat takut dan hilanglah kekuatannya karena sehari semalam ia tidak makan apa-apa. Akhirnya, ia dibujuk oleh dukun wanita supaya mau makan. Setelah peristiwa itu, Saul pulang pada malam itu juga (ay. 20-25).

Pro dan Kontra tentang Roh Samuel Mengenai kasus pemanggilan roh Samuel dalam 1 Samuel 28, terjadi perdebatan yang tajam di antara parasarjana Alkitab khususnya mengenai siapakah yang ipanggil keluar itu. Menurut Josh McDowell dan Don Stewart, sejumlah sarjana injili meyakini bahwa yang ipanggil keluar itu benar-benar Samuel.

Sementara yang lainnya percaya bahwa itu adalah roh Setan yang menyamar dan yang pandangan terakhir percaya itu adalah sebuah trik dari dukun wanita untuk menipu orang. Teks ini dan beberapa teks lainnya telah mempengaruhi beberapa orang Kristen untuk penginjilan kepada orang mati. Andreas Samudera menegaskan bahwa roh yang muncul dalam kasus pemanggilan roh Samuel oleh dukun wanita di Endor adalah benar-benar roh Samuel. Karena itu, menurutnya, penafsiran yang mengatakan bahwa yang dipanggil keluar oleh dukun perempuan di Endor itu bukanlah roh Samuel tetapi roh Setan, itu adalahtafsiran yang salah. Sebagai kesimpulan dari keyakinannya, ia menyatakan, “Ternyata orang mati dapat dipanggil keluar dari Hades oleh orang hidup, terbukti di dalam 1 Samuel 28:7-9.”21. Keyakinan tersebut didasari oleh tiga argumentasi yang dikemukakan oleh Andreas, alasannya pertama, adanya larangan menghubungi arwah orang mati dianggapnya itu membuktikan bahwa hubungan orang mati dan Perempuan itu mendengar nama Samuel, lalu ia sadar bahwa si penanya itu ialah raja Saul (lih. 1 Samuel 242).

Kelompok yang berusaha menginjili arwah orang mati berargumen, yang dilarang adalah meminta petunjuk pada roh orang mati, bukan memberi petunjuk atau menginjili arwah orang mati;, orang-orang percaya juga mempunyai kuasa yang sama seperti Tuhan Yesus miliki atas dunia orang mati.24Sebab itu, pemanggilan roh orang mati dapat dilakukan juga oleh seorang hamba Tuhan. Menurut Herlianto, ketiga argumentasi di atas, sama sekali tidak memiliki dasar Alkitab.

Menurutnya, cara berpikir yang sederhana di atas menunjukkan cara penafsiran Alkitab yang sangat harfiah, tekstual dan kurang memperhatikan konteks Alkitab dan kompleksnya ilmu sastra. Sebagai contoh, argumentasi pertama, larangan berhubungan dengan arwah, tidak mesti berarti “tidak bisa berhubungan” sehingga mestinya “dapat dan boleh berhubungan.” Ia menambahkan bahwa contoh larangan di atas tidak mewakili semua larangan. Misalnya kalau ada “botol racun” yang diberi label “dilarang minum” memang kita dapat meminumnya, tetapi orang yang minum langsung mati.

Berdasarkan konteks Alkitab, dapat kita ketahui bahwa belum pernah ada orang yang berhasil berhubungan dengan roh orang mati, yang ada adalah perjumpaan dengan “roh-roh kegelapan” yang siap menerkam mereka yangmenghubunginya.26Selanjutnya, argumentasi kedua, juga tidak kuat. Alasannya, karena larangan Alkitab terhadap praktik spiritisme tidak memberikan perkecualian yang terkait dengan motivasi, baik dengan maksud mencari petunjuk maupun memberi petunjuk kepada arwah (Im. 19:26b, 31). Demikian juga dengan pembasmian para pemanggil arwah tanpa membedakan apakah mereka memberi atau menerima petunjuk dari arwah orang mati (Kel. 22:18; 1Sam. 28:3; 2Raj. 23:24).

Kemudian, argumentasi ketiga , bahwa orang percaya atau para hamba Tuhan memiliki kuasa yang sama seperti kuasa Yesus atas dunia orang mati, juga tidak memilii dasar yang benar, tetapi justru mencerminkan sifat dasar manusia yang ingin menjadi seperti Allah. (Kej. 3:5; 11:4,27)

Cerita tentang Saul menemui seorang perempuan pemanggil Arwah di En-dor yang terdapat dalam 1 Samuel 28:3-25 merupakan salah satu teks tersulit dalam Alkitab. Kesulitan ini tidak mungkin bisa dipecahkan dari teks ini, antara lain: mengapa Saul menemui perempuan pemanggil arwah itu pada malam hari (ay. 8)?, Kedua, Mengapa perempuan itu berteriak (ay. 12)?, Benarkah arwah Samuellah yang muncul pada peristiwa itu? Pertanyaan ini akan diikuti dengan beberapa pertanyaan lanjutan lainnya sebagaimana yang akan terlihat dalam penggambaran penulis mengenai sejarah eksegesis terhadap teks ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa masalah inilah yang menarik lebih banyak perhatian diskusi di kalangan para penafsir ketimbang masalah-masalah lainnya.

Selain masalah di atas teks ini telah mendorong para ahli untuk mengadakan studi mengenai nekromansi dalam konteks Israel kuno. Bill T. Arnold menyebut 1 Samuel 28:3-25 sebagai teks kuno yang sering dirujuk bagi studi mengenai nekromansi dalam konteks Israel kuno (Bill T. Arnold, 2004:200).

Meneliti Keindahan Daerah: Taman Simalem Resort Sidikalang

Semoga bermanfaat

Salam

Friday, February 21, 2020

Contoh Abstraksi Kualitatif

Contoh Abstraksi

Pembahasan tentang Karakter

Masalah penelitian ini adalah di mana dan kapanpun seorang guru PAK harus memiliki karakter yang baik karena guru PAK adalah pendidik yang akan mengajar dan mendidik peserta didiknya dengan pendidikan agama yang bersumber dari Alkitab. Pendidikan adalah pembentukan karakter seseorang, maka pendidik sendiri harus mempunyai karakter yang bertangung jawab karena ini adalah merupakan dasar yang sangat penting.

Perlu disadari pula bahwa kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor genetika/temperamen, bawaan lahir pengalaman individu dan lingkungan hidup yang memproduksi karakter dirinya. Pada kenyataannya karakter hanya dapat dilihat dari perkataan dan perilaku/perbuatan seseorang. Oleh karena itu, pendidikan dianggap sebagai salah satu unsur untuk pembentukan karatker. Setiap orangtua, guru PAK di sekolah, guru sekolah Minggu, atau guru pribadi, adalah orang-orang yang diberi hak yang sangat besar oleh Tuhan untuk mendidik karakter anak. Dalam hal ini karakter merupakan bagian yang penting dari integritas, jika seseorang guru PAK dipercayai oleh naradidik karena kejujuran seorang guru tersebut baik dari pengajarannya maupun kehidupannya maka guru tersebut akan akan mempengaruhi karakter peserta didik pada masa depannya atau kehidupan peserta didik di masa yang akan datang.






Seorang guru PAK yang berintegritas harus konsisten antara kata-kata yang disertai dengan perbuatan, maka dengan demikian, seorang guru dapat menjadi panutan bagi naradidiknya. Namun guru PAK yang berbasis karakter dan perilaku yang positif di dalam dirinya akan dikatakan guru tersebut mempunyai integritas karena merupakan dasar utama bagi seorang guru PAK. Seseorang guru yang mempunyai integritas adalah orang yang menetapkan sistem norma untuk menilai sebuah kehidupan. Kehidupan seorang guuru dinilai dari semua eksisitensi kehidupannya termasuk pengajarannya serta nilai norma dan perilakunya baik di masyarakat maupun terhadap naradidiknya.

Masalah yang terjadi adalah guru berintegritas hanya pada waktu mengajar saja, tetapi ketika di luar jam mengajar kehidupannya tidak berintegritas. Kenyataan yang terjadi dapat saja seorang guru PAK tidak lagi menjadi patokan dalam dirinya, dan seluruh hidupnya tidak menjadi contoh bagi peserta didik dan masyarakat yang ada. Karena bukan dari kesungguhan hatinya dalam mengajar justru guru tersebut melakukan tugasnya hanya sekedar profesi, bukan guru berpikir bahwa tugas tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap Tuhan. Tetapi oleh karena tuntutan zaman yang terdesak seperti ekonomi yang kurang tercukupi dalam keluarga, keinginan sukses yaitu kekayaan dan hawa nafsu. Inilah yang menjadi suatu kendala yang cukup berat bagi seorang guru, karena akan membentuk karakter pribadi seorang guru.

Untuk menyelesaikan masalah ini maka penulis memakai metode riset pustaka yang relevan dengan judul dan isi skripsi. Penulisan bersifat analisis deskriptif. Yaitu data berupa pernyataan dan pandangan tentang masalahnya yang disoroti, dan bersifat deskriptif yaitu usaha melaporkan suatu objek atau suatu keadaan tanpa menarik kesimpulan. Akhirnya isi skripsi ini dapat bermanfaat.

Kata Kunci:Karakter, Pembentukan







Percaya diri

Seorang guru dalam kaitannya sebagai seorang pengajar harus memiliki percaya diri yang tinggi. Oleh karena itu adanya pemahaman yang benar mengenai percaya diri. Rasa percaya diri seorang guru harus senantiasa dipupuk dan terus dikembangkan. Bila seorang guru hanya merasa percaya diri jika dirinya diberikan tugas mengajar sesuai dengan keahliannya saja atau baru akan percaya diri kalau dia merasa bisa menjalankan semua tugasnya dengan berhasil tanpa satu kegagalan pun, maka hal inilah yang justru akan menjadi bumerang yang akan menghancurkan rasa percaya dirinya apabila suatu saat ia diberikan tugas yang lain.

Seorang guru yang tidak percaya diri akan kemampuan maupun potensi yang ada dalam dirinya akan menjadi pribadi yang pasif dan pesimis. Ia tidak akan pernah maju karena tidak mau membuka diri untuk menghadapi tantangan-tantangan yang baru yang berguna bagi pengembangan dirinya. Tentu seorang guru yang tidak percaya diri akan mempengaruhi keberhasilannya dalam mengajar maupun sebagai seorang pengajar.

Seorang guru yang kurang percaya diri akan menimbulkan sikap kurang diri “interior” yang sangat merugikan bagi dirinya dan nara didiknya. Demikian sebaliknya jika seorang guru selalu bersikap menyombongkan diri “superior” dan selalu menganggap dirinya lebih baik dari yang sebenarnya maka ia juga tidak akan pernah mendapatkan percaya diri yang sejati. Kedua sikap di atas sama-sama merupakan bentuk kurang percaya diri, yang pertama dijadikan alasan untuk tidak mau berkembang, yang kedua dijadikan topeng untuk menutupi sederet kelemahan-kelemahannya. Masalah percaya diri adalah masalah yang sangat serius yang harus segera dicarikan solusinya percaya diri yang sejati meliputi tiga hal antara lain tingkah laku (Behavioral) emosi dan kerohanian (spiritualitas) dan hal ini akan menimbulkan sikap subjektifitas terhadap naradidiknya.

