Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2025 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Showing posts with label Tesis dan Disertasi. Show all posts
Showing posts with label Tesis dan Disertasi. Show all posts

Tuesday, May 7, 2019

Judul Skripsi, Tesis dan Disertasi



1. Pengaruh Visi Kehidupan Terhadap Sukses kerja sebagai Guru Profesional
2. Pencarian Makna Kehidupan Terhadap Gairah Kehidupan
3. Membangun Karakter Unggul di rumah Tuhan yang terabaikan
4. Mencerdaskan emosi Terhadap Prestasi Kerja

Dengarkan lagu ini.

Baca info iPhone dan info bisnis


5. Filsafat Tedong Bonga


Jangan membuang tiket pesawat, tiket kereta api, tiket bus sebelum dijadikan sebagai peluang menghasilkan uang dalam jangka waktu yang lama. Ibarat menanam kelapa, kita akan memetik buahnya pada musim-musim berbuah. Silakan baca RUBRIK TIKET
Anda dapat menjadikan penelitian skripsi, tesis, disertasi dengan Judul: Semangat Hamba Tuhan Paulus Terhadap Eksistensi Pelayanan Pendidikan di Sekolah .... atau yang Prodi Teologi meneliti dengan judul: Semangat Hamba Tuhan Paulus Terhadap Eksistensi Pelayanan Penggembalaan di Gereja ...
Masalah Penelitian:
Sering hamba Tuhan mengeluh karena tidak punya uang, kadang bergantuung kepada sponsor atau donatur. Hamba Tuhan lebih banyak menunggu mujizat datang melalui amplop (menerima uang hasil persembahan orang lain), jarang hamba Tuhan bermental pelayanan seperti rasul Paulus. Paulus tahu apa itu amplop mujiazat dan amplop alamiah. Artinya rasul Paulus tahu bagaimana Tuhan menolong kebutuhan pelayanan Paulus secara mujiazat melalui tangan-tangan seperti Lidya, seorang perempuan kaya yang menjadi Kristen melalui pelayanan Paulus, tetapi rasul Paulus juga bekerja di erusahan Lidya dan mendapat uang untuk menopang pelayanannya. rasul Paulus seorang entrepreneur rohani dan juga ekonomi format doa Bapa Kami, berikan hari ini makanan kami yang secukupnya. Ssilakan kembangkan dalam penelitian.

Salah satu upaya semangat Paulus dalam diri saya yaitu menjadikan blog sebagai peluang penghasilan dengan cara daftar di Adsense dan hasilnya:

1. Rubrik Adsense

2. Rubrik Tiket

Nomor sata, saya tulis tentang Adsense. Walaupun saya tidak sekolah teknologi. Saya belajar sendiri.
Nomor dua, pengalaman perjalanan saya jadikan sebagai peluang penghasilan. Saya menulis tentang tiket pesawat yang saya pergunakan. Sebelum saya buang, saya tulis dan posting di blog. Demikian juga perjalanan dengan bus, dan kereta api. Pokoknya segala pengalaman saya yang berkorelasi dengan tiket.


Salam

Sunday, May 15, 2016

Contoh BAB IV Skripsi, Tesis dan Disertasi

CONTOH BAB IV SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI

BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA

A. Gambaran Lokasi Penelitian
B. Pembahasan Hasil Penelitian

C. Analisa Dan Interpretasi Data
a. Pengaruh Pendidikan Agama Kristen
Setelah semua data dikumpulkan melalui angket, selanjutnya peneliti melakukan analisis dan interpretasi data terhadap data yang terkumpul dengan cara penghitungan skor yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Peneliti menggunakan skala pengukuran sikap yaitu sebuah skala untuk mengukur sikap sebagaimana yang dipakai dalam penelitian social, termasuk penelitian dalam bidang pendidikan. Ada 5 skala sikap yang biasanya dipakai yaitu:
a. Skala Likert
b. Skala Guttman
c. Skala Defferensial Simantict
d. Skala Rating Scale
e. Skala Thurstone.

Berdasar pada lima skala di atas, penelitian ini menggunakan skala Likert. “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian atau gejala social”. Sikap yang dimaksud disini yakni perilaku peserta didik dalam Pendidikan Agama Kristen yang disebabkan karena proses Pendidikan Agama Kristen yang berlangsung di SMP Kristen
. Sikap tersebut diperoleh melalui instrument yang disebar. Dalam instrument (angket) yang disebar diberi alternative jawaban terhadap pernyataan atau pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden (siswa dan guru). “Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata sebagai berikut”: 

Pernyataan Positif


5 = SangatSetuju (SS)

4 = Setuju (S)
3 = Ragu (R)
2 = KurangSetuju (KS)
1 = TidakSetuju (TS)

Dalam hubungan dengan teknik pengumpulan data angket, instrument (angket) tersebut disebarkan kepada 40 peserta didik, dan 11 Guru SMP Kristen, kemudian direkapitulasi berdasarkan variable bebas dan terikat yang dideskripsikan sebagai berikut.
2. Variabel Pengaruh Pendidikan Agama Kristen
Perlu di jelaskan disini yaitu bahwa penskoran setiap item merupakan proses pengujian hipotesis yang berhubungan dengan setiap item dari angket yang disebar. Dalam bagian Pengembangan karakter akan Nampak uji hipotesis yang disertai dengan keterangan deskriptif dari presentasi yang ditemukan dalam skor ideal maupun skor terendah dari butir-butir angket yang hasilnya berada pada rentang kriteria Interpretasi Skor
Angka 0 % - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21 % - 40 % = lemah
Angka 41 % - 60 % = Cukup
Angka 61 % - 80 % = Kuat
Angka 81 % - 100 % = Sangat kuat
Berdasarkan rentang skor ini maka dapat dikatakan bahwa uji hipotesis telah Nampak dalam penskoran dan tinggal diberi keterangan untuk memperjelas temuan untuk setiap item yang berkontribusi untuk pengembangan karakter. Berdasarkan alas an metodologis ini maka sistematisasi skor dapat dipaparkan sbb:

Pernyataan No. 1 (Pertobatan)
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 41 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 10 orang
Menjawab 3 (Ragu) = - orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = - orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang

Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 41 Orang menjawab 5 : 41 x 5 = 205
Jumlah skor untuk 10 Orang menjawab 4 : 10 x 4 = 40
Jumlah skor untuk 5 Orang menjawab 3 : 0 x 3 = -
Jumlah skor untuk 3 Orang menjawab 2 : 0 x 2 = -
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 245
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen terletak pada daerah sangat setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 210 230 245 255
¬¬ TS KS R S SS
Jadi, berdasarkan data (item No. 1) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen , terhadap pertobatan yaitu 245/255 x 100 % = 96,07 % tergolong SANGAT KUAT. Presentase kelompok responden untuk item No. 1 dapat dilihat seperti:
0 20 40 44 60 80 100
Sangat lemah lemah ukup Kuat Sangat
kuat Keterangan: Kriteria Interpretasi Skor
Angka 0 % - 20 % = Sangat Lemah
Angka 21 % - 40 % = lemah
Angka 41 % - 60 % = Cukup
Angka 61 % - 80 % = Kuat
Angka 81 % - 100 % = Sangat kuat
Berdasarkan interpretasi skor tersebut di atas yaitu para siswa dan guru memberi penilaian bahwa pertobatan sangat penting bagi setiap orang Kristen maka Pendidikan Agama Kristen yang dilaksanakan di SMP Kristen mesti berpengaruh pada pertobatan.
Pernyataan No. 2 (Menguatkan iman pada Yesus)
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 32 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 19 orang
Menjawab 3 (Ragu) = - orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = - orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang
Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 32 Orang menjawab 5 : 32 x 5 = 160
Jumlah skor untuk 19 Orang menjawab 4 : 19 x 4 = 76
Jumlah skor untuk 5 Orang menjawab 3 : 0 x 3 = -
Jumlah skor untuk 3 Orang menjawab 2 : 0 x 2 = -
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 236
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 2) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada menguatkan iman kepada Tuhan Yesus terletak pada daerah sangat setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 210 230 236 255
¬¬ TS KS R S SS
Jadi, berdasarkan data (item No. 2) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen, terhadap PAK yang menguatkan iman kepada Yesus yaitu 236/255 x 100 % = 92,54 % tergolong SANGAT KUAT. Hal ini dapat diperhatikan dalam criteria interpretasi skor.
Pernyataan No.3 ( Rajin membaca Alkitab )
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 18 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 22 orang
Menjawab 3 (Ragu) = 10 orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = 1 orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang
Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 18 Orang menjawab 5 : 18 x 5 = 90
Jumlah skor untuk 22 Orang menjawab 4 : 22 x 4 = 88
Jumlah skor untuk 10 Orang menjawab 3 : 10 x 3 = 30
Jumlah skor untuk 1 Orang menjawab 2 : 1 x 2 = 2
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 210
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 3) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada rajin membaca Alkitab terletak pada daerah Ragu-ragu yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 210 230 255
¬¬ TS KS R S SS
Jadi, berdasarkan data (item No. 3) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen, terhadap PAK yang berpengaruh pada kerajinan membaca Alkitab yaitu 210/255 x 100 % = 82,35 % tergolong SANGAT KUAT. Hal ini dapat diperhatikan dalam criteria interpretasi skor
Pernyataan No. 4 ( PAK diajarkan pada siapa saja yg mau belajar ) Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 17 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 25 orang
Menjawab 3 (Ragu) = 5 orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = 4 orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang

Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 17 Orang menjawab 5 : 17 x 5 = 85
Jumlah skor untuk 25 Orang menjawab 4 : 25 x 4 = 100
Jumlah skor untuk 5 Orang menjawab 3 : 5 x 3 = 15
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 2 : 4 x 2 = 8
Jumlah skor untuk - Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 208
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No.4) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada siapa saja yang mau belajar terletak pada daerah ragu-ragu yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 208 210 230 255
¬¬ TS KS R S SS

Jadi, berdasarkan data (item No. 4) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen, terhadap PAK untuk setiap orang yang mau belajar yaitu 208/255 x 100 % = 81,56 % tergolong SANGAT KUAT. Hal ini dapat diperhatikan dalam criteria interpretasi skor yang dikemukan di atas.
Pernyataan No. 5 ( Menjadi murid Kristus )
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 32 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 19 orang
Menjawab 3 (Ragu) = - orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = - orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang
Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 32 Orang menjawab 5 : 32 x 5 = 160
Jumlah skor untuk 19 Orang menjawab 4 : 19 x 4 = 76
Jumlah skor untuk 5 Orang menjawab 3 : 0 x 3 = -
Jumlah skor untuk 3 Orang menjawab 2 : 0 x 2 = -
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 236
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 5) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh supaya setiap orang percaya menjadi murid Kristus terletak pada daerah sangat setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:

0 51 102 210 230 236 255
¬¬ TS KS R S SS

Pernyataan No. 6 ( Menguatkan iman orang Kristen )
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 22 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 28 orang
Menjawab 3 (Ragu) = 1 orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = - orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = - orang

Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 22 Orang menjawab 5 : 22 x 5 = 110
Jumlah skor untuk 28 Orang menjawab 4 : 28 x 4 = 112
Jumlah skor untuk 1 Orang menjawab 3 : 1 x 3 = 3
Jumlah skor untuk 3 Orang menjawab 2 : 0 x 2 = -
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 1 : 0 x 1 = -
Jumlah = 225
Jumlah skor ideal untuk item No. 6 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 6) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada menguatkan iman orang Kristen terletak pada daerah setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 210 225 230 255
¬¬ TS KS R S SS

Jadi, berdasarkan data (item No. 6) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen , terhadap PAK yang menguatkan iman orang Kristen yaitu 225/255 x 100 % = 88,23 % tergolong SANGAT KUAT. (lihat Kriteria Interpretasi Skor)

Pernyataan No. 7 ( PAK tidak diajarkan pada anak-anak di Gereja )
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 2 orang
Menjawab 4 (Setuju) = - orang
Menjawab 3 (Ragu) = 2 orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = 10 orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = 37 orang

Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 2 Orang menjawab 5 : 2 x 5 = 10
Jumlah skor untuk - Orang menjawab 4 : - x 4 =
Jumlah skor untuk 2 Orang menjawab 3 : 2 x 3 = 6
Jumlah skor untuk 10 Orang menjawab 2 : 10 x 2 = 20
Jumlah skor untuk 37 Orang menjawab 1 : 37 x 1 = 37
Jumlah = 73
Jumlah skor ideal untuk item No. 7 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No.7 ) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), tentang Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada PAK yang tidak diajarkan di gereja terletak pada daerah kurang setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 73 102 210 230 255
¬¬ TS KS R S SS

Jadi, berdasarkan data (item No. 7) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen, terhadap PAK yang menguatkan iman kepada Yesus yaitu 73/255 x 100 % = 28, 62 % tergolong LEMAH. (lihat Kriteria Interpretasi Skor)

Pernyataan No. 8 ( PAK di Gereja diajarkan oleh Pendeta )
Menjawab 5 (Sangat Setuju) = 25 orang
Menjawab 4 (Setuju) = 20 orang
Menjawab 3 (Ragu) = 4 orang
Menjawab 2 (Kurang Setuju) = 1 orang
Menjawab 1 (Tidak Setuju) = 1 orang

