Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2025 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Showing posts with label contoh skripsi PAK. Show all posts
Showing posts with label contoh skripsi PAK. Show all posts

Wednesday, March 11, 2026

Contoh Bab I Skripsi Pendidikan Agama Kristen (Masalah, Gap Penelitian, dan Novelty)

Contoh Bab I Skripsi Pendidikan Agama Kristen (Masalah Penelitian, Research Gap, dan Novelty)

Banyak mahasiswa Pendidikan Agama Kristen (PAK) mengalami kesulitan ketika menulis Bab I skripsi, khususnya dalam menentukan masalah penelitian, research gap (kesenjangan penelitian), dan novelty (kebaruan penelitian). Padahal ketiga unsur ini sangat penting dalam penelitian ilmiah.

Artikel ini memberikan contoh Bab I skripsi Pendidikan Agama Kristen yang dapat menjadi referensi bagi mahasiswa teologi dan pendidikan Kristen.

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral peserta didik berdasarkan nilai-nilai Alkitab. Melalui proses pendidikan, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami ajaran iman Kristen secara kognitif, tetapi juga mampu menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap, karakter, dan tanggung jawab sosial.

Dalam kehidupan masyarakat modern, berbagai persoalan moral dan sosial semakin kompleks. Fenomena seperti kekerasan di kalangan remaja, perilaku tidak jujur, pelanggaran aturan sosial, serta rendahnya kesadaran terhadap norma menunjukkan bahwa pembentukan karakter masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan Agama Kristen memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan tersebut. Nilai-nilai Alkitab seperti kasih, keadilan, kebenaran, tanggung jawab, dan ketaatan kepada otoritas merupakan prinsip moral yang dapat membentuk perilaku yang bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.

Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah, Pendidikan Agama Kristen sering kali masih berfokus pada aspek kognitif seperti penguasaan materi Alkitab, doktrin, dan sejarah gereja. Dimensi pembentukan kesadaran sosial dan tanggung jawab masyarakat belum mendapat perhatian yang memadai.

Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai bagaimana Pendidikan Agama Kristen dapat berperan dalam membentuk kesadaran moral dan tanggung jawab sosial peserta didik melalui pendekatan pembelajaran yang relevan dan kontekstual.

1.2 Identifikasi Masalah

  • Masih rendahnya kesadaran moral dan tanggung jawab sosial peserta didik.
  • Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen masih lebih menekankan aspek kognitif.
  • Nilai-nilai Alkitab belum sepenuhnya diintegrasikan dalam pembentukan perilaku sosial.
  • Strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang kontekstual masih terbatas.

1.3 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana peran Pendidikan Agama Kristen dalam membentuk kesadaran moral peserta didik?
  2. Bagaimana nilai-nilai Alkitab dapat menjadi dasar pembentukan karakter dalam pembelajaran PAK?
  3. Bagaimana strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang efektif dalam membentuk tanggung jawab sosial peserta didik?

1.4 Research Gap (Kesenjangan Penelitian)

Berbagai penelitian mengenai Pendidikan Agama Kristen menekankan pentingnya pembentukan karakter Kristen dan spiritualitas peserta didik. Penelitian lain juga membahas strategi pembelajaran PAK yang kreatif dan kontekstual.

Namun, terdapat beberapa kesenjangan penelitian. Pertama, sebagian besar penelitian menekankan pembentukan karakter Kristen secara umum dan belum mengkaji hubungan antara pembelajaran PAK dan pembentukan kesadaran sosial peserta didik secara spesifik.

Kedua, kajian kesadaran sosial lebih banyak dibahas dalam pendidikan kewarganegaraan, sedangkan kontribusi Pendidikan Agama Kristen dalam bidang ini masih jarang diteliti.

Ketiga, penelitian yang mengintegrasikan nilai-nilai Alkitab dengan pembentukan kesadaran sosial dalam konteks pendidikan formal masih terbatas.

1.5 Tujuan Penelitian

  • Menganalisis peran Pendidikan Agama Kristen dalam membentuk kesadaran moral peserta didik.
  • Mengkaji nilai-nilai Alkitab yang relevan dalam pembentukan karakter peserta didik.
  • Mengembangkan strategi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang dapat membentuk tanggung jawab sosial peserta didik.