Percaya diri berbeda dengan keakuan yang berlebihan. Seorang guru tidak boleh merasa paling tahu, paling pintar dan seterusnya, sehingga tidak mau menerima masukan dan kritikan. Sikap yang demikian adalah sikap yang egois. Guru juga adalah salah satu sarana untuk mencapai pembelajaran yang berhasil oleh sebab itu setiap unsur dari kepribadian seorang guru sangat berpengaruh pada berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran.

Bila seorang guru tidak mau berlatih terus menerus untuk mengembangkan dirinya dan sudah merasa cukup dengan apa yang dimilikinya maka guru yang seperti ini tergolong seorang pemalas yang sombong. Sikap kurang percaya diri seorang guru seringkali dapat dibuktikan dari beberapa segi antara lain : sikapnya ketika sedang mengajar, Guru cenderung berespons negatif terhadap murid yang kritis, tidak mampu menguasai emosinya, tidak mampu mengendalikan suasana kelas, menyampaikan materi pelajaran tanpa sasaran yang jelas, menghindari perdebatan dan seterusnya. Sebagai profesional guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara terus menerus.

Kesuksesan tugas keguruan sangat terletak pada kemampuan guru secara pribadi untuk berkembang. Seorang Guru perlu mengembangkan pemahamannya tentang belajar dan harus yakin akan potensi belajar itu sendiri guna pengembangan dirinya.






Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun diluar dinas, dalam bentuk pengabdian. Tugas guru dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu bidang profesi, kemanusiaan dan kemasyarakatan. Setiap tugas ini akan berhasil dilaksanakan bila seorang guru memiliki percaya diri yang didasari dari konsep diri dan harga dirinya. Oleh karena itu bila guru ingin menjadi pengajar yang sukses harus dimulai dari pribadinya yaitu dengan menenangkan kepribadiannya. Disini percaya diri sangat diperlukan oleh seorang guru. Guru dan PAK dalam kaitannya sebagai seorang pengajar tidak seharusnya terjebak dalam masalah percaya diri. Guru PAK harus mampu berdiri sebagai wakil Allah dalam mengajarkan kebenaran Firman Tuhan dengan penuh wibawa dan percaya diri.

Percaya diri seorang guru PAK harus didasarkan pada rasa takut akan Tuhan (Ams 9:10) dan seorang guru harus memiliki percaya diri yang rendah hati (1Pet 5:5). Dalam Yakobus 3:1, Tuhan pun menuntut pertanggungjawaban yang besar pada seorang guru, oleh sebab itu seorang guru harus mampu menjadi teladan dalam setiap segi kehidupannya karena guru PAK bukan petugas menyampaikan ilmu pengetahuan yang bersifat “science” melainkan pengajaran Firman Tuhan untuk menentukan kehidupan.

Untuk menyelesaikan masalah di atas, penulis menggunakan metode penelitian pustaka, yaitu membaca buku-buku yang berhubungan dengan judul dan isi skripsi. Dengan kata lain penyelsaian masalah dalam Skripsi ini memakai metode atau menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research)

Kata Kunci: Percaya Diri

Baca juga info tentang UNSW SYDNEY
Apa itu UNSW Sydney?

Jawaban yang saya peroleh dari google. UNSW adalah sebuah universitas yang masuk kategori 100 universitas peringkat teratas. Universitas ini terkenal di dunia bahkan di Negara kita karena pengajaran dan riset yang bertujuan menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan yang memimpin mencapai karir yang berhasil. Letak Universitas ini di timur kota Syney, letaknya dekat pantai, letak seperti ini tentu menyenangkan atau memanjakan pandangan kita, khususnya para mahasiswa dan dosen.






Untuk mereka yang mencari studi ke luar negeri, misalnya memilih Universitas Boston. Universitas ini merupakan salah satu universitas swasta yang letaknya di Boston Amerika Serikta. Universitas ini terkenal karena penelitiannya. Universitas ini beraviliasi dengan Gereja Metodis Serikat. Gereja ini tentu terkenal di Amerika dan juga dunia. Salah satu pendeta yang memberi perjuangan yang dikenang dunia yakni Marthin Luther King yang terkenal dengan visinya “I Have a Dream” yang dipidatokan dalam tempo 17 menit oleh Martin Luther King, Jr. Pidato ini merupakan seruan tentang kesetaraan ras dan diakhiri-nya diskriminasi. Kita kini melihat bagaimana orang kulit putih dan hitam bergaul secara akrab, tidak ada perbedaan karena diskriminasi ras.

Salam


Wednesday, February 19, 2020

Contoh Bab II Percaya Diri dan Mengajar (Lanjutan)

Pembahasan ini merupakan kelanjutan dari postingan dengan judul: Contoh Bab II Kajian Teori Percaya diri dan mengajar. Bagian ini dibagi karena halamannya relatif banyak. Jadi dibuat dalam dua kali postingan. Silakan baca postingan pertama dari artikel ini: Kajian Teori Percaya diri dan Mengajar


BAB
KAJIAN TEORI
PERCAYA DIRI DAN MENGAJAR
Lanjutan poin C dst.

C. Pengaruh Percaya Diri Terhadap Kesiapan Mengajar


Kesiapan mengajar bagi seorang guru sangatlah menentukan keberhasilannya dalam mengajar. Seorang guru siap dalam mengejar karena ia telah mempersiapkan diri dengan baik. Matangnya persiapan sangat menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Karena itu, dalam persiapan guru harus memikirkan tujuan pembelajaran, bahan ajar yang sesuai tujuan, waktu strategi, metode dan sistematika pengajaran.






Oleh sebab itu tanpa memperhatikan aspek-aspek di atas dengan cermat, maka seorang guru tidak mungkin dalam kondisi siap untuk mengajar. Pengaruh percaya diri terhadap kesiapan mengajar merupakan proses pembekalan diri, dimana seorang guna dengan segala dan upayanya berusaha seoptimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi nara didiknya. Pengaruh percaya diri terhadap kesiapan mengajar dikatakan sebagai proses pembekalan diri karena dengan demikian seorang guru akan memiliki percaya diri saat mengajar karena telah memiliki persiapan yang mantap.

Namun meskipun demikian seorang guru tidak hanya bertugas mempersiapkan materi pembelajaran saja, yang terlebih penting adalah guru tersebut memiliki kesiapan mental sebelum mengajar. Karena percaya diri itu sendiri merupakan suatu keadaan mental seseorang dimana orang tersebut memiliki kekuatan motivasi untuk melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik.

Pengaruh percaya diri terhadap kesiapan mengajar berbicara mengenai pengaruh psikologis, yang didukung dengan kemampuan mengajar antara percaya diri dan kemampuan seseorang di bidang tertentu, memiliki kaitan yang sangat erat. Seorang guru akan menjadi percaya diri dan siap dalam mengajar karena ia tahu bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengajar dengan baik.

Jika seorang guru tidak memiliki kesiapan atau perencanaan terlebih dahulu sebelum mengajar, maka kemungkinan besar ia akan mengajar secara asal-asalan, dan pada akhirnya justru akan merugikan nara didiknya. Karena nara didik akan dibingungkan dengan penyampaian materi yang tidak sistematis dan akurat. Dengan demikian pembelajaran tersebut tidak membawa hasil yang nyata bagi kehidupan nara didik.


Sikap guru yang demikian, akan membuat guru tersebut terlalu percaya diri dan cenderung meremehkan kegiatan mengajar sebagai tugas yang mudah, mengajar adalah tugas mulia yang harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Seorang guru mungkin akan sangat percaya diri dan siap dalam mengajar jika ia dipercayakan untuk mengajarkan bidang studi yang sama setiap bulannya. Namun hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip guru sebagai seorang kreator dan inovator. Dan tentu saja guru yang sudah merasa cukup dengan kemampuannya dalam mengajar, ia akan mengalami stigma dalam pengembangan kepribadiannya sebagai seorang guru yang berkualitas.

Ketidaksiapan guru dalam mengajar tentu akan sangat berpengaruh pada jalannya proses pembelajaran. Mengapa demikian? Tentu saja guru yang tidak siap mengajar ia akan menyampaikan bahan ajar sekenanya, dan kemungkinan besar akan adanya manipulasi waktu oleh guru karena ia hanya ingin menghabiskan jam tugas mengajarnya. Setelah jam pelajarannya selesai ia tidak bertanggungjawab lagi atas puluhan nara didiknya yang tentu saja telah dirugikannya. “Seorang guru memiliki masa pengajaran yang sangat singkat. Oleh sebab itu setiap menit harus dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Guru yang merasa percaya diri tanpa memiliki persiapan sebelum mengajar sebenarnya sedang melakukan “Penipuan”. Penipuan terhadap dirinya sendiri dan nara didiknya. Penipuan terhadap dirinya sendiri, karena ia merasa lebih mampu padahal kemampuannya saat itu sama saja dengan kemampuannya mengajar pada hari-hari yang telah lalu.

Menipu nara didiknya karena ia tidak menyampaikan materi sesuai dengan tujuan instruksional dengan akurat. “Oleh karena itu tanpa percaya diri guru tidak akan mampu bersikap menerima terhadap berbagai kekurangan dan permasalahan orang lain, sebaliknya guru akan lebih banyak menggunakan otoritas secara berlebihan, dan selalu menuntut hal-hal yang sempurna dari nara didiknya. Oleh sebab itu persiapan atau perencanaan materi pelajaran sangatlah penting. Dengan adanya persiapan seorang guru akan percaya diri ketika mengajar. Ia dapat mengajar dengan berbagai metode yang bervariasi, oleh karena ia telah mempersiapkan diri terlebih dahulu. Untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam mengajar sebaiknya seorang guru tidak hanya sekedar mempersiapkan bahan pelajaran tetapi ia iuga harus menguasai emosinya dengan baik.

Kesiapan guru dalam mengajar akan sangat mendukung sekali pada pencapaian pembelajaran yang berhasil. Persiapan yang dilakukan oleh seorang guru dengan baik akan sangat menolong percaya diri pada saat mengajar di kelas. Dengan percaya dirinya maka guru dapat menyampaikan pelajaran tanpa harus kuatir dipermalukan nara didiknya di depan kelas, karena ia mampu memenuhi dan menjawab kebutuhan nara didiknya dalam proses pembelajaran.






Jadi kesiapan mengajar merupakan persyaratan yang mutlak bagi seorang guru sebelum ia memulai mengajar di kelas. Dengan persiapan mengajar maka percaya diri seorang guru akan timbul dengan sendirinya. Dengan percaya diri guru akan semakin siap dalam mengajar dan akan manambah semangat untuk mengajar di kelas. Dengan demikian pengaruh percaya diri terhadap kesiapan mengajar akan membawa dampak yang positif bagi tercapainya tujuan pembelajaran yang berhasil.