Penghitungan skor dengan cara:
Jumlah skor untuk 25 Orang menjawab 5 : 25 x 5 = 125
Jumlah skor untuk 20 Orang menjawab 4 : 20 x 4 = 80
Jumlah skor untuk 4 Orang menjawab 3 : 4 x 3 = 12
Jumlah skor untuk 1 Orang menjawab 2 : 1 x 2 = 2
Jumlah skor untuk 1 Orang menjawab 1 : 1 x 1 = 1
Jumlah = 220
Jumlah skor ideal untuk item No. 1 (skor tertinggi) = 5 x 51 = 255 (SS)
Jumlah skor terendah = 1 x 51 = 51 (TS)
Berdasarkan data (item No. 5) yang diperoleh dari 51 responden (jumlah siswa dan guru), maka Pendidikan Agama Kristen yang berpengaruh pada PAK di Gereja diajarkan Pendeta terletak pada daerah setuju yang secara kontinum dapat dilihat seperti:
0 51 102 210 220 230 255
¬¬ TS KS R S SS
Jadi, berdasarkan data (item No. 8) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen , terhadap PAK di Gereja diajarkan Pendeta yaitu 220/255 x 100 % = 86, 27 % tergolong SANGAT KUAT. (lihat Kriteria Interpretasi Skor)
Jadi, berdasarkan data (item No. ...) yang diperoleh dari 51 responden, maka pengaruh Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen , terhadap PAK yang menguatkan iman kepada Yesus yaitu 236/255 x 100 % = 92,54 % tergolong SANGAT KUAT. (lihat Kriteria Interpretasi Skor)

SELANJUTNYA POSTINGAN TENTANG KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN dan RUMUSAN JUDUL PENELITIAN

Saya menyadari bahwa untuk mencari judul penelitian dan masalah penelitian tidaklah gampang. Butuh usaha seperti sering dengan teman atau pihak lain yang mengerti PAK. Bagi mereka yang menaruh minat bagaimana meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Kristen di sekolah maka malam ini saya posting sekilas pergumulan tentang Kualitas PAK. Anda bisa mencari uraian saya tentang kualitas dalam orasi Ilmiah saya.
Proses pendidikan Agama Kristen di sekolah adalah proses yang dilaksanakan di atas kurikulum. Oleh karena itu maka Pendidikan Agama Kristen di Sekolah haruslah Pendidikan yang berkualitas. Apa itu kualitas? Ada banyak definisi tentang kualitas. Saya telah membahasnya secara panjang lebar dalam orasi ilmiah tentang kualitas pelayanan. Kini saya posting secara singkat apa itu kualitas.
Kualitas pendidikan Agama Kristen yang dimaksud dalam postingan ini tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia di sekolah. Dalam hal ini Guru Pendidikan Agama Kristen. Guru Pendidikan Agama Kristenlah yang berperan sebagai pengajar dan pendidik Agama Kristen di sekolah. Kebutuhan demikian menghadirkan guru PAK yang memiliki latar belakang studi dan lamanya studi sesuai aturan. Bukan kuliah singkat, ijazah singkat.
Pendidikan Agama Kristen haruslah pendidikan yang berkualitas. Oleh sebab itu sekolah mampu memenuhi kebutuhan sumber daya manusia baik jumlah maupun kualitas dengan meningkatkan sumberdaya pendidikan untuk memasok kebutuhan sumber daya manusia sesuai dengan permintaan dan meningkatkan proses pendidikan di tingkat pendidikan dengan mengembangkan unsur-unsur pokok dan penunjang yang diperlukan.
Jadi, kualiatas Pendidikan Agama Kristen yang dimaksud dalam postingan ini yaitu yaitu proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang berdaya mampu merubah secara signifikan terhadap kehidupan peserta didik. Perubahan itu meliputi tiga kemampuan sesuai teori Benyamin Bloom. Perubahan yang dimaksud yaitu perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan kata lain kualitas PAK di sekolah hendaknya mewujudkan proses sabda Tuhan: Agar anak mampu mengalami perubahan dalam mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi, segenap jiwa, segenap kekuatanPerubahan demikian dapat disebut sebagai ketercapaian tujuan pengajaran Pendidikan Agama Kristen. Dengan kata lain, sejauh mana Pendidikan Agama Kristen berhasil mencapai tujuan.
Upaya mencapai tujuan Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu indikator kualitas pembelajaran PAK di sekolah, usaha ini tentunya melibatkan banyak pihak. Dalam sejarah perkembangan praktek Pendidikan Agama Kristen, menurut E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996:23) ada aliran atau kelompok pemikiran Kristen yang mengutamakan aspek pengajaran, dan aliran yang lain menekankan tentang aspek pengalaman keagamaan. Aliran yang menekankan pengajaran atau pendidikan hendak membangun kepercayaan Kristen dalam diri siswa melalui penyampaian pengetahuan oleh seorang pendidik Kristen. Sedangkan aliran yang menekankan pengalaman rohani siswa lebih mengarahkan perhatian pada perkembangan diri siswa. Kelompok ini menekankan pendidikan Kristen pada pengalaman perorangan untuk menjadi pribadi-pribadi yang jujur dan luhur secara pribadi dalam sebuah masyarakat.

Penjelasan singkat di atas kita bisa rumuskan judul:

HUBUNGAN atau PENGARUH KUALITAS PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN TERHADAP KEMAMPUAN PESERTA DIDIK BERKARYA DALAM ERA MEA
PENGARUH KUALITAS PAK TERHADAP SEMANGAT PENGINJILAN PESERTA DIDIK ........

Tujuan Pendidikan Kristen

Pendidikan Kristen dari masa ke masa mengalami perkembangan, khususnya dalam rumusan tujuan Pendidikan Agama Kristen. Ada banyak formula atau rumusan tujuan pendidikan Kristen yang dikemukakan pendidik Kristen (ahli praktika maupun dogmatika/teolog). Formula-formula itu tidak dapat dideskripsikan secara menyeluruh dalam postingan ini, disini hanya dikemukakan beberapa formula rumusan tujuan Pendidikan Kristen.