1.6 Novelty Penelitian

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi nilai-nilai teologis Alkitab dengan pendekatan pedagogis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk membentuk kesadaran sosial peserta didik.

Penelitian ini tidak hanya membahas pembelajaran PAK dalam konteks doktrinal atau kognitif, tetapi juga menekankan kontribusi Pendidikan Agama Kristen dalam membangun tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan masyarakat.

Kesimpulan

Bab I skripsi yang baik harus memuat tiga unsur utama: masalah penelitian, research gap, dan novelty penelitian. Ketiga unsur ini menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dasar akademik yang jelas dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu Pendidikan Agama Kristen.

Friday, January 16, 2026

Dua puluh judul Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen ini cocok?

20 Judul Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen untuk Mahasiswa Indonesia

20 Judul Skripsi Teologi dan Pendidikan Agama Kristen untuk Mahasiswa Indonesia

Berikut adalah 20 judul skripsi yang direkomendasikan untuk mahasiswa Teologi dan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia. Setiap judul dilengkapi dengan konteks lokal dan tips agar dapat dijadikan referensi penelitian yang relevan dan bermanfaat.

  1. Implementasi Pendidikan Inklusif dalam Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Menengah Pertama
    Tips: Fokus pada praktik inklusi nyata di sekolah di kota Anda, bisa melibatkan siswa berkebutuhan khusus.
  2. Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Meningkatkan Karakter Siswa Berdasarkan Nilai Alkitab
    Tips: Sertakan contoh kasus guru di sekolah Kristen lokal yang berhasil membentuk karakter siswa.
  3. Pengaruh Metode Bercerita Alkitab terhadap Pemahaman Nilai Moral Siswa di Sekolah Dasar Kristen
    Tips: Lakukan penelitian lapangan di SD Kristen terdekat dan bandingkan metode tradisional vs storytelling.
  4. Strategi Pengembangan Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Multikultural
    Tips: Analisis sekolah dengan siswa beragam agama dan budaya, fokus pada penerapan nilai toleransi Kristen.
  5. Pengaruh Pendidikan Agama Kristen Berbasis Proyek terhadap Sikap Toleransi Siswa
    Tips: Gunakan proyek berbasis komunitas untuk mengamati sikap toleransi di lingkungan sekolah atau gereja.
  6. Persepsi Siswa terhadap Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Era Digital
    Tips: Tinjau penggunaan media digital, seperti video Alkitab, aplikasi belajar, atau platform daring.
  7. Implementasi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Karakter untuk Meningkatkan Disiplin Siswa
    Tips: Sertakan model karakter lokal seperti ketekunan, tanggung jawab, dan integritas yang sesuai budaya Indonesia.
  8. Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Identitas Kristiani Remaja di Sekolah Menengah Atas
    Tips: Fokus pada kegiatan ekstrakurikuler Kristen, retret, dan pelayanan remaja.
  9. Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif dalam Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Menengah Pertama
    Tips: Bandingkan pembelajaran individu vs kelompok dalam kelas PAK di SMP Kristen.
  10. Pengaruh Pembelajaran Alkitab Interaktif terhadap Motivasi Belajar Siswa
    Tips: Gunakan metode interaktif seperti kuis Alkitab, permainan edukatif, atau diskusi kelompok.
  11. Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Mengembangkan Kesadaran Sosial Siswa
    Tips: Fokus pada kegiatan sosial atau pelayanan gereja yang melibatkan siswa secara langsung.
  12. Implementasi Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Berbasis Nilai Kekristenan dan Kemanusiaan
    Tips: Analisis kurikulum lokal dan bagaimana nilai Alkitab diterapkan dalam praktik pengajaran sehari-hari.
  13. Pengaruh Pendidikan Agama Kristen terhadap Kematangan Spiritualitas Siswa Sekolah Menengah
    Tips: Gunakan indikator seperti doa, kesadaran moral, partisipasi ibadah, dan pelayanan gereja.
  14. Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Mengatasi Konflik Sosial di Lingkungan Sekolah
    Tips: Ambil contoh nyata konflik di sekolah dan strategi guru dalam menanamkan resolusi berbasis ajaran Alkitab.
  15. Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Siswa Berkebutuhan Khusus
    Tips: Fokus pada adaptasi metode pembelajaran agar dapat diakses semua siswa.
  16. Implementasi Pendidikan Agama Kristen Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Karakter Siswa
    Tips: Kombinasikan nilai budaya lokal dengan ajaran Alkitab untuk membuat pembelajaran lebih kontekstual.
  17. Persepsi Orang Tua terhadap Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Pembentukan Moral Anak
    Tips: Lakukan survei orang tua di sekolah Kristen setempat.
  18. Efektivitas Penggunaan Media Digital dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen
    Tips: Evaluasi media digital seperti video pembelajaran, e-learning, atau aplikasi Alkitab interaktif.
  19. Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Siswa
    Tips: Fokus pada kegiatan ramah lingkungan di sekolah atau proyek gereja yang melibatkan siswa.
  20. Penerapan Model Pembelajaran Tematik Integratif dalam Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar
    Tips: Terapkan tema Alkitab yang dikombinasikan dengan mata pelajaran lain untuk pembelajaran terpadu.