D. Pengaruh Percaya Diri Terhadap Keberhasilan Mengajar


Dewasa ini para pendidik, tidak begitu menghiraukan aspek percaya diri ini sebagai salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada keberhasilan mengajar. Tidak mungkin seseorang guru dapat berhasil dalam mengajarnya pada keberhasilan mengajar. Tidak mungkin seseorang guru dapat berhasil dalam mengajarnya kalau ia sendiri tidak memiliki kepercayaan diri akan kemampuannya dalam mengajar. Guru yang tidak percaya diri akan berpengaruh pada cara mengajarnya di kelas, cara berkomunikasi, cara berinteraksi, dll. Sekalipun seorang guru menguasai bidang studi yang diajarkan dengan baik, hal ini tidak menjamin bahwa keberhasilan mengajar dan dicapai.

Disini penguasaan diri sang¬at diperlukan. Setelah seorang guru dapat menguasai emosinya dengan stabil maka ia akan mampu menguasai suasana kelas. Ada banyak hambatan yang menyebabkan keberhasilan mengajar tidak tercapai. Hambatan-hambatan itu pada dasarnya dapat datang dari manapun dari luar. Hambatan dari dalam seperti kurangnya minat belajar siswa, kurangnya motifasi oleh guru, kurangnya perhatian dan sebagainya. Faktor dari luar mengatur sarana dan prasarana serta lingkungan dimana tempat pembelajaran di langsungkan.

Ada dua faktor yang menentukan dalam proses pembelajaran, yaitu faktor guru dan murid. Kedua komponen itu harus saling melengkapi satu dengan yang lain. Meskipun disuatu sekolah memiliki fasilitas yang lengkap seperti gedung yang mewah, ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, lab komputer, lapangan olah raga dan seterusnya, keberhasilan mengajar belum tentu akan tercapai bila sekolah tersebut tidak memiliki tenaga pengajar yang berkompetensi dan profesional. “Adalah celaka jika mau mendirikan sekolah, yang lebih dulu diperkirakan adalah gedungnya, tapi kemudian tidak mempunyai guru atau dosen yang baik. Sebaliknya memiliki guru yang berkualitas namun jika tidak ada murid yang baik untuk di didik maka keberhasilan pendidikan pun tidak dapat dicapai.

Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan pengaruh percaya diri guru terhadap keberhasilan mengajarnya? Yang dimaksud disini adalah adanya perubahan perilaku belajar peningkatan dari segi kualitas dan kuantitas pendidikan pada nara didik. Dan perubahan tersebut didorong oleh prilaku yang percaya diri ketika mengajar sehingga mampu memenuhi kebutuhan belajar nara didiknya. Keberhasilan mengajar tersebut akan dapat diukur dengan prestasi nara didiknya. Guru yang berhasil dalam mengajar bukan dilihat dari mana kepiawaian guru tersebut menyampaikan materi¬materi pembelajaran.
Di sini diperlukan kerja keras seorang guru untuk mengusahakan pendidikan yang berhasil bagi nara didiknya.

Keberhasilan mengajar menyangkut dua aspek yaitu keberhasilan di pihak guru sebagai pengajar, dan keberhasilan dipihak nara didik sebagai penerima pengajaran. Manfaat yang diperoleh guru dari persiapan sebelum mengajar tumbuh rasa percaya diri yang optimal. Dengan persiapan yang matang maka seorang guru dapat mengajar secara optimal. Percaya diri guru bukan saja berkaitan dengan kemampuannya mengelola kelas, tetapi juga kemampuannya dalam mengelola emosinya. Pengaruh terbesar dalam keberhasilan mengajar ditentukan oleh sejauh mana guru atau murid memiliki kesiapan secara emosional dalam interaksi di kelas. Tentu saja yang dimaksudkan disini adalah sejauh mana seorang guru benar¬benar siap secara mental untuk mengajar dan sejauh mana nara didik siap untuk menerima pengajaran. Kesiapan emosi atau mental sangatlah penting. Jika seorang nara didik datang ke sekolah dengan keadaan emosinya yang tidak stabil kecil kemungkinan ia dapat mengikuti proses pembelajaran yang baik.






Dan tentu saja setiap nara didik memiliki problema yang berbeda-beda dalam kehidupan pribadinya. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada keberhasilan guru mengajar nara didiknya. Oleh sebab itu guru harus memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perilaku nara didiknya. Memang tidak mudah untuk mengetahui sebab mengapa seorang nara didik berperilaku abnormal. Apalagi jika nara didik tersebut tidak mau terbuka dengan gurunya.

Hal ini akan lebih mempersulit seorang guru untuk mencarikan solusi untuk pemecahan masalahnya.
Memang ada begitu banyak faktor pendukung maupun penghambat keberhasilan dalam mengajar. Dengan mengenali faktor-faktor penghambat keberhasilan mengajar dan mengetahui gejala-gejala, maka seorang guru dapat segera melakukan tindakan preventif (pencegahan). Karena akan lebih mudah mencegah dari pada harus reskontruksi kembali suatu sistem kegiatan belajar mengajar yang telah kacau. Pencegahan ini dimaksudkan untuk memperkecil peluang kegagalan dalam mengajar.

Percaya diri guru yang maksimal akan sangat membantu seorang guru dalam pengambilan keputusan dalam kesepakatannya dengan nara didiknya untuk menerapkan pola pengajaran yang disetujui bersama. Dan untuk mengambil tindakan-tindakan pencegahan, dalam rangka mengatasi kegagalan mengajar. Dampak yang merugikan yang terbesar adalah faktor penghambat: keberhasilan mengajar tersebut datang dari guru itu sendiri. Tanpa didukung kemampuan guru dalam mengatasi “self problem”, maka guru akan mengalami kesulitan untuk mencapai pembelajaran yang berhasil. Sebaiknya jika masalah kekacauan mental ini dialami dari pihak pengajar maka sebaiknya guru tersebut meminta bantuan rekan-rekan seprofesinya untuk menyelesaikan masalahnya. Namun jika masalah kekacauan mental ini pada stadium tinggi, sebaiknya guru tersebut pergi ke psikiater.

Disini kemampuan kooperatif guru sangatlah diperlukan. Seorang guru sebaiknya memiliki kerjasama yang baik dengan rekan guru yang lain. Mereka dapat bersama-sama berdiskusi untuk memecahkan masalah-masalah penghambat keberhasilan mengajar. Diskusi sesama rekan seprofesi ini akan sangat bermanfaat, karena didalamnya seorang guru dengan rekan kerjanya dapat memikirkan ide-ide yang cemerlang untuk mendapatkan sumber-sumber pembelajaran. Dalam hal ini pun sangat diperlukan percaya diri guru untuk mengungkapkan dan menuangkan ide-ide dalam forum diskusi.


Seorang guru yang percaya diri tentu akan berusaha agar ia mampu menjadi seorang pengajar yang berhasil. Seorang guru yang percaya diri akan berusaha membina serta mendorong nara didiknya untuk ikut berperan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini hanya mungkin terjadi bila guru memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan nara didik yang bersifat edukatif, serta memiliki kemampuan untuk memotivasi, menciptakan kondisi belajar yang nyaman, dapat meningkatkan kegairahan serta partisipasi nara didik dalam proses pembelajaran. Seorang guru yang percaya diri mempunyai kemampuan menjalankan fungsi dan peranan guru sebagai inovator dan motivator yang selalu berusaha menentukan hal-hal yang baru untuk kontribusi dalam pendidikan.

Seorang guru yang percaya diri tidak akan bersikap mendominasi kegiatan belajar, ia akan lebih mementingkan kebutuhan–kebutuhan siswanya. Dalam hal ini guru bukan lagi menjadi pusat dalam proses pembelajaran melainkan nara didiknya. Guru yang percaya diri akan terus berusaha mencari solusi bagi perkembangan nara didiknya. Ia akan bersikap fleksibel, variatif, dan supel. Pemberian kesempatan bagi nara didik untuk belajar menurut cara, irama, serta tingkat kemampuan masing-masing merupakan salah satu kebebasan yang harus diberikan seorang guru, agar nara didiknya bebas mengeksplorasi segala potensinya.

Jadi, seorang guru harus memiliki paradigma yang benar sebagai seorang pengajar agar mampu mencapai tujuan dari sebuah pembelajaran. “Berdasarkan paradigma belajar, dalam pengajarannya guru dapat dikelompokkan menjadi dua tipe dasar, yakni paradigma manager (Teaching) dan paradigma belajar (Learning), Teaching guru menempatkan dirinya sebagai penguasa pengetahuan. Sedangkan Learning guru menempatkan dirinya sebagai pengajar yang berfungsi sebagai fasilitator bagi nara didiknya dalam proses belajar mengajar” (Amir Tengku, 2005:20). Dengan demikian pembelajaran yang berhasil akan dapat dicapai.

Pelaksanaan proses belajar mengajar di atas hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki wawasan kependidikan guru yang cukup luas, serta mampu memahami nara didiknya dalam segala keberadaannya. Guru yang percaya diri akan terus membangun hubungan yang baik dengan nara didiknya, ia tidak akan pernah meremehkan nara didiknya karena ia tahu bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Seorang guru yang percaya diri akan selalu bersikap proporsional, ia tahu waktunya untuk memberikan pujian dan waktunya untuk bertindak tegas pada nara didiknya.






Seorang guru yang percaya diri dapat melihat kekutan, kelemahan, peluang, dan ancaman guru untuk mencapai keberhasilannya dalam mengajar. Tentu saja guru yang percaya diri memiliki manajemen administrasi kependidikan yang baik. Dengan demikian maka seorang guru akan mampu mencapai tujuannya mengajar dengan berhasil. Segala penjelasan di atas menerangkan bahwa penting sekali seorang guru memiliki percaya diri untuk menunjang keberhasilannya dalam mengajar. Tanpa percaya diri guru akan bersikap tegang, gelisah, cepat marah, dan reaksi-reaksi negatif lainnya yang akan sangat menghambat keberhasilannya dalam mengajar. Percaya diri dalam mengajar adalah aspek penting yang perlu ditingkatkan dan memiliki oleh setiap guru dalam profesinya sebagai seorang pendidik yang profesional. Kembali ke postingan A dan B baca: Kajian Teori Percaya diri ...

Salam

Yonas Muanley

Contoh Bab II Kajian Teori Percaya Diri dan Mengajar

BAB
KAJIAN TEORI
PERCAYA DIRI DAN MENGAJAR


A. Pengaruh Percaya Diri Terhadap Kepribadian Guru



Pengaruh berarti efek yang di timbulkan dari orang atau benda yang menyebabkan orang atau benda tersebut mengalami perubahan. Perubahan tersebut nyata, kelihatan dan dapat di amati, dinilai, atau diukur. Perubahan tersebut dapat mengacu kearah positif (bersifat membangun, meningkatkan kualitas) dan perubahan kearah negatif. Dalam hal ini percaya diri sebagai subyek yang mempengaruhi keprihadian seseorang dan individu yang bersangkutan menjadi objek yang dipenguruhi. Efek ini yang terutama akan dirasakan oleh pribadi yang menjadi objek rasa percaya diri, yaitu guru itu sendiri. Beberapa hal dibawah ini adalah pengaruh percaya diri pada kepribadian seseorang yang dapat dilihat dalam kehidupannya sehari-hari yaitu antara lain:






1. Selalu bahagia, bahagia disini dalam pengertian tidak suka mambanding¬bandingkan dirinya dengan orang lain. Para ahli mengatakan dengan. membandingkan diri berarti matinya rasa kepuasan diri yang sejati. Mampu menerima dirinya sendiri dengan apa adanya dan tidak menggantungkan rasa bahagianya berdasarkan tanggapan orang lain.