Marthen Luther memang tidak memakai istilah tujuan pendidikan Kristen karena istilah ini dipakai secara teratur setelah pokok pendidikan itu dijadikan sebagai ilmu tersendiri. Akan tetapi dari karya dan perhatian Luther terhadap pendidikan maka dapat dirumuskan tujuan pendidikan Kristen menurut Marhin Luther yaitu menyadarkan anak didik dan orang dewasa tentang keadaan mereka yang sebenarnya, yaitu mereka orang berdosa. Maka setiap warga harus bertobat dan berseru kepada Allah agar diampuni. Dengan kata lain, tujuan pendidikan Kristen menurut Marhin Luther yaitu melibatkan semua warga jemaat, khususnya yang muda dalam rangka belajar teratur dan tertib agar semakin sadar akan dosa mereka serta bergembira dalam Firman Yesus Kristus yang memerdekakan mereka di samping memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya pengalaman berdoa, Firman tertulis, Alkitab, dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan negara serta mengambil bagian secara bertanggungjawab dalam persekutuan kristen yaitu Gereja (Robert R. Boehlke, 2002:340)

Menurut Calvin, pendidikan Kristen adalah proses pemupukan akal orang-orang percaya dengan Firman Allah di bawah bimbingan Roh Kudus melalui sejumlah pengalaman belajar yang dilaksanakan gereja sehingga di dalam diri mereka dihasilkan pertumbuhan rohani yang berkesinambungan yang diaplikasikan semakin mendalam melalui pengabdian diri kepada Yesus Kristus, berupa tindakan-tindakan kasih terhadap sesamanya.

Berdasarkan pemahaman Calvin tentang pendidikan Kristen maka menurut John Calvin, tujuan Pendidikan Kristen adalah mendidik semua warga gereja agar mereka dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kudus, diajar mengambil bagian dalam kebaktian serta diperlengkapi untuk memilih cara-cara mewujudkan suatu pengabdian diri kepada Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan mereka sehari- hari, serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah, demi kemuliaan namaNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.
Menurut E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar, tujuan pendidikan Kristen yaitu:

a. Memimpin siswa pada pengenalan akan peristiwa-peristiwa ilahi dalam Alkitab dan pengajaran-pengajaran yang ada dalam Alkitab
b. Membimbing siswa dengan kebenaran firman Allah yaitu Alkitab
c. Mendorong siswa melakukan mempraktekkan ajaran-ajaran Alkitab
d. Meyakinkan siswa tentang kebenaran-kebenaran Alkitab untuk pemecahan masalah dalam kehidupan.
Tujuan utama Pendidikan Kristen ialah membawa peserta didik untuk mengalami perjumpaan dengan Kristus, mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, hidup dalam keataatan serta mampu mempraktekkan imannya dalam kehidupan sehari hari.
Selain tujuan di atas, ada pula tujuan pendidikan Kristen di sekolah diselenggarakan dengan arah yang jelas. Arah itu disebut dengan tujuan. Ada tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan Kristen di sekolah. Dalam konteks ini, ada beragam pandangan tentang tujuan pendidikan di sekolah. Pembahasan ini sengaja dipisahkan dengan tujuan pendidikan Kristen menurut Kurikulum Pemerintah karena di dalam kurikulum pemerintah telah dirumuskan tujuan pendidikan Kristen mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Dalam kurikulum pemerintah telah dirumuskan “Standar Kompetensi” dan “Kompetensi Dasar” serta indikator-indikatornya. Dengan demikian pembahasan tujuan pendidikan Kristen dalam bahasan ini hendak mengemukakan beragama pandangan tentang pendidikan Kristen kemudian pada pokok “pendidikan Kristen di Sekolah sesuai Kurikulum Pemerintah RI, akan dibahas tujuan pendidikan
Kristen di sekolah berdasarkan rumusan tujuan atau standar kompetensi yang dikeluarkan pemerintah.

CONTOH BAB IV (Analisis Data )

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Tabel 4.1 Statistics Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK Pembentukan Karakter Siswa N Valid 30 30 30 Missing 65 65 65 Mean 82.57 80.87 84.13 Std. Error of Mean 1.595 1.672 1.544 Median 80.50 79.00 82.50 Mode 80 81 92 Std. Deviation 8.736 9.160 8.456 Variance 76.323 83.913 71.499 Skewness .326 .500 -.417 Std. Error of Skewness .427 .427 .427 Kurtosis -.342 -.349 -.576 Std. Error of Kurtosis .833 .833 .833 Range 35 35 32 Minimum 64 64 65 Maximum 99 99 97 Sum 2477 2426 2524 Percentiles 25 76.00 73.75 79.00 50 80.50 79.00 82.50 75 88.25 87.75 92.00
Pada tabel diatas dapat dilihat pada kedua variabel, dimana jumlahsampelmasing-masing variabel yang valid adalah30. Ini artinya semua data bisa diproses. Rata-rata Keteladanan Guru PAK menunjukkan 82,57 dengan standar error rata-rata 1,595 dan rata-rata Kualitas PAK adalah 80,87 dengan standar error rat-ratanya 1,672, serta rata-rata Pembentukan Karakter Siswa menunjukkan 119,31 dengan standar error rata-ratanya 84,13.
Dari data pada table statistik di atas dapat juga diprediksi tingkat kecondongan atau kemiringan data (skewness) dan kecuraman distribusi data (kurtosis). Untuk itu dilakukan penghitungan dengan membuat ukuran perbandingan untuk kedua variable.
Tabel 4.2

Keteladanan Guru PAK Kualitas PAK Pembentukan Karakter Siswa

Skewness/ SE Skewness 0,326/ 0,427 =0,763 0,500/ 0,427 =1,171 -0,417/ 0,427 =-0,977 Kurtosis/ SE Kurtosis -0,342/ 0,833 =-0,411 -0,349/ 0,833 =-0,419 -0,576/ 0,833 =-0,691 Secara teori jika perbandingan Skewnees/SE dan Kurtosis/SE bernilai kurang dari -2 atau lebih dari + 2 maka distribusi data tidak normal. Dan jika nilai perbandingan itu sama dengan nol atau berada antara -2 sampai dengan +2, maka distribusi data adalah normal. Sehingga dari hasil perhitungan tersebut dapat diprediksi bahwa distrbusi kedua data tersebut normal atau mendekati normal. Jadi dapat disimpulkan bahwa kecenderungan ketiga data tersebut mengumpul disekitar nilai rata-ratanya dari data kedua variabel.
a) Keteladanan Guru PAK Tabel 4.3 Keteladanan Guru PAK Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 64 1 1.1 3.3 3.3 70 1 1.1 3.3 6.7 74 2 2.1 6.7 13.3 75 2 2.1 6.7 20.0 76 2 2.1 6.7 26.7 78 2 2.1 6.7 33.3 79 1 1.1 3.3 36.7 80 4 4.2 13.3 50.0 81 2 2.1 6.7 56.7 82 2 2.1 6.7 63.3 83 1 1.1 3.3 66.7 86 1 1.1 3.3 70.0 87 2 2.1 6.7 76.7 92 1 1.1 3.3 80.0 94 2 2.1 6.7 86.7 95 1 1.1 3.3 90.0 96 1 1.1 3.3 93.3 99 2 2.1 6.7 100.0 Total 30 31.6 100.0 Missing System 65 68.4 Total 95 100.0 Pada table frekuensidapatdilihat, skala Keteladanan Guru PAK minimum dengan nilai 64sebanyak 1 orang danpersentasinya 1,1% danskalamaksimumnya dengan nilai 99 sebanyak 2 orang danpersentasinya 2,1%. Gambar 4.1 Gambar histogram diatas terlihat grafik data berbentuk seperti lonceng (kurva normal), ini artinya distribusi data adalah normal atau mendekati normal. Penyebaran data juga terlihat berada disekitar rata-rata data Keteladanan Guru PAK. b) Kualitas PAK