© Dr. Yonas Muanley, M.Th. | Studi Teologi & Pendidikan Agama Kristen di Indonesia

Saturday, February 8, 2020

Contoh Skripsi Pendidikan Agama Kristen

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Harapan merupakan sikap optimis yang realistis dan bukan mimpi. Ketika pendidikan dilaksanakan itu memiliki peran dalam pembangunan yang disebut dengan pembangunan nasional dan pengembangan sumber daya manusia yang melibatkan proses pendidik dan peserta didik dan lingkungannya. Pendidikan yang diselenggarakan secara mendasar tidak sekedar mentransfer dan menanamkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi lebih dari itu, adalah membentuk perilaku, sikap dan karakter serta kepribadian yang mandiri dan produktif. Dengan adanya peran demikian, membuat isi dan proses pendidikan semakin
berkualitas serta mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat serta kebutuhan masyarakat akan perbaikan-perbaikan kehidupan hanya dapat diwujudkan apabila ada sumber daya yang berkompetensi dan unggul.. Namun pendidikan di Indonesia.

Dewasa ini mengalami perubahan-perubahan kurikulum yang bertujuan menambah kemajuan dan nilai pendidikan yang lebih optimal dibanding dengan sebelumnya. Sejak tahun 2007 sampai sekarang ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi konsumsi atau pembahasan setiap lembaga pendidikan di Indonesia. Pada prinsipnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diterapkan di setiap jenjang pendidikan sebagai upaya memberhasilkan anak didik melalui proses belajar mengajar yang mengutamakan anak didik serta sebagai subjek serta lebih kreatif dalam menemukan pengetahuan dan pengalamannya.

Perubahan kurikulum tidak menjadi jawaban yang mampu menambah kualitas anak didik, sebab pada kemyataannya di sekolah atau di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung guru menjadi subjek bagai anak didik, yakni pembelajaran cenderung teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana siswa berada. Selain itu anak didik terbatas dalam menemukan dan mengkonstruksikan ilmu pengetahuan yang ia terima, karena guru lebih banyak aktif memberi informasi secara terpisah-pisah dan materi yang disajikan.

Pembelajaran yang selalu berorientasi pada guru dan penguasaan teori hafalan, meciptakan anak yang kurang berpotensi dan malu mengekspresikan jati dirinya sebagai manusia yang mampu membangun masa depannya sendiri. Meskipun keberhasilan didapatkan, itu hanya dalam jangka pendek, sehingga pengembangan diri secara jangka panjang mengalami kesulitan atau kegagalan.

Hasil yang didapatkan anak didik melalui pengajaran dan informasi terpusat dari guru tidak maksimal dimiliki dan diterapkan. Hal yang penulus ungkapkan di atas merupakan fakta dan harus diakui bahwa system pembelajaran di Indonesia lebih mendemominasi kreatifitas guru dan sekaligus sebagai sumber paling utama dalam memberikan informasi bagi anak didik,sehingga kegiatan anak didik dalam belajar hanya bergantung penuh pada guru atau nara sumber.