2. Mudah bergaul dengan orang lain, semakin besar rasa menerima diri sendiri maka seorang individu akan semakin senang berada ditengah-tengah orang lain karena ia merasa, orang-orang itu juga akan menerimanya dan akan senang bersamanya. Dari perasaan meneirma diri inilah akan menumbuhkan rasa percaya diri dalam pergaulan.

3. Terbuka untuk dicintai dan mencintai, yakni bahwa orang lain juga memerlukan kasih sayang oleh sebab itu berikan simpati dan pujian yang tulus pada orang yang membutuhkan dan tidak berprasangka buruk pada orang yang memberikan pujian pada dirinya.

4. Mampu menjadi diri sendiri yang sejati, berani menyatakan perasaan yang dirasakan dengan jujur terhadap segala sesuatu. Tidak perlu takut menyatakan suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Tidak memakai topeng dan bersandiwara untuk menyenangkan orang lain.
5. Mampu mengenali dan mengurusi kebutuhan-kebutuhan sendiri, tidak selalu mengandalkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya namun mampu memenuhi kebutuhan pribadinya, baik kebutuhan fisik, emosional, intelektual, sosiai dan spritual.

6. Mampu menerima kenyataan, tidak menghindari kenyataan baik saat dalam kesulitan dan kegagalan, tidak mudah menyerah dengan keadaan dan justru mempelajarinya agar dapat mencari peluang-peluang untuk sukses.

7. Bersikap tegas, berani dalam mengambil keputusan dan bertanggung jawab dengan keputusan yang diambilnya sama mempunyai prinsip hidup yang jelas, berani mengungkapkan aspirasinya dengan jelas, menyatakan diri secara lulus dan berani bersikap terbuka. Tidak takut dikritik atau ditolak sekalipun dst.
Dan dibawah ini adalah beberapa indikator yang mempengaruhi tumbuhnya rasa percaya diri seseorang secara umum antara lain yaitu:

1. Faktor kesehatan fisik (Memiliki fisik yang sehat, normal, tidak cacat, bentuk tubuh yang ideal dst).
2. Faktor kecerdasan, memiliki tingkat intelektual yang tinggi.
3. Faktor ekonomi, memiliki ekonomi yang mapan (diatas rata-rata).
4. Faktor status sosial dimasyarakat, memiliki jabatan tertentu yang mengangkat derajat dan martabat seseorang.
5. Faktor pendidikan tinggi, memiliki latar belakang pendidikan tinggi.
6. Faktor keterampilan / keahlian khusus, memiliki keahlian dibidang tertentu.
7. Faktor spiritual, memiliki kepercayaan dan kedewasaan rohani sesuai dengan kepercayaan atau agama yang dianutnya.
8. Faktor penampilan, memiliki penampilan yang baik, menurut standar umum sesuai dengan lingkungan dimana ia berada dst.

Menurut penelitian beberapa faktor diatas merupakan indikator yang memicu tumbuhnya rasa percaya diri seseorang. Setidaknya seorang guru harus memiliki tiga faktor penting agar dapat menjadi percaya diri, yaitu memiliki tubuh yang sehat. Kedewasaan kerohanian, dan intelektual yang tinggi selain diperlukan faktor pendukung lainnya untuk mengoptimalkan rasa percaya dirinya. Pengaruh percaya diri digolongkan pengaruh psikologis terhadap mental seseorang. Pengaruh psikologis tersebut membuat seorang individu memiliki kekuatan motivasi yang membangkitkan semangat hidupnya. Yang membuatnya memiliki daya tahan dalam kesulitan dan mampu menghadapi segala situasi dan keadaan dengan tenang. Seorang guru dalam profesinya sebagai seorang pendidik dan pengajar tentu sangat dituntut profesionalismenya, hal ini adalah persyaratan mutlak yang harus dimiliki seseorang dalam profesinya.


Bagaimana dengan guru PAK? apakah guru PAK juga memerlukan percaya diri? Tentu saja guru PAK juga memerlukan rasa percaya diri, pengaruh percaya diri pada guru PAK juga akan sangat membantu guru PAK dalam mengajar. Guru PAK harus terlebih dulu mengerti identitasnya didalam Kristus agar menjadi percaya diri, untuk menjadi guru yang profesional banyak faktor pendukung yang diperlukan, baik yang bersifat intern maupun ekstern. Bersifat intern berarti adalah segala faktor yang berasal dari dalam pribadi individu tersebut. Faktor yang bersifat intern antara lain Kepribadian (personality), pengetahuan, moralitas, dan lain-lain. Sedangkan faktor ekstern adalah segala faktor yang berasal dari luar individu tersebut. Dan yang bersifat ekstern antara lain : penampilan (performance), fasilitas, lingkungan dan lain-lain. Percaya diri merupakan faktor pendukung yang bersifat intern. Percaya diri merupakan kondisi mental seseorang dimana ia mempunyai kekuatan, kepercayaan, untuk mewujudkan kemampuan yang ada dalam dirinya. Agar mampu menjadi seorang guru yang profesional, seorang guru memerlukan percaya diri yang kuat untuk pengembangan kepribadian dan prafesionalismenya.

Seorang guru bukan saja harus senantiasa tampil secara maksimal ketika ia berada didepan kelas dan berhadapan dengan nara didiknya, namun ia seharusnya juga memiliki kemampuan untuk selalu tampil maksimal dimanapun ia berada. Dimasyarakat Indonesia seorang guru tetap mendapatkan perhatian khusus baik di lingkup pendidikan dan kemasyarakatan. Seorang guru haruslah menjadi suritauladan baik dalam prilakunya, keluarganya, pergaulannya, dan setiap segi kehidupannya. Memang sangatlah berat kriteria yang harus dimiliki untuk menjadi guru yang progfesional :
“percaya diri sangatlah berpengaruh pada kepribadian seorang guru, tahap percaya diri guru tidak akan mampu menjadi pribadi yang efektif. Untuk menjadi pribadi yang efektif seorang guru harus mampu memadukan kompetensi dan karakter atau wataknya. Sebagai pribadi ia dapat berpedan secara efektif bila mampu menyampaikan dengan baik dan benar siapa sesungguhnya dirinya, dan apa yang dilakukannya”. (Soemarno Soedarsono, 1999:116)





Tentu saja untuk menjadi seorang guru yang percaya diri tidak diperoleh secara tiba-tiba, tetapi memerlukan latihan mental dengan proses yang panjang. Latihan-latihan ini memerlukan sikap yang ulet dan sabar serta pantang menyerah.
Untuk menjadi pribadi yang percaya diri seorang guru harus mulai menyadari dan menggali segala potensi yang ada di dalam dirinya. Dengan mulai menggali dan mengembangkan kreatifitas dan kemampuan yang dimilikinya. Diperlukan evalusi dan kemudian mempraktekkannya dalam pengajarannya. Guru yang percaya diri mempunyai konsen diri yang.jelas.
Ia tahu siapa dirinya dan batas-batas kemampuannya, ia tahu kelemahan dan kekuatannya, dan bagaimana ia harus memotivasi diri untuk mengembangkan kepribadiannya. Dengan memiliki harga diri yang tinggi. Karena konsep diri yang positif mendukung timbulnya rasa menghargai diri sendiri. Menurut Clara R. Pudjijogyanti, (1998:62), percaya diri berpengaruh pada perilaku seorang guru ketika mengajar dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Seorang guru yang percaya diri tidak akan berusaha menutup-nutupi kelemahan dan kekurangannya, melainkan ia akan bersikap terbuka dan berusaha tampil apa adanya. Jika seorang guru tidak mau bersikap sportif justru ha1 itu akan menghambat perkembangan kemampuannya dalam mengajar. Percaya diri adalah salah satu kompetensi kepribadian. Selain dari kompetensi profesi dan kemasyarakatan yang harus dimiliki oleh seorang guru. “Untuk bisa disebut sebagai seorang guru profesional, guru harus memiliki kompetensi tertentu, sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi keguruan. Kompetensi tenaga edukatif atau tenaga guru di Indonesia pada umumnya mengacu pada tiga jenis kompetensi, yaitu Kompetensi pribadi, profesi dan kemasyarakatan”. (Sudarwan Danim, 1995:53). Hal ini menimbulkan asumsi yang cukup logis bahwa seorang guru dituntut menjadi pribadi yang “sempurna”, meskipun pada dasarnya ukuran kesempurnaan itu sifatnya relatif.

Dengan percaya diri guru akan mampu berkompitisi dalam sistem pendidikan yang menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang diterapkan saat ini. Guru yang mampu menyadari dan mengikuti perkembangan zaman dalam dunia pendidikan akan menganggap sistem KBK sebagai suatu tantangan untuk maju. Guru seharusnya memiliki sikap yang pantang menyerah, terus berinovasi secara kreatif menciptakan sarana-sarana baru, metode-metode mengajar, dan menggali sumber ilmu pengetahuan. Hal tersebut merupakan tugas dan tanggungjawab guru yang harus dikerjakan.

Oleh sebab itu seorang guru tidak perlu takut gagal dan mau terus berusaha memajukan pendidikan bagi dirinya dan orang yang didiknya. Percaya diri juga di dapat dari kepercayaan yang diberikan oleh orang lain pada seorang individu. Seorang menjadi percaya diri karena mendapat rangsangan (stimulus) dan penguatan (reinforcement) yang besifat membangun percaya. dirinya. Stimulus atau rangsangan ini dapat berupa pujian (non material) atau penghargaan berupa barang atau benda (material). Sedangkan reinforcement adalah segala sesuatu yang bersifat mengukuhkan sesuatu yang telah ada Karitini Kartono (1997:127) menyatakan, seorang yang percaya mempunyai kepercayaan pada dirinya dan percaya pada orang lain. Kepercayaan diri ini membuat seseorang tidak bertindak tegas tanpa ragu-ragu dan tidak takut mengalami kegagalan. Kegagalan diterima sebagai pengalaman yang bermanfaat, selain itu orang yang percaya diri kaya dengan kreativitas dan harga diri.






Guru yang memiliki percaya diri, ia akan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana dia berada. Dikalangan masyarakat Indonesia guru masih diakui sebagai pribadi yang mampu membentuk seseorang untuk menimba ilmu. Peran guru sangatlah fital dalam kemajuan pendidikan di indonesia. Karena guru .juga merupakan salah satu fasilitas untuk mencapai pembelajaran yang berhasil. Moh Uzer Usman menyatakan seorang fasilitator hendaknya mengupayakan sumber belajar yang berguna dan bermanfaat untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.

Pada umumnya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi munculnya percaya diri seseorang antara lain : Kondisi fisik yang sehat dan normal, ekonomi yang mapan, status sosial yang tinggi, berpendidikan tinggi, kecerdasan, latar belakang keluarga yang harmonis dan lain-lain. Jika beberapa hal yang telah dikemukakan diatas dimiliki oleh seseorang tentu ia akan lebih percaya diri. Meskipun banyak faktor-faktor lain yang menumbuhkan rasa percaya diri seseorang. Seorang guru sebaiknya memiliki percaya diri yang didasarkan pada kompetensi dan profesionalismenya sebagai pengajar. Percaya diri seorang guru akan sangat berpengaruh pada penampilannya, seperti cara berpakaian, berkomunikasi, tingkah lakunya dan juga caranya mengajar.