Tabel 4.4 Kualitas PAK Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 64 1 1.1 3.3 3.3 67 1 1.1 3.3 6.7 71 1 1.1 3.3 10.0 72 2 2.1 6.7 16.7 73 2 2.1 6.7 23.3 74 1 1.1 3.3 26.7 76 1 1.1 3.3 30.0 77 2 2.1 6.7 36.7 78 2 2.1 6.7 43.3 79 3 3.2 10.0 53.3 80 1 1.1 3.3 56.7 81 4 4.2 13.3 70.0 84 1 1.1 3.3 73.3 87 1 1.1 3.3 76.7 90 2 2.1 6.7 83.3 92 1 1.1 3.3 86.7 96 1 1.1 3.3 90.0 97 1 1.1 3.3 93.3 98 1 1.1 3.3 96.7 99 1 1.1 3.3 100.0 Total 30 31.6 100.0 Missing System 65 68.4 Total 95 100.0 Pada table frekuensidapatdilihat, skala Kualitas PAK minimum dengan nilai 64sebanyak 1 orang danpersentasinya 1,1% danskalamaksimumnya dengan nilai 99 sebanyak 1 orang danpersentasinya 1,1%. Gambar 4.2

c) Pembentukan Karakter Siswa

Tabel 4.4 Pembentukan Karakter Siswa Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 65 1 1.1 3.3 3.3 69 1 1.1 3.3 6.7 71 1 1.1 3.3 10.0 73 1 1.1 3.3 13.3 75 1 1.1 3.3 16.7 78 1 1.1 3.3 20.0 79 3 3.2 10.0 30.0 80 1 1.1 3.3 33.3 81 2 2.1 6.7 40.0 82 3 3.2 10.0 50.0 83 1 1.1 3.3 53.3 87 1 1.1 3.3 56.7 88 1 1.1 3.3 60.0 89 2 2.1 6.7 66.7 91 1 1.1 3.3 70.0 92 5 5.3 16.7 86.7 93 1 1.1 3.3 90.0 95 1 1.1 3.3 93.3 96 1 1.1 3.3 96.7 97 1 1.1 3.3 100.0 Total 30 31.6 100.0 Missing System 65 68.4 Total 95 100.0 SkalaPembentukan Karakter Siswaminimum dengan nilai 65 dan frekuensinyasebanyak 1 orang sertapersentasinya 1,1% danskalamaksimumnyadengan nilai 97dan frekuensinyasebanyak1 orang sertapersentasinya 1,1%.

Gambar 4.3
Gambar histogram pada data Pembentukan Karakter Siswa juga terlihat berbentuk seperti lonceng (kurva normal), ini artinya distribusi data Pembentukan Karakter Siswa adalah normal atau mendekati normal. Penyebaran data juga terlihat berada disekitar rata-rata data Pembentukan Karakter Siswa dan ekornya sedikit juling ke kiri.

B. Pengujian Persyaratan Analisis

1. Uji Normalitas Tujuan Uji ini dilakukan adalah untuk menguji asumsi bahwa data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

a) Keteladanan Guru PAK

Tabel 4.5 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. Keteladanan Guru PAK .159 30 .051 .949 30 .158 a. Lilliefors Significance Correction Pada kolomKolmogorov-Smirnov, diperoleh Sig. 0,051 dandariShapiro-Wilk diperoleh Sig. 0,158. Apabila nilai Sig. Lebih besar (>) dari tingkatan alpha () yang telah ditentukan maka hipotesis dapat diterima. Karena hasil output pada Kolmogorov-Smirnovmenunjukkan nilai Sig. = 0,051> (0,05), begitu pula pada Shapiro-Wilkmenunjukkkan nilai Sig. = 0,158> (0,05) maka hipotesis dapat diterima dengan arti bahwa data Keteladanan Guru PAK berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Gambar 4.4 Hasil dari Normal Probability (Q-Q plot) memperlihatkan penyebaran dari data-data yang ada pada variabel (menggambarkan garis diagonal lurus), meskipun plot terlihat ada jarak antara plot satu dengan yang lainnya, namun plot-plot terletak mendekati atau berada di sekitar garis diagonal lurus (keadaan ideal dari data yang mengikuti distribusi normal). b) Kualitas PAK
Tabel 4.6 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Sig. Kualitas PAK .194 30 .005 .945 30 .127 a. Lilliefors Significance Correction Hasil output pada kolom Kolmogorov-Smirnovmenunjukkan nilai Sig. = 0,200 ≥  (0,05), begitu pula pada Shapiro-Wilkmenunjukkan nilai Sig. = 0,127> (0,05) maka hipotesis dapt diterima dengan arti bahwa data Kualitas PAK berasal dari populasi yang berdistribusinormal. Gambar 4.5 Hasil dari Normal Probability (Q-Q plot) memperlihatkan penyebaran dari data-data yang ada pada variabel (menggambarkan garis diagonal lurus), plot-plot terletak mendekati atau berada di sekitar garis diagonal lurus (keadaan ideal dari data yang mengikuti distribusi normal). c) Pembentukan Karakter Siswa