Ada kecenderungan bahwa anak didik akan belajar dengan baik, jika lingkungan dijadikan sebagai bagian yang terkait dengan pembelajaran. Anak didik akan belajar lebih bermakna, jika mengalami langsung apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Model Pembelajaran yang disebut pembelajaran kontekstual atau dalam bahasa Inggris disebut “Contextual Teaching And Learning) adalah konsep pembelajaran (belajar-mengajar) yang menolong guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik serta mendorong peserta didik membuat relasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Deprtemen Pendidikan Nasional, 2002:1)






Dengan konsep itu , hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak didik. Proses pembelajaran berlangsung dalam kegiatan siswa sambil mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada anak didik. Dalam konteks itu, anak didik perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dalam kehidupannya, sehingga ia berupaya untuk mencapai secara kreatif.. Melihat kenyataannya manusia tidak terpisahkan dari lingkungannya, tetapi berinteraksi terus menerus. Karena itu pembelajaran bagi anak didik tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata, tetapi dalam kontks dimana peserta didik berada. Anak didik sedapat mungkin membangun pengetahuannya dalam proses pembelajaran dunia nyata.

Pembelajaran Contectual and Learning (CTL) pada dasarnya adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang nantinya secara refleksi dan kreatif dapat diterapkan dari satu permsalahan ke permaslahan yang lain atau dari suatu konteks ke konteks lain. Sejalan dengan itu, anak didik mampu menemukan sendiri bagian inti dari pembelajarn sebagai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk diterapkan dan dinikmati. Selain berharap guru menjadi pengarah yang menfasilitasi kekurangan atau kelemahan dari anak didik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal. Pembelajaran kontekstual menganjurkan para pendidik memilih atau mendesain lingkungan pelajaran yang memadukan sebanyak mungkin pengalaman belajar. Dalam proses seperti ini terjadi pembelajaran yang murni. Proses belajar yang murni bersifat kontekstual.(Syaiful Sagala, 2003:61).

Berarti anak didik mudah menghubungkan pelajaran dengan pengetahuan mereka
sebagai anggota keluarga, warga negara atau masyarakat bahkan sebagai tenaga kerja pada masa mendatang. Sebagai keuntungan dalam pembelajaran kontekstual adalah siswa lebih responsive, mudah menghubungkan pelajaran dengan pengetahuannya dan mampu memanfaatkan ide serta pengalamannya dalam dunia nyata, sesuai dengan situasi dan kondisi ia berada. Pendidikan Agama Kristen, adalah firman Allah dalam Alkitab yang dijabarkan keadlam ilmu teologi dan dilengkapi dengan berbagai ilmu filsafat manusia. (Fery C.Lewier 1990:4). Artinya PAK bukanlah hasil penemuan atau karya manusia semata-mata dan juga tidak sama seperti ilmu alam yang berdasarkan penelitian ilmiah dan pengamatan manusia secara biologis, tetapi Allah berfirman serta mengistruksikannya kepada umat-Nya untuk meneruskan kepada generasi berikutnya. PAK mencakup sejarah, karena Allah bermaksud menyatakan diri melalui peristiwaperistiwa masa lampau.

Melalui itu dapat belajar memahami, memahami dan hidup bergaul dengan Tuhan secara akrab dan menjadi sahabat dalam kehidupannya. Dari hasil pengamatan penulis, pembelajaran PAK yang dilangsungkan selama ini merupakan kegiatan yang berurutan dan selalu kaku atau monoton, seperti menyanyi dan berdoa, guru menjelaskan topic pelajaran, guru mendiktekan materi pelajaran, guru menyuruh siswa membaca Alkitab, guru meminta siswa untuk bertanya dan memberikan tugas kepada siswa serta menutup pembelajaran dengan ibadah (menyanyi dan berdoa). Hal ini merupakan kebiasaan yang hanya mengutamakan teori dan mempelajari Alkitab, sementara kemampuan anak didik dalam mengkonstruksikan pengetahuan yang diterima belum dapat dikonkritkan.