Penampilan seorang guru harus sangat diperhatikan. Karena penampilan inilah yang dapat dengan mudah diamati orang lain melalui penampilanlah orang lain menilai pribadi yang bersangkutan. Baik dan buruknya penampilan sangat mempengaruhi orang lain dalam menghargai individu tersebut. Dan penampilan ini akan sangat membantu mengembangkan percaya diri. Seorang guru sebaiknya dapat menampilkan dengan baik. Jika seorang guru tidak mempedulikan penampilannya maka percaya dirinya akan dapat hancur. Sukmadinata mengatakan bahwa:

“Penampilan guru selain dipengaruhi oleh kemampuan keguruan, juga dipengaruhi oleh motivasi, kondisi sosial, kondisi fisik, kebutuhan psikis, serta fariabel-fariabel sekolah tempat mereka bekerja” (Sukmadinata, 1992:7)
Melihat demikian banyak faktor yang diduga mempengaruhi percaya diri seorang guru terhadap kepribadiannya, sebagaimana yang telah dikemukakan diatas, maka hal tersebut menggambarkan bahwa pengaruh percaya diri seorang guru akan sangat menentukan kemajuannya baik dalam karirnya kepribadiannya rumah tangganya dan dalam bermasyarakat.

Namun sebaiknya seorang guru khususnyaa bagi guru kristen tidak terjebak dengan pengaruh percaya diri yang berlebihan. Karena sikap percaya diri yang berlebihan (over-confidence) sangat tidak dikehendaki Allah. Beberapa hal tentang pengaruh percaya diri terhadap kepribadian guru yang telah dikemukakan diatas memang juga ada kalanya dialami oleh guru kristen. Tapi guru Kristen tidak harus berpatokan pada kriteria duniawi untuk menjadi lebih percaya diri. Guru kristen harus lebih berorientasi pada tugas panggilannya untuk memuridkan orang sebagai murid Kristus dari pada sekedar mendidik seorang murid menjadi pandai. Percaya diri seorang guru kristen sebaiknya didasarkan pada anugerah Allah yang telah memberikan kehidupan kekal padanya. Sebaliknya ia juga mengajarkan nilai-nilai kekekalan ini pada nara didiknya. “Bagi guru Kristen, nilai-nilai yang kekal tercakup dalam pekerjaannya dan gaya hidup guru itu akan terjalin dalam proses pengajarannya” (Clarence H. Benson, 2003:1)

B. Pengaruh Percaya Diri Guru Pada Nara Didiknya


Kepribadian dan penampilan seorang guru dalam mengajar sangatlah berpengaruh para nara didiknya. Pengaruh tersebut dapat membawa dampak yang positif atau sebaliknya bagi perkembangan nara didiknya. Seorang guru yang percaya diri nampak dari caranya ketika mengajar di depan kelas. Ia memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan nara didiknya. Ia mampu menghagai setiap kemampuan nara didiknya.
Guru yang percaya diri akan selalu bersikap terbuka kepada semua nara didiknya. Ia memiliki kemampuan untuk memotivasi dirinya maupun nara didiknya. Guru yang percaya diri akan berusaha terus untuk memberi semangat pada nara didiknya untuk mau belajar.

Guru yang percaya diri akan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada nara didiknya untuk bertanya dan mengeksplorasi segala kemampuannya. Dengan demikian setiap nara didik akan memiliki keberanian untuk mewujudkan minat belajarnya dalam proses belajar mengajar. Artinya nara didik tanpa ragu-ragu ataupun takut menyatakan pendapat dan minatnya dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terwujud, jika guru mampu mendesain proses pembelajaran secara kreatif yang didukung oleh sarana dan prasarana serta kepribadian guru itu sendiri.

Guru yang percaya diri akan berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman dan interaktif dalam hal ini sangat diperlukan kemampuan guru dalam mengelola kelas, “Guru yang percaya diri sebaiknya memiliki pemahaman psikologis pada nara didiknya. Ia harus mampu memahami bahwa masing-masing nara didik memiliki kapasitas dan kemampuan psikologis yang berbeda, yang dilatar belakangi oleh usia, tingkat kematangan, kondisi sosial, latar belakang kehidupan pribadi dan kondisi¬-kondisi sesaat yang dialami oleh nara didik” (Endang S. Hartanto, 2002:6)

Dengan memiliki pemahaman tersebut seorang guna akan dapat menentukan strategi dan metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan kelasnya. Guru yang percaya diri akan berusaha menciptakan hubungan yang terbuka dengan nara didiknya.
Hal-hal tersebut di atas adalah ciri-ciri seorang guru yang percaya diri di dalam menciptakan kondisi belajar yang nyaman di dalam kelas. Jika seorang guru telah mampu mengkondisikan suasana belajar mengajar seperti yang telah dikemukakan di atas, maka hal tersebut akan membawa dampak yang positif bagi kemajuan nara didiknya. Kemajuan tersebut dapat di bidang intelektual, moralitas, dan spiritualitas.

Seorang guru yang percaya diri akan berusaha membara naradidiknya merasa tertarik dengan materi yang disampaikannya. Jikalau nara didik sudah memiliki keterkaitan pada suatu bidang studi maka akan mempermudah ia untuk memahami dan mengerti materi yang diajarkan. Oleh sebab itu sangatlah diperlukan keterampilan ini sebagai modal seorang guru dalam mengajar Ketika seorang guru sedang mengajar di kelas, ia sementara menjadi pusat perhatian nara didiknya. Baik gerak-gerik dan penampilannya mengajar sangat berpengaruh pada minat belajar nara didiknya. Bahkan tidak bisa dipungkiri sikap guru sangat berpengaruh pada kepribadian nara didik.

Oleh sebab itu seorang guru harus dapat mempertanggungjawabkan setiap pengajaran yang diberikannya. Bukan tidak mungkin seorang guru sedang membawa nara didiknya ke arah yang salah, yang akhirnya membawa bencana bagi nara didik itu sendiri dan orang lain. Percaya diri juga merupakan kemampuan kepribadian yang benar-benar harus dikuasai oleh seorang guru. DR. Stephen Tong hingga sekarang masih terus mengajar dan mendidik ribuan orang melalui khotbahnya, maupun seminar-seminar, KKR-KKR yang diadakan diberbagai negara. Ia menginginkan para murid dan orang-orang yang di didiknya bisa seperti dia, karena ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan ia yakin bahwa memang menginginkan agar nara didiknya meneladani hidupnya, ia harus dapat, membuktikan kualitasnya dan dedikasinya sebagai seorang guru yang baik.
Seorang guru tentu ingin agar nara didiknya menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diajarkannya. Namun yang seorang murid yang paling kecilpun dan masih anak-anak ia telah mampu menilai sikap gurunya. Ia mampu membedakan mana guru yang memiliki kepribadian yang baik dan tidak. Guru yang percaya diri juga secara tidak langsung sedang mengajarkan kepercayaan diri tersebut kepada nara didiknya. Sikap guru yang gugup, gelisah, tegang, dan kaku dan sangat berpengaruh pada nara didiknya pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Guru yang bersikap tidak percaya diri akan menyebabkan suasana belajar mengajar yang tegang dan tidak nyaman. Kalau sudah demikian maka nara didik tidak akan lagi menghargai gurunya. Akibatnya guru tidak memiliki wibawa dan tidak mampu bertindak tegas, otomatis hal ini akan dapat memicu kekacauan dalam kelas. Karena semua murid akan bertindak menurut kehendak hati mereka dengan tanpa memperdulikan lagi gurunya.

Nara didik yang sering membuat masalah (trouble marker) di kelas belum tentu memang dia adalah anak yang nakal. Sering kali pemberontakan yang dilakukannya sebagai wujud pelampiasan dari ketidak puasannya terhadap sistem guru dalam mengajar. Bahkan mungkin juga ia tidak menyenangi kepribadian guru tersebut. Nara didik sering kali mengalami kesulitan belajar dalam kelas bisa dikarenakan ia tidak bersimpati dengan guru yang mengajarnya. Seringkali ketika seorang nara didik ditanya mengapa ia tidak menyukai mata pelajaran tertentu? Jawabannya adalah karena guru si A orangnya galak, guru si B terlalu kaku, guru si C sangat membosankan dan seterusnya. Setidaknya ada 4 faktor penting yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar.

“Didalam pendidikan ada 4 faktor yang berurutan, yang tidak boleh dibalik

1. Guru sebagai pendidik,
2. Bahan pendidikan,
3. Murid sebagai penerima pendidikan, dan
4. Fasilitas untuk mendukung pendidikan” (Stephen Tong, 1993:52)

Percaya diri seorang guru akan sangat membantu untuk menjalin hubungan yang erat dengan nara didiknya, karena jika seorang telah memiliki hubungan yang baik dengan nara didiknya, dia akan dengan mudah dapat mengindoktrinasi nara didiknya dengan pengajaran yang ia berikan. Bagi seorang nara didik ia akan dapat belajar dengan nyaman, memiliki minat belajar, dan responsif jika ia diajar oleh seorang guru yang mampu menempati dengan pribadinya. DR. Stephen Tong mengatakan “Sebaiknya guru-guru sekolah tidak hanya mengotitak muridnya dengan peraturan-¬peraturan sekolah atau dengan pelajaran dan kurikulum sekolah. Lebih baik guru mempunyai kontak dengan muridnya, berupa kontak dari ke jiwa, dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran, dan dari emosi ke emosi. Berarti terjalin hubungan antar pribadi dengan prihadi”. (Stephen Tong, 1993:54)

Dengan demikian nara didik akan memiliki sikap menghormati dan menghargai gurunya. Guru yang memiliki Percaya diri yang baik ia mampu membangkitkan semangat belajar nara didiknya. Dengan demikian nara didiknya akan terus-menerus haus akan pengajaran gurunya. Timbulnya perasaan seperti ini akan mengakihatkan pendidikan menjadi suatu aktifitas yang hidup, bukan aktifitas yang statik. Seorang nara didik pada umumnya sering mengidolakan figur seorang guru yang menurut mereka supel. Supel disini dimaksudkan guru tersebut pandai bergaul dan mampu menyesuaikan diri dengan nara didiknya. Pada dasarnya nara didik akan mudah bersikap terbuka dengan seorang guru yang memposisikan dirinya sebagai “sahabat” bagi mereka dari pada seorang guru yang mempromosikan diri sebagai “diktator”.

Seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire, “Dengan model pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, guru mendiktekan, murid mencatat, guru bertanya, murid menjawab, dan seterusnya adalah suasana belajar rutinitas yang sering terjadi saat ini”. (Dede Rosyanda, 2004:89)

Nara didik kebanyakan tidak suka dengan sikap guru yang suka memerintah dan selalu mendikte. Dan tidak pernah memberikan kepercayaan kepada nara didiknya dalam mengerjakan sesuatu. Disinilah letak keunggulan guru yang percaya diri, karena dengan percaya dirinya ia tahu bagaimana seharusnya ia bersikap dan bertingkah laku di depan nara didiknya. Ia tahu era yang menjadi kebutuhan nara didiknya. Menjadi pribadi yang menyenangkan sekaligus berwibawa itu adalah ciri-ciri guru yang percaya. diri. Akan menjadi apa kelak seorang nara didik tergantung bagaimana “fondasi yang ditanamkan oleh gurunya.”