Tabel 4.7 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. Pembentukan Karakter Siswa .125 30 .200* .951 30 .183 *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction Hasil output pada kolom Kolmogorov-Smirnovmenunjukkan nilai Sig. = 0,200> (0,05), begitu pula pada Shapiro-Wilkmenunjukkkan nilai Sig. = 0,183> (0,05) maka hipotesis diterima dengan arti bahwa data Pebentukan Karakter Siswa berasal dari populasi yang berdistribusinormal. Gambar 4.6 Pada grafik Q-Q plot terlihat plot-plot berada dekat dengan garis diagonal dan bahkan ada jugayang menempel pada garis (mengikuti garis diagonal) di kanan maupun di kiri, maka dapat disimpulkan bahwa data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. 2. Uji Homogenitas Tabel 4.8 Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Pembentukan Karakter Siswa Based on Mean .015 2 87 .985 Based on Median .044 2 87 .957 Based on Median and with adjusted df .044 2 83.145 .957 Based on trimmed mean .017 2 87 .983 Pada Based on Meandiperoleh nilai Sig. 0,985. Artinya variansi sampel sangat baik dan sesuai dengan kriteria hipotesis uji homogenitas, yaitu apabila nilai Sig. lebih besar (>) dari tingkatan alpha () yang telah ditentukan (0,05) maka hipotesis diterima atau homogen. Jadi dapat disimpulkan bahwa data sampel dari Keteladanan Guru PAK, Kualitas PAK dan Pembentukan Karakter Siswa berasal variansi yang sama atau homogen. 3. Uji Linieritas Tabel 4.9 ANOVA Table Pembentukan Karakter Siswa * Keteladanan Guru PAK Between Groups Within Groups Total (Combined) Linearity Deviation from Linearity Sum of Squares 1410.717 913.236 497.481 662.750 2073.467 df 17 1 16 12 29 Mean Square 82.983 913.236 31.093 55.229 F 1.503 16.535 .563 Sig. .239 .002 .859 Hasil yang diperoleh pada uji linieritas pertama pada ANOVAtable didapatkan nilai Sig. pada deviation from liniarity sebesar 0,859 antara Keteladanan Guru PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa. Menurut kriterianya adalah jika nilai deviation from liniarity lebih besar dari taraf signifikansi yang ditentukan (0,05) berarti kedua data variabel berhubungan linier. Maka dapat disimpulkan bahwa Keteladanan Guru PAK terhadap Pembentukan KarakterSiswa bersifat linier. Artinya hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan sebuah garis lurus. Apabila mempunyai hubungan yang linier positif, maka jika variabel satu meningkat, maka variabel yang lain juga akan meningkat. Tabel 4.10 ANOVA Table Pembentukan Karakter Siswa * Kualitas PAK Between Groups Within Groups Total (Combined) Linearity Deviation from Linearity Sum of Squares 1402.717 1153.668 249.049 670.750 2073.467 df 19 1 18 10 29 Mean Square 73.827 1153.668 13.836 67.075 F 1.101 17.200 .206 Sig. .455 .002 .998 Hasil yang diperoleh pada uji linieritas kedua pada ANOVAtable didapatkan nilai Sig. pada deviation from liniarity sebesar 0,998 antara Kualitas PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa. Menurut kriterianya adalah jika nilai deviation from liniarity lebih besar dari taraf signifikansi yang ditentukan (0,05) berarti kedua data variabel berhubungan linier. Maka dapat disimpulkan bahwa Kualitas PAK terhadap Pembentukan Karakter Siswa bersifat linier. Artinya hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan sebuah garis lurus. Apabila mempunyai hubungan yang linier positif, maka jika variabel satu meningkat, maka variabel yang lain juga akan meningkat.

C. Pengujian Hipotesis

1. Uji Korelasi Bivariate Tabel 4.11 Correlations Keteladanan Guru PAK Kualitas PAK Pembentukkan Karakter Siswa Keteladanan Guru PAK Pearson Correlation 1 .964** .664** Sig. (1-tailed) .000 .000 N 30 30 30 Kualitas PAK Pearson Correlation .964** 1 .746** Sig. (1-tailed) .000 .000 N 30 30 30 Pembentukkan Karakter Siswa Pearson Correlation .664** .746** 1 Sig. (1-tailed) .000 .000 N 30 30 30 **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). Pada hasil analisis uji hubungan ketiga variabel diperoleh bahwa koefisien korelasi Keteladanan Guru PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa adalah sebesar 0,664 berarti keeratan korelasi kedua variabel tersebut kuat, karena 0,60 s/d 0,799 berarti memiliki keeratan yang kuat. Dan nilai Sig. (1-tailed) sebesar 0,000 < taraf signifikan alpha (0,05). Hal ini berarti korelasi Keteladanan Guru PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa adalah mempunyai hubungan yang positif dan signifikan. Selanjutnya diperoleh juga koefisien korelasi Kualitas PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa adalah sebesar 0,764, artinya keratan korelasi kedua variabel juga kuat. Begitu pula dengan nilai Signifikansinya yaitu sebesar 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansi alpha 0,05. Jadi, Kualitas PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa mempunyai hubungan yang positif dan signifikan. Pedoman untuk memberikan skala pengukuran koefisien korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 Sangat Lemah 0,20 – 0,399 Lemah 0,40 – 0,599 Sedang 0,60 – 0,799 Kuat 0,80 – 1,000 Sangat Kuat Skala pengukuran koefisien diatas dapat dijelaskan bahwa hubungan antara Keteladanan Guru PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa dikategorikan kuat, begitu juga dengan koefisien determinasinya berada pada kategori kuat. Begitu juga hubungan antara Kualitas PAK dengan Pembentukan Karakter Siswa dikategorikan kuat. Jadi hubungan kedua variabel yaitu Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK memberi dampak yang positif terhadap Pembentukan Karakter Siswa.

2. Uji Regresi Linier Sederhana

Tabel 4.12 Variables Entered/Removeda Model Variables Entered Variables Removed Method 1 Kualitas PAK, Keteladanan Guru PAKb . Enter a. Dependent Variable: Pembentukan Karakter Siswa b. All requested variables entered. Tabel diatas memiliki pengertian bahwa semua variable yaitu Keteladanan Guru PAK, Kualitas PAK dan Pembentukan Karakter Siswa dimasukkan dengan metode Enter dan tidak ada yang dibuang. Hal ini bisa berkaitan dengan dukungan teori bahwa ketiga variabel tersebut tersebut saling mempengaruhi atau berhubungan, jadi ketiganya dibutuhkan dalam penelitian ini. Tabel 4.13 Model Summaryb Model 1 R .774a R Square .599 Adjusted R Square .569 Std. Error of the Estimate 5.551 Change Statistics R Square Change .599 F Change 20.151 df1 2 df2 27 Sig. F Change .000 a. Predictors: (Constant), Kualitas PAK, Keteladanan Guru PAK b. Dependent Variable: Pembentukan Karakter Siswa Hasil analisis regresi pada tabelModel Summary dapat dilihat R menunjukkan angka 0,774. Artinya, sebesar 0,774 atau 77,4% Pembentukan Karakter Siswa dapat diprediksikan dari Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK sedangkan sisanya dari faktor-faktor lain. Kemudian R square (koefisiendeterminasi)diperoleh sebesar 0,599 atau 59,9% dari variable Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAKdapatdijelaskanmemiliki hubungan denganPembentukan Karakter Siswa,sedangkansisanyadijelaskanolehfaktor-faktor lain. Tabel 4.14 ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1241.647 2 620.823 20.151 .000b Residual 831.820 27 30.808 Total 2073.467 29 a. Dependent Variable: Pembentukan Karakter Siswa b. Predictors: (Constant), Kualitas PAK, Keteladanan Guru PAK Dari tabel ANOVA diatas, diperoleh F hitungadalah 20,151 dengantingkatsignifikansi(0,000). Olehkarenaprobabilitassignifikansi (0,000)lebihkecildaritaraf sinifikansi alpha yang ditentukan (0,05),maka regresi linier signifikan. Artinya, regresi ini dapat dipakai untuk memprediksi perubahan dalam Pembentukan Karakter Siswa melalui Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAKyang diperoleh oleh setiap siswa. 