Dalam pengajaran yang diberikan Tuhan Yesus , para murid menjadi pelaku dan mengkontruksi pengetahuan yang mereka terima sebagai bagian pengembangan diri. Sebagaimana diketahui bahwa PAK dilaksanakan dengan pendekatan yang bersifat dialogis partisipatif. Artinya dalam proses pembelajaran terjadi komunikasi aktif antara guru anak didik, adanya diskusi dua arah yang mengisi dan menerima. Disini peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu tidak lagi mutlak karena anak didik dapat belajar dari berbagai media pembelajaran yang ada, baik media masa maupun media lainnya. Dalam pedekatan dialogis partisipatif harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik. Untuk memperkaya pendekatan dalam proses pembelajaran PAK, maka perlu CTL sebagai salah satu strategi yang membantu guru dan anak didik dalam menemukan arti dan makna sebuah teori. Pengetahuan dan keterampilan anak didik diperoleh melalui usaha mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Sehubungan dengan itu, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian ilmiah guna menjawab pergumulan di atas melalui karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul “MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI SEKOLAH MENENGAH ……

B. Indentifikasi Masalah

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah formal cenderung berorientasi pada guru
2. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Formal dilaksanakan lebih mengutamakan pengetahuan dan hafalan ketimbang hubungan dengan dunia nyata peserta didik
3. Guru PAK Cenderung merancang dan melaksanakan metode pembelajaran yang kurang kreatif dan inovatif.
4. Pembelajaran PAK berpusaatkan pada guru dan materi ajar atau kurikulum yang berlaku, bukan pengalaman belajar peserta didik terhadap materi PAK yang diajarkan.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini difokuskan pada pembelajaran kontekstual

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah “Bagaimana pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Menengah …..?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan ada tidaknya hubungan antara Konsep-konsep penerapan pembelajaran kontekstual dalam proses pembelajaran Agama Kristen di Sekolah Menengah …..



F. Manfaat Penelitian

1. Dari sisi teoritis, penelitian ini menambah teori tentang pembelajaran kontekstual di sekolah formal dan perguruan tinggi
2. Membantu para guru PAK dalam peningkatan pengetahuan tentang model-model pembelajaran
3. Memeberi informasi kepada guru PAK tentang cara menerapkan pendekatan kontekstual
4. Sebagai tambahan informasi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut

BAB II
TEORI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A. Konsep Dasar Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pembelajaran Kontekstual didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan materi ajar dengan pengalaman sehari-hari dari peserta didik. Penekanannyamengkombinasikan teori dan konteks kekinian peserta didik. Pendekatan demikian membuat pelajaran yang diberi lebih bermakna. Belajar sebagaimana ditemukan dalam literature pendidikan diartikan proses perubahan kognitif maka mengajar diartikan proses transfer pengetahuan, yang kemudian mempengaruhi pendekatan atau metode yang dipakai.

Pemahaman tentang belajar mempengaruhi mengajar. Demikian sebaliknya pemahaman tentang mengajar mempengaruhi belajar. Dalam konteks ini, pemahaman akan pendekatan metode Contxtual Learning membuat guru dan peserta didik memiliki arah dalam pembelajaran yang bermakna dan mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan dalam masyarakat.
Dalam teori Pendekatan CTL, pendekatan lebih menekankan pada kemampuan peserta didik dalam merekonstruksi pengetahuan secara kontekstual yang berlangsung dalam bimbingan pendidik. Pendidik hanya berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Dalam konteks pemahaman yang demikian, CTL pada satu sisi menekankan ranah kognitif pada taraf yang lebih tinggi yaitu kemampuan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kenyataan hidup sehari-hari, pada sisi yang lain CTL menekankan kemampuan afektif dan psikomotorik, karena pembelajaran berpusatkan peserta didik pasti melibatkan tiga ranah.



Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa pilihan pendekatan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh tujuan pembelajaran yang akan dicapai peserta didik. Dalam pembahasan ini lebih difokuskan pada pendekatan atau metode CTL.
Penggunaan metode atau pendekatan pembelajaran CTL yang disinggung di atas disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak lain adalah terjadinya pengalaman belajar yaitu perubahan pada kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan adanya perubahan tersebut, peserta didik mampu mengolah informasi, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, menurut W.Gulo, tujuan pengajaran terarah pada peningkatan kemampuan, baik dalam bentuk kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kegiatan belajar mengajar tidak lagi sekedar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengolah informasi sebagai masukan pada usaha peningkatan kemampuan peserta didik. Artinya yang dibutuhkan ialah peningkatan kemampuan peserta didik untuk memproses informasi (pelajaran) yang ditemukannya (W.Gulo, 2004:71).

Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode atau pendekatan mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar (W. James Popham dan Eva L. Baker, 2005:141). Tujuan mengajar tidak lain adalah adanya perubahan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang dimaksud di atas, pendidik menggunakan ragam metode. Salah satunya yaitu CTL. Pendekatan CTL merupakan upaya yang mengaitkan isi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong mereka untuk dapat mengaitkan pengetahuan sesuai situasi dan kondisi di mana ia berada.

Sesuai dengan apa yang dikemukakan di atas, Johnson menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual tidak lain yaitu: Sistem Pembelajaran CTL adalah sebuah proses pendidikan yang menekankan tujuan membantu peserta didik melihat makna materi pelajaran yang diajarkan di sekolah dengan menghubungkan mata pelajaran formal dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka.(Elaine B. Johnson, 2002:25)

Berdasarkan definisi di atas, disimpulkan bahwa pendekatan CTL adalah suatu konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dan kondisi dunia nyata anak didik serta memotivasi mereka untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan sekarang. Usaha yang dilakukan guru dalam mendorong anak didik untuk menemukan sendiri dan membentuk pengetahuannya merupakan strategi memberdayakan potensi anak didik menuju tujuan yang optimal.

Teori tentang pembelajaran kontekstual dapat dikembangkan dengan membaca buku-buku yang membicarakan tentang model pembelajaran kontekstual. Kiranya apa yang saya kemukakan ini sebagai bagian kecil dari landasan atau kebenaran rasional yang dirumuskan dan disampaikan dalam Bab II

Selamat berjuang dalam kebenaran rasional menuju kebenaran Empiris dengan dipandu metodologi (Bab III)

Semoga bermanfaat.


Buku-buku Referensi yang perlu Anda baca untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang Metode Pembeljaran Kontekstual antara lain:






Buku-buku yang diterbitkan

Amin O. Harefa, Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika, (IKIP Gunungsitoli, FPMIPA, 2008)

Agus Gerrad Sendek dan Nurhadi, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2003)

Deprtemen Pendidikan Nasional, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning/ CTL), (Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002)

Depdiknas, Kurikulum 2004, Kerangka Dasar, (Jakarta: Depdiknas, 2003)
Elaine B. ohnson, Contextual Teaching and Learning, ( Caifornia: Corwin Press, 2002)

Fery C. Lewier, Dalam Materi-,ateri Bimbingan PAK, (Ambon: Fakultas Teologi UKIM, 1990)

Fritz Rienecker; A Lingustic Key Tothe Greek New Testament; Zondervan Publishing Haouse 1996

Fa’aso Ndraha, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Melalui Pembelajaran Kontekstual, (Padang: Univesritas Negeri Padang, 2005)

H.Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta : AR-Ruzz Media, 2008)

John A. Zahorik, Constructivist Teaching, (Bloomington Indian: Phi-Delta Kappa Educational Foundation, 1995)

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003).
Surakhmad Winarso, Pengntar Pendidikan Ilmiah, (Bandung Tarsito, 1999)
W.Gulo, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : Gramedia, 2004)
W. James Popham dan Eva L. Baker, Tehnik Mengajar Secara Sistematis (Jakarta : Rineka Cipta, 2005)

Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jogjakarta : Ar RuzMedia, 2008)
M.Sukardjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta : Rajawali Pers, 2009)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)

PH. Suripatty, Strategi Belajar Mengajar PAK, (Jakarta: DEPAG Direktorat Jenderal BIMAS Kristen, 2003)

Sadieli Telaumbanua, Pendidikan Agama Kristen Dengan Pembelajaran Kontekstual, Disajikan kepada Mahasiswa Jurusan PAK, STT BNKP Sunderman, ( Gunungsitoli, 2004)

Sardiman A.M.; Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar; PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta 2010