Meskipun seorang guru mampu menyampaikan materi dengan baik jikalau tidak disertai dengan pemahaman psikologis nara didiknya maka keberhasilan guru dalam mengajar diragukan. Nara didik yang diajar dengan baik, pada saat ia sudah tumbuh dewasa, bentuk wajah, tempat tinggal dan lain-lain. Namun pondasi pengajaran yang kokoh yang ditanamkan oleh seorang guru dengan baik dalam pribadi nara didiknya tidak akan pernah hilang dan akan menjadi bekal bagi kehidupannya.

Bersambung ke pembahasan selanjutnya: Kajian Teori Percaya Diri Poin C dan D

Semoga bermanfaat

Salam
Yonas Muanley


Saturday, February 15, 2020

Contoh Bab II Tentang Pembahasan Injil Yohanes

Bidang kajian untuk Program Studi Teologi. Postingan ini sebagai contoh bila ada yang membahas secara pendekatan teologi untuk tema-tema tertentu dalam Injil Yohanes seperti "Kebenaran itu Memerdekakan Kamu". Dapat menyediakan bab khusus untuk membahas Latar Belakang Injil Yohanes. Upaya ini untuk membuat teks tertentu dalam Injil Yohanes dapat dipahami secara baik. Dengan demikian postingan berikut ini hanya menjadi contoh.







BAB II
LATAR BELAKANG INJIL YOHANES

A. Penulis

Unsur penting dalam memahami isi Injil Yohanes yaitu mengetahuia siapa penulis. Menurut Ola Tulluan, penulis Injil Yohanes adalah seorang Yahudi yang mengenal beberapa berikut:
(1) Mengetahui daerah Palestina secara dekat.
(2) Mengetahui relasi orang Yahudi dan orang Samaria. Dua suku bangsa ini tidak ramah satu dengan yang lain, mereka juga menjauhkan diri dari pergaulan antara orang Yahudi dengan Samaria (bnd. Yoh. 4:2)
(3) Mengetahui perselisihan antara orang Yahudi dan Samaria tentang rumah ibadah (bnd. Yoh. 4:2)
(4) Tahu perayaan keagamaan Yahudi dari aspek waktu dan artinya (bnd. Yoh. 7:2, 11:55)
(5) Mengetahui letak geografis daerah Galilea (bnd. Yoh. 1:44, 2:1), Samaria (bnd. Yoh. 4:5), Yerusalem dan sekitarnya (bnd. Yoh. 11:8) (Ola Tulluan, 1999: 73)


Selain pokok-pokok di atas, penulis Injil Yohanes memperkenalkan dirinya sebagai saksi mata dari peristiwa-peristiwa yang disampaikan dalam tulisannya (bnd. Yoh. 1:14, 19:35). Hal ini hendak menegaskan bahwa penulis adalah saksi langsung atau saksi mata yang mengerti akan rahasia Injil Yesus Kristus.

Pada ayat-ayat selanjutnya khususnya dalam Yohanes 21:24, dinyatakan bahwa Injil ini ditulis oleh “kita”. Mengenai kesaksian murid yang dikasihi, yaitu Yohanes anak Zebedeus tentang Yesus dan “kita” menegaskan bahwa kesaksian murid yang dikasihi itu benar. Tampaknya, Injil ini menyatakan hubungan yang akrab antara Yesus dan Yohanes yang menegaskan bahwa kesaksiannya mengenai Yesus (bnd. 13:23; 21:20).

Berdasarkan pertimbangan internal teks, yaitu dalam Yohanes 8:40, penulis Injil Yohanes menyatakan bahwa Yesus menyebut diri-Nya “seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu” (Yoh. 8:40). Oleh karena kesaksian Yesus itu benar, maka semestinya Pilatus tidak lagi mengajukan pertanyaan “apakah kebenaran itu?” (18:38). Sebenarnya Yesus telah mempertegas “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup” (14:7) dan bahwa “firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Selanjutnya disebutkan bahwa Roh Kudus yang akan “memimpin kamu ke dalam segala kebenaran” (16:13). Jadi, sebenarnya keabsahan kebenaran pengajaran dan karya Yesus dapat diterima dan bukan untuk diragukan (J. Ramsey Michaels, 2010: 24-25). Akan tetapi pada waktu itu, tidak semua orang pada waktu itu menerima bahwa Yesus adalah kebenaran dan bahwa ajaran-Nya adalah kebenaran (Leo G. Cox 2002:157-159)

Merujuk pada informasi dalam Injil Yohanes, ada kesulitasn untuk memastikan siapa penulis Injil Yohanes tidak menyebutkan namanya. Jadi ada ada beberapa kemungkinan bahwa penulis Injil ini adalah Yohanes anak Zebedeus. Selanjutnya bila diadakan pemeriksaan teks Injil Yohanes 1:35-51 menyatakan bahwa ada dua murid yang mengikuti Yesus (bnd. Yoh.1:37), murid yang dimaksud yaitu Andreas (bnd. Yoh. 1:40), dan murid yang berikut tidak disebutkan namanya.

Sementara nama muid-murid yang lain disebut. Hanya nama Yohanes yang tidak disebut.
Dari sisi gaya penulisan seperti yang disebutkan di atas dapat dipastikan bahwa penulis yang biasanya menyebut nama orang lain tetapi namanya sendiri tidak disebutkan. Sehingga dipastikan bahwa yang menulis Injil Yohanes adalah Yohanes sendiri, dialah yang dimaksudkan dalam Yoh. 1:40.






David Iman Santoso meneybutkan bahwa rasul Yohanes adalah anak Zebedeus, seorang nelayan dari Galilea (bnd. Mark. 1:20). Santoso melanjutkan komentarnya dengan menyatakan bahwa keluarga Zebedeus mempunyai relasi yang baik di kota Yerusalem, sebab Yohanes dikenal oleh imam besar (bnd. Yoh. 18;16), diperkirakan keluarga Zebedeus memiliki rumah di Yerusalem sehingga ketika Yesus menyerahkan pemeliharaan ibu-Nya kepada Yohanes yang memiliki rumah ayahnya di Yerusalem. (David Iman Santoso, 2007:13)

Pernyataan di atas menegaskan bahwa penulis Injil Yohanes adalah Yohanes anak Zebedeus. Kepastian ini sesuai dengan pengakuan gereja mula-mula yang tidak ragu-ragu menerima Injil Yohanes sebagai Injil yang ditulis oleh Yohanes. Seorang uskup yaitu Ireneus yang hidup antara tahun 142 – 202 Masehi menyatakan bahwa: “Yohanes murid Tuhan Yesus, dan yang bersandar dekat kepada-Nya, menulis Injil ke-4 pada waktu dia tinggal di Efesus. Klemens dari Alxandria juga membenarkan bahwa Yohaneslah yang menulis Injil Yohanes (Ola Tulluan).

Menujuk pada tradisi dan dukungan bukti-bukti dari sumber-sumber purba, memstikan bahwa penulis Injil Yohanes adalah rasul Yohanes. Dalam Injil ini sendiri tidak ada hunjukan tentang siapa penulisnya. Karena itu perlu dipertimbangkan dengan seksama bukti luar itu untuk menentukan apakah ia dapat dipercayai. Sekurang-kurangnya pada masa Irenaeus (kira-kira 150 Masehi) orang mengakui bahwa Injil ini ditulis oleh rasul Yohanes, dan kesaksian Irenaeus ini diperkuat oleh kemungkinan bahwa ia berkenalan dengan tradisi otentik melalui perkenalannya yang terdahulu dengan Polykarpus. Polykarpus tidak menghunjuk kepada atau mengutip dari Injil Yohanes dalam suratnya kepada orang Filipi, tapi ini tidak berarti bahwa dia tidak kenal Injil ini (sarapanpagi.org /tentang kitab yang ditulis Yohanes).
Satu-satunya penolakan terhadap kepenulisan oleh rasul Yohanes datang dari suatu kelompok yang dikenal dengan nama Alogoi, yang rupa-rupanya adalah suatu kelompok pecahan kecil di Roma.

Hyppolytus adalah salah satu tokoh yang menolak pandangan yang tidak benar tentang Yohanes sebagai penulis Injil Yohanes. Memang benar bahwa tidaklah mudah memastikan sejarah Yohanes sebelum Irenaeus. Namun harus dikatakan bahwa Injil Yohanes telah dianggap selaku kitab yang berwibawa untuk waktu yang cukup lama jika ditempatkan secara tak tertampkk pada taraf yang sama dengan ketiga injil lainnya selaku bagian dari Injil yang rangkap empat.
Beberapa pertimbangan yang bersumberkan isi Injil Yohanes memperkuat, walaupun tidak memastikan kebenaran tradisi, sebagaimana misalnya: Yohanes 19:35, "Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebesaran, supaya kamu juga percaya." Yohanes 21:24, "Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar."

Walaupun seluruh hunjukan ini dipahami secara berlainan oleh sementara ahli-ahli, namun adalah masuk akal untuk melihat ayat-ayat ini selaku tuntutan penulis sendiri bahwa ia adalah saksi mata.
Bila diamati secara teliti maka akan nampak bahwa penulis mengetahui secara rinci soal Palestina serta adat-istiadat orang Yahudi. Dengan begitu, sangat logis bila penulis Injil Yohanes adalah orang Yahudi Palestina, walaupun disadari bahwabukti ini tidak menuntut hal ini.

Sekalipun demikian, ciri-ciri Helenistis dari Injil Yohanes ini dikatakan oleh sementara orang justru melawan ketelitian tradisi purba, karena rasul Yohanes bukanlah Yahudi Helenistis.
Pengetahuan yang baik dari penulis tentang metode-metode pembahasan orang rabi adalah satu alasan lain mengapa beberapa ahli menolak kepenulisan rasuli, karena Yohanes adalah nelayan Galilea. Walaupun begitu harus dinyatakan disini bahwa deskripsi rabiniah ditemukan dalam ajaran Yesus, bukan dalam catatan penulis.
Lagipula, nampaknya penulis Injil Yohanes menempuh sikap berseberangan dengan orang Yahudi, seolah-olah mereka adalah dari bangsa yang lain daripadanya, suatu hal yang agak mengejutkan bila sekiranya rasul Yohanes adalah penulisnya. Tapi ini dapat merupakan bukti tentang perasaan dalam diri seorang Kristen Yahudi tentang permusuhan bangsanya yang pahit terhadap Yesus.

Teori-teori lain tentang penulis ini umumnya berusaha mempertahankan suatu hubungan antara rasul Yohanes dengan Injil ini dengan memandangnya selaku saksi, sementara menduga adanya seorang penulis lain. Teori yang dikemukakan secara amat meluas ialah bahwa seorang Yohanes lain, dikenal dengan nama Penetua Yohanes, adalah penulis itu. Bila ada dua orang Yohanes yang berhubungan sedemikian dekatnya dalam menghasilkan Injil ini, bukanlah tidak mungkin bahwa dapat timbul kekacauan antara mereka dalam tradisi purba. Tapi bahwa pernah ada seorang Penetua Yohanes tergantung pada ucapan Papias yang agak kabur, dan Papias tidak menyinggung sama sekali pada suatu Injil yang dituliskannya.
Beberapa ahli menyangkal semua hubungan rasul Yohanes dengan Injil ini, dan mengatakan bahwa nama Yohanes dikaitkan dengannya untuk memperoleh wibawa rasuli.