3. Persamaan Regresi 

Tabel 4.15 Coefficientsa Model 1 (Constant) Keteladanan Guru PAK Kualitas PAK Unstandardized Coefficients B 34.606 -.745 1.374 Std. Error 9.853 .441 .421 Standardized Coefficients Beta -.770 1.488 T 3.512 -1.690 3.265 Sig. .002 .103 .003 Correlations Zero-order .664 .746 Partial -.309 .532 Part -.206 .398 Collinearity Statistics Tolerance .072 .072 VIF 13.980 13.980 

a. Dependent Variable: Pembentukan Karakter Siswa

Hasil analisis regresi juga diperoleh table coefficient dimanapada kolom Constant signifikansi diperoleh sebesar (0,002) lebih kecil dari taraf signifikansi alpha (0,05). Artinya, kedua variabel ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Pembentukan Karakter Siswa.
Persamaan regresi dengan acuan Y = a + b + cX maka dari kolomUnstandardized Coefficients (B) didapa tpersamaan regresi:Ŷ= 34,606– 0,745 +1,374X. Artinya, ketika Keteladann Guru PAK dan Kualitas PAK sama dengan nol ( X= 0 ), maka Pembentukan Karakter Siswa sebesar 33,606. Dan jika Keteladanan Guru PAK dikurangi sebanyak satu satuan, maka akan memberikan kontribusi pengurangan sebesar 0,745 atau 74,5% kepada Pembentukan Karakter Siswa. Jika Kualitas PAK ditingkatkan sebanyak satu satuan, maka akan memberikan kontribusi peningkatan sebesar 1,374 atau 137,4%. Jadi sangatlah jelas bahwa Keteladanan Guru PAK dan Kualitas PAK berdampak pada Pembentukan Karakter Siswa.

Saturday, May 14, 2016

Contoh BAB II Skripsi, Tesis dan Disertasi

CONTOH BAB II SKRIPSI (2 Variabel)


CONTOH BAB II TESIS ( 3 Variabel atau lebih)

CONTOH BAB II DISERTASI ( 5 Variabel atau Ketuntatasan)

Kualitas Pendidikan (Variabel X1) Secara umum kata kualitas dipahami dalam beragam pengertian. Antara lain dilihat dalam definisi beberapa ahli: Menurut Joseph Juran, kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pengguna. Artinya suatu produk atau jasa dapat disebut berkualitas apabila sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna. Dalam konteks pendidikan maka kualitas berarti tamatan yang diperlukan masyarakat. Menurut Edward Deming, kualitas adalah suatu tingkat yang dapat diprediksi dari keseragaman dan kebergantungan pada biaya rendah dan sesuai dengan pasar.Sedangkan Welch Jr menyebutkan kualitas adalah jaminan kesetiaan pelanggan, pertahanan terbaik melawan saingan dari. Menurut ISO 2000, kualitas adalah totalitas kerakteristik suatu produk (barang dan jasa) yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikan atau ditetapkan (Beberapa sumber dari internet) Berdasarkan beberapa pengertian tentang kualitas tersebut di atas, ada kesamaan dalam beberapa pokok yaitu: Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. Kualitas berkait dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memberi nilai kepada manusia. Kualitas juga dapat diartikan suatu kondisi yang selalu berubah. Menurut Permadi, mutu jasa pendidikan bersifat relatif (sesuai dengan kebutuhan pelanggan), dan bukan bersifat absolute. Dengan kata lain, mutu pendidikan akan baik dan memuaskan jika sesuai atau melebihi kebutuhan para pelanggan yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa kutipan di atas, kualita diartikan sebagai suatu hasil yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam konteks pendidikan, suatu hasil adalah proses yang dialami peserta didik (perubahan ketrampilan pada peserta didik) yang sesuai atau mampu menerapkan apa yang diperolehnya dalam dunia masyarakat atau dunia kerja. Dengan kata lain kualitas adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan pelanggan (jaminan kebutuhan pelanggan).
Jadi, kualitas pengajaran adalah instruksi yang terstruktur dari seorang pendidik kepada peserta didik sehingga terbentuk peserta didik yang mengalami perubahan sesuai tujuan yang telah dan pada akhirnya menolong peserta didik untuk mampu berkarya atau berguna dalam masyarakat.

Pengertian Kualitas Agama Kristen

Kualitas pendidikan Agama Kristen tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia yaitu Guru Pendidikan Agama Kristen. Oleh sebab itu sekolah mampu memenuhi kebutuhan sumber daya manusia baik jumlah maupun kualitas dengan meningkatkan sumberdaya pendidikan untuk memasok kebutuhan sumber daya manusia sesuai dengan permintaan dan meningkatkan proses pendidikan di tingkat pendidikan dengan mengembangkan unsur-unsur pokok dan penunjang yang diperlukan. Jadi, yang dimaksud disini yaitu proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang berdaya merubah kehidupan peserta didik. Perubahan itu meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Perubahan demikian dapat disebut sebagai ketercapaian tujuan pengajaran Pendidikan Agama Kristen. Dengan kata lain, sejauh mana Pendidikan Agama Kristen berhasil mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan Pendidikan Agama Kristen maka diperlukan suatu proses yang melibatkan banyak pihak. Dalam sejarah perkembangan praktek Pendidikan Agama Kristen, menurut E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996) ada aliran atau kelompok pemikiran Kristen yang mengutamakan aspek pengajaran, dan aliran yang lain menekankan tentang aspek pengalaman keagamaan. Aliran yang menekankan pengajaran atau pendidikan hendak membangun kepercayaan Kristen dalam diri siswa melalui penyampaian pengetahuan oleh seorang pendidik Kristen. Sedangkan aliran yang menekankan pengalaman rohani siswa lebih mengarahkan perhatian pada perkembangan diri siswa. Kelompok ini menekankan pendidikan Kristen pada pengalaman perorangan untuk menjadi pribadi-pribadi yang jujur dan luhur secara pribadi dalam sebuah masyarakat (Homrighausen dan Enklaar, 1996:23)