Buku Teori Pendidikan AGama Kristen:

Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, ( Jakarta; BPK- GM, 2006)

Anda dapat membeli buku secara online seperti di Belbuk maupun di Toko Buku terdekat di kota Anda


Monday, May 16, 2016

Contoh Bab I dan II Skripsi

Refisi 19 April 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sering tugas gereja dipahami sebatas pemberitaan, agak jarang dihubungkan pada pengajaran. Sementara pengajaran sangat diperlukan dalam pertumbuhan iman Jemaat. Gereja memahami bahwa tugasnya adalah hal-hal diluar pengajaran, sehingga pengajaran dipercayakan atau tanggung jawab sekolah.
Gereja mesti memahami Missio ekklesia dan bagaimana dalam praktik nyata yaitu apakah gereja hidup sesuai dengan mission ekklesia? Kemudian seperti apa perkembangan missio ekklesia yang dilakukan gereja. Tentunya idealnya adalah bahwa pendidikan Kristen mesti mengalami perkembangan tetapi apa kenyataan yang terjadi. Dalam konteks pemahaman demikian maka uraian berikut ini akan memaparkan tentang teori kedua variabel yang diteliti kemudian diakhiri dengan masalah yang terjadi yaitu perbedaan antara harapan dan kenyataan.
Menurut Berkhof dan Enklaar, gereja ada di bumi ini oleh sebab Yesus memanggil orang menjadi pengikut-Nya. Menurut definisi ini kehadiran gereja di bumi ini bukan usaha manusia tetapi usaha ilahi yaitu panggilan Yesus Kristus yang diwujudkan melalui berita Injil yang disampaikan gereja sepanjang zaman. Th van den End menjelaskan ekklesia dalam pengertian orang yang dipanggil. Orang yang pertama dipanggil oleh Kristus ialah para murid. Kemudian setelah kenaikan Yesus ke Sorga dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, para murid itu menjadi rasul artinya mereka yang diutus. Diutus untuk memberitakan berita kesukaan, sehingga lahirlah gereja Kristen. Dalam definisi van den End, kehadiran gereja tidak dapat dipisahkan dengan berita suka cita tentang Yesus Kristus. Inti definisi di atas yakni panggilan dan pengutusan.
Yesus Kristus memanggil dan mengutus gereja yang disebut “missio ekklesia” (pengutusan gereja). Kata “missio” berasal dari bahasa Latin, “mission” yang berarti diutus keluar untuk tugas tertentu. Sedangkan dalam bahasa Yunani dipakai kata “apostello”, artinya mengutus, dan “pempo” artinya mengirim. Kedua kata ini, yakni “apostello” dan “pempo” dipakai dalam Yohanes 20:21. Sama seperti Bapa mengutus (apostello) Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus (pempo) mengirim kamu (H. Venema) Dari istilah ini kemudian muncul sebuah disiplin ilmu yang disebut misiologi. Nama misiologi mengutamakan hal “mengirim” atau “mengutus”.
            Di atas telah dikemukakan bahwa “mission ekklesia” di dasarkan pada pengutusan Yesus Kristus sebagaimana yang dipaparkan dalam Yoh. 20: 21. Dalam ayat ini, kata “mission” (pengutusan) biasanya mempunyai tiga pembedaan yakni (1) Missio Dei yaitu pengutusan oleh Allah. Allah sendiri bertindak sebagai subjek segala pengutusan, terutama pengutusan Anak-Nya. Dialah pengutus agung. (2) Missio Filii artinya pengutusan oleh Anak. Yesus Kristus di utus (dalam arti khusus Dialah yang disebut “Missio Dei”), tetapi mengutus juga, yaitu rasul-rasul-Nya dan Gereja-Nya (mission ekklesia). (3) Missio Ecclesiae yaitu pengutusan oleh gereja. Pengutusan Allah dan Anak dilanjutkan dengan pengutusan oleh Gereja.  Dalam Matius 28:19-20 terdapat narasi tentang pengutusan gereja untuk melaksanakan tugas memuridkan orang dan pengajaran yang memungkinkan orang yang telah menerima Yesus Kristus untuk melakukan apa yang telah diperintahkan Yesus Kristus. Dalam ayat-ayat ini ada mandat pengajaran Kristen. Dengan kata lain, pendidikan Kristen adalah bagian dari missio ekklesia. Jadi berdasarkan uraian di atas menjadi jelas bahwa pengajaran atau pendidikan Kristen termasuk pendidikan Kristen di sekolah-sekolah menjadi bagian dari missio ekklesia.