Dalam menghadapi semua pendapat yang beraneka ragam itu, orang Kristen memang tidak boleh dogmatis, namun pandangan bahwa rasul Yohanes menulis Injil Yohanes paling cocok dengan bukti-bukti dalam maupun luar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa menurut Injil Yohanes sendiri, penulis Injil Yohanes ini adalah ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’. Bukti di dalam Injil Yohanes mendukung bahwa Yohanes adalah penulisnya. Hal ini dilihat dalam ayat-ayat seperti Yoh 21:20,24; Yoh 13:23-25 18:15-16 19:26-27 20:3,4,8 21:7. Selain itu berdasarkan istilah yang digunakan yaitu ‘murid yang dikasihi oleh Yesus’ menunjukkan kejelasan yang menunjuk pada Yohanes. Yohanes adalah salah satu dari tiga murid yang terdekat dengan Yesus, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ketiga murid ini adalah murid-murid yang terdekat dengan Yesus. Hal ini dapat diamati dari beberapa peristiwa dimana Yesus hanya membawa ketiga murid ini (bnd. Mat 17:1 Luk 8:51 Mat 26:37). Kemudian dalam Yoh 20:3,4,8 & 21:20,24 jelas Nampak terlihat bahwa ‘murid yang dika¬sihi Yesus’ itu dibedakan dari Petrus. Oleh karena itu maka jelas bahwa penulis Injil Yohanes bukan Petrus, dan bukan juga Yakobus karena Yakobus telah mati mendahuluinya (bnd. Kis 12:2)
Oleh karena itu satu-satunya kemungkinan yang terakhir yaitu Yohaneslah penu¬lis dari Injil Yohanes ini. Yohanes adalah seorang penjala ikan (bdn. Mat 4:21-22), dan seorang yang tidak terpelajar (bnd. Kis 4:13), tetapi Yohanes dipakai oleh Allah untuk menuliskan sebagian dari Kitab Suci yaitu Injil Yohanes, dan tiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Jadi, penulis Injil adalah salah seorang di antara empat penulis Injil yang paling dekat dengan Yesus Kristus (Ola Tulluan, 1999:73)

B. Waktu dan Tempat Penulisan

Di dalam sumber Wikipedia menjelaskan bahwa waktu penulisan Injil Yohanes diperkirakan antara tahun 40 – 140 Masehi (Wikipedia.org /Injil Yohanes). Seorang tokoh gereja yaitu Irenaeus berpendapat bahwa Injil Yohanes di tulis di wilayah Asia Kecil, yaitu di kota Efesus. Pada tahun 40-140 M, gereja berkembang kea rah kedewasaan. Dengan demikian gereja yang bertumbuh membutuhkan pengajaran. Salah satu ajaran tersebut yaitu tentang iman. Jadi, tahun penulisan Injil Yohanes adalah diperkirakan tahun 40 – 140 M.

Di atas telah ditegaskan bahwa Injil Yohanes di kota Efesus. Kota Efesus pada zaman Perjanjian Baru, Efesus adalah kota terbesar kedua di dunia saat kekuasaan Romawi menguasai sampai wilayah Timur. Kota Efesus juga dikenal sebagai kota pusat perdagangan, di kota ini terdapat salah satu jemaat dari tujuh jemaat di Asia Kecil. Kota Efesus juga terkenal karena pertemuan-pertemuan penting seperti konsili, ada konsili Efesus.
C. Tujuan Penulisan
Injil Yohanes ditulis dengan tujuan melawan pengajaran orang-orang Kristen yang dipengaruhi oleh ajaran filsafat yang dicapur adukan dengan filsafat Yunani sehingga kelompok ini mearasa memiliki ginosko yang lebih tinggi, atau biasa dsiebut dengan kelompok Gnostik.

Penulis Injil Yohanes mempertahankan keyakinan sebagaimana yang dipaparkan dalam Yohanes 20:31, yakni supaya para pendengar yaitu para murid Yesus Kristus percaya bahwa Yesus adalam mesia, anak Allah. Dan oleh iman kepada Yesus Kristus memperoleh kehidupan kekal dalam Yesus Kristus. Penulis menekankan dua hal yang dipahami dalam istilah Yunan yang dipakai yaitu: Yohanes memakai memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive ("sehingga kamu dapat terus percaya"). Bagian pertama menegaskan bahwa tulisan Yohanes bertujuan untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan.

Tujuan kedua yaitu Yohanes menulis Injil Tentang Yesus Kristus sebagaimana yang ada dalam Injil Yohanes dilaksanakan dengan tujuan untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak (bnd. Yoh. 17:3).
Selain itu Injil Yohanes juga ditujukan bagi mereka yang memiliki minat terhadap sofia yaitu hikmat (kebenara) atau filsafat. Beberapa pokok yang terkandung dalam isi Injil Yohanes juga sengaja ditulis untuk melengkapi berita tentang kehidupan dan karya Yesus. (Wikipedia.org Injil Yohanes)

Bagian terakhir ini perlu ditegaskan untuk menghindari kesalahan pemahaman karena dalam bagian yang lain, Paulus menyatakan bahwa berhati-hati terhadap filsafat yang kosong. Hal ini tidak berrati filsafat tidak berguna karena intinya filsafat adalah proses berpikir mendalam terhadap relaitas dan menghasilkan apa yang disebut dengan kebenaran pengetahuan yang disebut Ilmu pengetahuan. Istilah kebenaran yang memerdekakan Nampak mengarah pada filsafat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bagian ini memberi pemahaman bahwa bagian-bagian tertentu dalam Injil Yohanes bersifat filosofis.






C. Maksud Penulisan

Adapun maksud penulisan Injil Yohanes yaitu untuk melawan ajaran Gnostikisme dengan mempertahankan suatu keyakinan atau apologetic (Merrill C. Tenney, 1995:231-245). Yohanes menyatakan tujuan untuk tulisannya dalam Yohanes 20: 31, yaitu "supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya." Naskah kuno Yunani dari Yohanes memakai satu dari dua bentuk waktu untuk kata Yunani yang diterjemahkan "percaya", yaitu aorist subjunctive ("sehingga kamu dapat mulai mempercayai") dan present subjunctive atau "sehingga kamu dapat terus percaya" (Wikipedia.org Injil Yohanes).
Yohanes menulis Injil dengan maksud untuk meyakinkan orang yang tidak percaya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan diselamatkan. Selain itu, Yohanes menulis dengan maksud yang mulia yaitu untuk menguatkan dasar iman supaya orang percaya dapat terus percaya kendatipun ada ajaran palsu, dan dengan demikian masuk dalam persekutuan penuh dengan Bapa dan Anak. Kemudian Injil ini juga ditujukan kepada orang yang menaruh minat pada filsafat. (Wikipedia.org Injil Yohanes).

Pernyataan di atas memang bukanlah pengakuan final dari para ahli karena ada pakar yang meragukan adanya ketergantungan Injil ini dengan Injil Sinoptik, Walaupun demikian kebanyakan pakar menerima bahwa Injil ini memang mempunyai ketergantungan dengan Injil-injil yang lain, paling tidak, penulisnya mengetahui isi ketiga Injil yang lain (Wikipedia.org Injil Yohanes).

Semoga bermanfaat

Salam

Saturday, February 8, 2020

Contoh Bab I Karya Ilmiah Teologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Alkitab adalah kanon Kristen. Segala ajaran dan perilaku orang percaya dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan isi Alkitab. Untuk memahami isi Alkitab maka dipakai berbagai pendekatan, seperti pendekatan biblika (eksegesis, teologi PL dan PB), dogmatika atau sistematik teologi. Pendekatan yang dipakai disini yakni pendekatan analisis yang bersifat teologis terhadap makna kesempurnaan yang diajarkan Yesus dalam Injil Matius 5:48.

Ada beberapa kata dalam alinea di atas yang perlu diberi arti, yaitu kata pendekatan biblika (eksegesis, teologi PL dan PB), dogmatika atau sistematik teologi. Kata eksegese dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk menafsir sesuatu. Eksegese dapat pula diartikan membawa keluar atau mengeluarkan. Berdasarkan kata benda dari exegeomai memiliki pengertian tafsiran atau penjelasan (John H. Hayes dan Carl R. Holladay, 2006:1-4).






Selain itu eksegese dapat diartikan upaya mencari makna menurut penulis Alkitab dengan berpedoman pada kata-kata Ibrani dan Yunani yang dipakai. Dengan kata lain pendekatan eksegesis terhadap teks Alkitab bermaksud untuk memahami apa sesungguhnya makna asli dari penulis kitab dengan frasa yang dipakai (Yonas Muanley, 2013:292).

Pendekatan teologi biblika berusaha mencari makna berdasarkan tema-tema dalam Alkitab. Pendekatan ini bersifat lintas teks dan berusaha memahami tema tertentu dalam ajaran Alkitab. Sedangkan pendekatan dogmatika atau sistematik teologi yaitu sebuah pendekatan yang berusaha mensistematiskan/mengurutkan ajaran-ajaran dalam Alkitab dalam urutan yang logis-teologis dan dapat diterima secara rasional dan juga nirakali (dilura rasio). Semuanya disusun secara sistematis (W.R.F. Browning, 2009: 91)


Kesempurnaan merupakan salah satu konsep atau variabel yang didambakan oleh setiap orang. Allah adalah sempurna, dan telah menciptakan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa dalam kesempurnaan yaitu tanpa dosa (kesempurnaan secara moral), kondisi kesempurnaan itu dapat disaksikan dalam narasi Kejadian 1 dan 2. Akan tetapi kesempurnaan moral itu mengalami gangguan yaitu kegagalan manusia dalam dosa sebagaimana muncul dalam deskripsi Kejadian 3. Dalam perkembangannya, manusia yaitu Kain membunuh adiknya. Hal ini menunjukkan penyimpangan kesempurnaan. Seharusnya Kain mengasihi adiknya tetapi justru kain bertindak tidak sempurna. Kondisi demikian berkembang dalam kehidupan umat pilihan-Nya sampai datang-Nya Yesus Kristus.

Dalam Kamus Filsafat, sempurna memiliki beberapa pengertian yakni: (1) lengkap, (2) murni, (3) tidak ada kesalahan. Tidak memiliki kemungkinan untuk cacat atau tidak bercacat (Lorens Bagus, 1996:986). Berdasarkan definisi ini, kata sempurna menunjukkan kualitas moral yaitu tanpa salah. Hal ini berarti sempurna adalah kondisi dimana tidak terjadi pelanggaran atau kesalahan dalam diri seseorang.