Secara teori jelas bahwa gereja berada dalam missio-Nya Yesus Kristus, khususnya dalam pendidikan. Akan tetapi masalah yang terjadi yakni berdasarkan kenyataan bahwa Pengajaran Kristen di sekolah-sekolah Negeri kurang mendapat tempat atau bahkan tidak ada proses pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen di sekolah-sekolah Negeri. Gereja sering diminta oleh pihak sekolah untuk member nilai kepada anak-anak Kristen yang berada di sekolah Negeri tanpa anak tersebut mengikuti proses Pendidikan Agama Kristen sebagaimana yang dialami oleh rekan-rekan lain yang mengalami Proses Pembelajaran Agamanya di sekolah. Jadi Apakah tetap berada dalam tradisi memberi nilai kepada anak-anak Kristen tanpa berusaha mengadakan pendidikan Kristen di Gereja sesuai kurikulum yang dikeluarkan pemerintah? Di Gereja ada Sekolah Minggu dan Kebaktian Remaja dan Pemuda Tetapi apakah ada nuansa pengajaran yang didasarkan atas kurikulum sehingga ketika gereja member nilai kepada anak untuk digunakan di sekolah maka dapatlah dikatakan bahwa nilai itu memiliki prosedur pengajaran. Artinya ada proses pengajaran yang diterima oleh anak.
Memahami realitas ini harus diakui bahwa Pengajaran Agama Kristen merupakan tugas tanggung jawab Gereja. Sementara Pendidikan Kristen di Gereja belum memiliki kurikulum sebagaimana kurikulum Pendidikan Kristen oleh pemerintah.
Jadi,salah satu tugas gereja adalah pengajaran, termasuk pengajaran yang berlangsung di sekolah juga merupakan tugas gereja. Memang benar bahwa dalam konteks Indonesia, pelaksanaan PAK di sekolah menjadi tanggung jawab Negara tetapi secara esensial, pengajaran Kristen adalah salah satu tugas pokok gereja. Untuk memahami bagian inilah maka penulis berusaha meninjau Yohanes 20:21 untuk memperjelas bahwa pengajaran adalah bagian dari “missio ekklesia” dan “missio ekklesia” berada dalam lingkup “missio Dei”. Missio Ecclesiae atau pengutusan gereja adalah pekerjaan missioner dari jemaat Kristen sepanjang sejarah dunia.( Arie de Kuiper, 2000)
            Di dalam lembaga pendidikan formal mata pelajaran pelajaran Pendidikan Agama Kristen merupakan suatu bidang yang dapat diandalkan untuk membentuk dan membangun pertumbuhan iman bertaqwa kepada Tuhan. Hal ini dapat diketui dari tujuan Pendidikan Agama Kristen seperti yang dikemukakan oleh Calvin yang intinya menekankan tentang usaha mendidik putra putrid Gereja dilibatkan dalam upaya pemahaman Alkitab dalam bimbingan Roh Kudus, para putra-putri gereja diajarkan mengambil bagian dalam kebaktian serta mencari keesaan gereja, dan diperlengkapi memilih cara-cara mengejewantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa Yesus Kristus dalam gelanggang pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus”( Robert R. Boehlke, 1994).

Selain itu Mata pelajaran ini dapat diandalkan karena dalam Alkitab dikatakan bahwa “Permulaan hikmah adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik” (Mzm 111 : 10). Di dalam Pendidikan Agama Kristen sendiri, setiap siswa diarahkan untuk mengenal Tuhan dan menerimaNya sebagai Tuhannya serta taat kepadanya.

BAB II
KAJIAN TEORITIS-TEOLOGIS

A. Kajian Variabel yang diteliti
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
D. Peneitian yang Relevan

Pesan Sponsor

PASANG IKLAN ANDA DISINI