Matius 5:48 telah menjadi diksusi para ahli, diskusi itu salah satunya adalah pokok yang bersifat teologis. Percakapan teologis berkisar pada doktrin “kesempurnaan Kristen” (Christian Perfection) yang diajarkan John Wesley, Victoria L. Campbell. Mereka menulis artikel berisi pembelaan terhadap doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan oleh Wesley.
Menurut Campbell, ajaran Wesley tentang kesempurnaan merupakan sebuah “sasaran” (goal) atau “tujuan akhir” (ends). Artinya, kesempurnaan Kristen menurut Wesley bukanlah sebuah status kekinian yang dapat dinikmati oleh orang percaya saat ini dan di sini, melainkan sebuah sasaran atau tujuan akhir yang menjadi orientasi dari seluruh kehidupan Kristiani. Wesley memberi ajaran ini untuk konter terhadap doktrin predestinasi Calvinisme yang menurutnya dapat melahirkan Antinomianisme (sikap mengabaikan hukum-hukum moral).

Seorang yang bernama Cambell mewakili teolog Wesleyan yang mempublikasikan artikelnya juga dalam sebuah jurnal dari sebuah seminari yang menganut teologi Wesleyenisme, yaitu Asbury Theological Seminary, sementara Baxter adalah seorang teologi Injili yang lebih dekat pemahaman teologisnya kepada aliran Calvinisme. Di sisi lain, seorang profesor Perjanjian Baru yang mengajar di Asbury Theological Seminary termasuk juga penganut teologi Wesleyanisme, Ben Witherington III, mempublikasikan sebuah buku mengenai problem teologi Injili yang di dalamnya terdapat diskusi mengenai doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan Wesley.

Menurut Witherington, Wesley memang mengajarkan doktrin kesempurnaan Kristen yang bersifat progresif, bukan status kekinian, namun Wesley memang percaya bahwa progress menuju kesempurnaan Kristen itu dapat tercapai dalam hidup ini. Latar pemahaman ini dipengaruhi oleh definisi Wesley tentang dosa. Baginya, dosa adalah “perlawanan secara sengaja terhadap hukum-hukum moral yang telah tercatat dalam Alkitab”. (Ben Witherington III, 2005:209).

Hal penting yang perlu kembali ditegaskan adalah bahwa diskusi teologis di atas mengambil acuan biblikalnya pada beberapa teks yang relevan dengan isu ini, yaitu Matius 5:17-48; 1 Korintus 10:13; 1 Yohanes 1:8-10; 2:2; 3:6-9; dan 4:12, 17-18.Akan tetapi apakah Matius 5:48, mengindikasikan bahwa orang-orang Kristen harus mencapai suatu tingkat kehidupan yang sempurna di dalam segala aspeknya dalam hidup ini? Apakah yang dimaksudkan dengan “sempurna” (te,leio,j) dalam teks ini?

Yesus selama masa pelayanan-Nya mengajarkan para murid dengan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi murid-murid-Nya bahkan setiap orang yang menjadi pengikut-Nya. Di dalam Matius 5:48 Yesus menyatakan: “karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Matius 5:48 merupakan ringkasan ucapan Yesus yang dimulai dari ayat 21 sampai 47. Bagian ini menegaskan bahwa murid-murid Yesus harus sempurna karena rujukan pada Bapa yang adalah sempurna. Kata sempurna dalam ungkapan ini dapat diartikan menjadi lengkap atau menjadi utuh yang memiliki korelasi dengan kedewasaan dan keutuhan moral seseorang. Kedewasaan yang digambarkan dalam ayat ini berhubungan dengan ketaatan seseorang kepada Allah (Barklay M. Newman dan Philip C. Stine, 2008:142).

Berdasarkan uraian di atas menjadi jelas bahwa ungkapan “sempurna” dalam Matius 5 : 48 memiliki pengertian bahwa setiap orang percaya atau pengikut Yesus Kristus harus memiliki kelakuan yang baik, tidak ada cacatnya seperti kelakuan Bapa, atau sempurna mengandung pengertian setiap pengikut Yesus harus taat kepada Tuhan sepenuhnya, sama seperti Bapa mengasihi setiap orang, Bapa di sorga memperhatikan memperhatikan setiap orang maka setiap orang percaya melakukan kehendak Allah secara sempurna. Jadi Yesus meminta pengikut-Nya untuk sempurna karena Bapa pun sempurna.


Akan tetapi masalah yang terjadi adalah terjadi tindakan tidak sopan dari seorang anak kepada orangtua. Misalnya anak-anak Nuh, ada yang bertindak sempurna tetapi juga tidak sempurna. Ham bertindak tidak terpuji, yaitu melihat aurat ayahnya(Kej. 9:22, pembangunan menara babel. Mendirikan menara babel sebenarnya tidak sa;ah hanya saja yang salah yaitu pada tujuan mendirikan menara babel yaitu supaya tidak terpencar ke seluruh muka bumi, sementara Allah bermaksud untuk memenuhi bimi ini (bnd. Kej. 11). Penyimpangan perilaku itu berlanjut dari zaman ke zaman.Dengan kata lain, tindakan moral yang tidak sempurna terjadi dari zaman ke zaman.

Dalam Alkitab, narasi tentang ketidaksempurnaan terjadi dalam aspek penyimpangan seksual (bnd. Kej. 6:2), dan kejahatan lainnya (bnd. Kej. 6:5). Richard L.Pratt Jr. menyatakan: “terbentuknya sifat unggul atau karakter manusia telah berubah karena dosa. Manusia tidak lagi mencerminkan gambar Allah yang sempurna, manusia tidak lagi berpikir dan bertindak sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa” (Richard L. Pratt Jr., 2000:39)
Berdasarkan paparan masalah di atas variabel yang dirumuskan untuk penelitian ilmiah yakni: "Analisis Teologis Kesempurnaan Menurut Matius 5:48 dan implementasinya bagi Kualitas Kesaksian Kehidupan Jemaat Gereja .... di .....

B. Identifikasi Masalah

1. Apa arti asli “sempurna” dalam Matius 5:48
2. Pendekatan eksegese yang lebih tepat untuk memahami “sempurna” dalam ucapan Yesus menurut Matius 5:48
3. Pendekatan etika lebih cocok terhadap makna “sempurna” dalam Matius 5:48
4. Pendekatan Teologis atau analisis teologis dapat menolong memahami makna ucapan “sempurna” dalam Matius 5:48
5. Pendekatan filosofis dapat membantu memahami makna “sempurna” dalam ucapan Yesus menurut Matius 5:48

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identivikasi masalah di atas menjadi jelas bahwa ada beragam pendekatan dalam usaha memahami apa yang dimaksud penulis Injil Matius 5:48 yang Dari tidak dapat dipakai secara menyeluruh dalam penelitian ini. Hal ini disebabkan karena berbagai keterbatasan seperti waktu, biaya dan tenaga. Oleh karena itu dari beragama pendekatan itu penulis memakai pendekatan teologis dalam memahami makna Matius 5:48 dan korelasinya dengan pertumbuhan rohani mencapai kedewasaan rohani. Korelasinya dilator belakangi oleh pemahaman bahwa makna Matius 4:58 tidak memiliki aksiologi kekinian bila tida ada relevansinya dengan kehidupan kini. Oleh karena itu maka hasil kajian itu dihubungkan dengan variabel implementasi kesempurnaan dalam kehidupan orang Kristen masa kini. Jadi masalah penelitian dibatasi pada poin 4

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan masalah di atas dirumuskan beberapa pertanyaan pengarah. Pertanyaan pengarah ini bermaksud sebagai pedoman kerja bagi penulis dalam mengadakan penelitian variabel penelitian: kajian teologis tentang kesempurnaan menurut Matius 5:48 dan implementasinya bagi Pertumbuhan Rohani Mencapai Kesempurnaan. Berdasarkan pemahaman demikian maka penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Latar Belakang Injil Matius?
2. Bagaimana kajian Teologis “sempurna” yang ditekankan dalam Matius 5:48?
3. Bagaimana implikasinya dalam kehidupan orang percaya masa kini?

E. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan Latar Belakang Injil Matius
2. Menjelaskan kajian teologis terhadap Matius 5:48
3. Menjelaskan implementasinya bagi kedewasaan dalam pertumbuhan rohani orang percaya masa kini

F. Manfaat Penelitian

1. Memberi kontribusi bagi lembaga pendidikan teologi yaitu STT …. dalam pengembangan Teologi Perjanjian Baru
2. Memberi kontribusi bagi Gereja dalam pembinaan jemaat tentang kesempurnaan moral warga jemaat
3. Memberi kontribusi bagi hamba-hamba Tuhan dalam upaya membina jemaat yang digembalakan
4. Mendalami pemahaman penulis guna kepentingan pelayanan

G. Hipotesis

Jika ucapan Yesus tentang “kamu harus sempurna seperti Bapa adalah sempurna maka akan ditemukan makna yang sangat bermanfaat bagi upaya pemantapan moral yaitu pertumbuhan kedewasaan rohani

H. Metode Penelitian

Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok yaitu: Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian? Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data? Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut? Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur (Penelitian kepustakaan= Lybrary Research), yaitu studi terhadap literatur yang berhubungan dengan judul tesis dan berusaha menganalisis data berupa kata-kata dan disusun secara sistematis (Moh. Nasir, 1998:111-112). Sedangkan metode prnulisan yang dipakai adalah metode deskriptif dan teologis. Dikatakan deskriptif karena menggambarkan peristiwa apa adanya berdasarkan penyelidikan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991:226). Dikatakan teologis karena berhubungan dengan karya Tuhan dengan tetap memperhatikan hasil eksegesis (Yun = menggali arti) untuk menafsirkan kitab suci dalam konteks aslinya (Gerald O’Colline dan Edward G. Farrugia, 1996:66) yang dapat dipakai untuk kepentingan kajian teologis terhadap Matius 5:48





I. Definisi Istilah

Definisi istilah yang dimaksud disini hanya berkenaan dengan frasa-frasa yang dianggap penting dijelaskan supaya tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda antara penulis dan pembaca. Dalam hal ini istilah-istilah yang sudah jelas artinya tidak akan diartikan. Frasa yang perlu diartikan disini yakni kata “sempurna”.


Menurut Kamus Filsafat, sempurna memiliki pengertian lengkap, murni, tidak ada kesalahan, artinya tidak memiliki kemungkinan untuk cacat atau tidak bercacat. Sempurna dalam Matius 5:48 dipahami dalam pengertian menjadi lengkap atau menjadi utuh yaitu kedewasaan dan keutuhan moral seseorang Barklay M. Newman dan Philip C. Stine, 2008:142). Kedewasaan yang dimaksud adalah ketaatan seseorang kepada Allah (Lorens Bagus, 1996:986). Para pengikut Yesus Kristus harus memiliki kelakuan yang baik, tidak ada cacatnya seperti kelakuan Bapa. Setiap pengikut Yesus harus taat kepada Tuhan sepenuhnya, sama seperti Bapa mengasihi setiap orang, Bapa di sorga memperhatikan memperhatikan setiap orang maka setiap orang percaya melakukan kehendak Allah secara sempurna. Jadi, kesempurnaan moral menjadi maksud dari ucapan Yesus dalam Matius 5:48

Semoga Bermanfaat

Salam


Mengerjakan penelitian dalam skala Sarjana Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen sebenarnya menyenangkan. Hanya saja sejak awal ada sejumlah kesulitan. Namun ketika kesulitan itu teratasi maka kita akan menikmati betapa indahnya berkarya dalam logi yang berbuah.