Contoh BAB I Skripsi, Tesis dan Disertasi

CONTOH BAB I Skripsi
Contoh BAB I Tesis
CONTOH BAB I Disertasi


Contoh Latar Belakang Masalah Bab I dan II Kajian Teori
Bagi mereka yang berminat untuk mendapatkan bahan-bahan refrensi yaitu contoh pembuatan Bab I, khususnya latar belakang masalah dan kajian teori Bap II maka dapat memesannya dengan menyediakan ongkos mengkonsep, mengetik dan biaya pemeliharaan web dan koneksi internet dengan harga perjudul Rp -......,00 (satu judul/variabel penelitian mulai dari Bab I dan II). Jika berminat mendapatkan maka dapat menghubungi kami. Setelah itu bahan akan dikirim ke pemesan setalah pemesan membayar biaya pembuatan contoh-contoh karya ilmiah. Bahan (Bab I dan II) yang dikirim bukan pelagiat tetapi karya sendiri/pemilik weblog. Bahan yang dikirim dapat membantu Anda mengerjakan bab I dan II.

BAB II
Kajian Teoritis-Teologis, Kerangka Berpikir dan Hipotesis
A. Kajian Teoritis-Teologis
Kajian teoritis teologis yang dimaksud disini yakni pembahasan tentang variabel yang diteliti. Setiap variabel dijelaskan dengan memakai teori (pendapat para ahli/penulis buku) yang bersifat umum. Kemudian dibangun sebuah kajian teologis terhadap variabel yang dibahas.
Misalnya dalam contoh ini, dibahas tentang variabel Keteladanan Guru dan Pembentukan karakter peserta didik. Berdasarkan pada dua variabel ini maka perlu dibahas secara teoritis dan teologis tentang keteladanan guru dan pembentukan karakter peserta didik.
Contoh:

1. Pengertian Keteladan Guru PAK
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keteladanan atau teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh. Keteladan itu berupa perbuatan, kelakuan, sifat dan sebagainya (Tim Penyusun, 2007:1427). Sedangkan Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen adalah sejumlah perilaku atau kebiasaan Guru PAK yang dapat dijadikan sebagai contoh untuk diikuti peserta didik. Karakter guru merupakan kebiasaan yang terbentuk dalam diri guru karena pengalaman relasi dengan TUHAN, pemahaman terhadap isi Alkitab yang diajarkan Guru PAK, kebiasaan baik yang terbentuk karena lingkungan. Dalam hal ini seorang Guru Pendidikan Agama Kristen memiliki sejumlah sifat mulia dalam dirinya. Sifat mulia inilah yang menjadikan guru menjadi teladan bagi peserta didik.
Di atas merupakan contoh teori tentang pengertian Keteladanan Guru PAK
2. Jabatan Guru Pendidikan Agama Kristen
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar dan dimaknai sebagai tugas profesi. Sedangkan menurut Ornstein dan Levine (dalam Soetjipto, 2007:15-16) menyatakan jabatan guru memerlukan bidang ilmu dan keterampilan yang menopang dalam melaksanakan tugas pengajaran dan pendidikan. Oleh karena itu seorang guru memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang, menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.
Bila jabatan guru dihubungkan dengan profesional maka tugas guru PAK Guru memerlukan keahlian khusus. Dalam hubungan dengan keteladanan maka profesionalisme guru terlihat dari keteladanannya dalam mengajar peserta didik yakni keteladanan dalam pelayanan, yang khas, diakui, dan dihargai oleh masyarakat dan pemerintah. Keteladanan melalui kegiatan profesional nampak dalam pelayanan kependidikan yang dilaksanakan oleh Guru PAK. Bila Guru PAK memberi layanan menguasai betul materi yang diajarkannya dan mempunyai citra yang baik di masyarakat dan dapat menunjukkan bahwa guru layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat yang ada disekelilingnya.

B. Kerangka Berpikir
Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen merupakan sejumlah kebiasaan baik yang terbentuk dalam diri Guru Pendidikan Agama Kristen yang dapat mempengaruhi perilaku peserta didik ke arah perilaku yang lebih baik. Semakin baik Guru PAK menampilkan sifat-sifat unggul dalam dirinya maka karakter tersebut akan mempengaruhi peserta didik.
C. Hipotesis
Jika guru PAK menunjukkan keteladanan maka peserta didik akan mengalami perubahan dalam karakter. Artinya semakin baik guru PAK menunjukkan teladan maka semakin terbentuk sifat-sifat unggul dalam diri peserta didik.
 

Saturday, May 7, 2016

Contoh Bab II Skripsi, Tesis dan Disertasi

Contoh Kajian teori Bab II dari Penelitian Mahasiswa berikut ini didasarkan pada rumusan judul penelitian: Pengaruh Pembelajaran PAK Sebagai Sistem Terhadap Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

A. Kajian Tentang Perencanaan Pembelajaran sebagai Sistem.

Kemampuan pendidikan Kristen untuk merancang pembelajaran karena Tuhan menciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk merencakan apa yang akan dilakukannya. Allah menciptakan alam semesta serta manusia dengan perencanaan yang berlangsung dalam waktu-Nya (Kekekalan). Artinya kapa Tuhan merencanakan untuk menciptakan langit dan bumi serta manusia tidak dapat kita ketahui. Dalam kitab Kejadian dipakai kata “pada mulanya”, ini waktu kekekalan. Namun satu hal yang patut kita garis bawahi yakni kemampuan merancang yang ada pada Allah diberi dalam batas-batas tertentu kepada manusia. Melalui kemampuan berpikir itulah manusia merencanakan kegiatannya, khususnya kegiatan terstruktur yang disebut “Pembelajaran” (Belajar dan Mengajar). Dalam hal ini pembelajaran dapat diartikan kegiatan pendidik yang terprogram dalam desain instruk-sional, yang menolong pesertadidik mengalami belajar secara aktif dengan penekanan pada penyediaan sumber belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2006:297). Untuk mencapai perubahan dalam diri peserta didik maka harus disadari bahwa pembelajaran tidak berdiri sendiri melalinkan berkorelasi dengan faktor-faktor lain. Itulah sebabnya maka perlu memahami dan menerapkan “perencanaan pembelajaran sebagai sistem”. Jika demikian apa sesungguhnya arti perencanaan pembelajaran sebagai sistem. Kita mulai dengan beberapa jawaban. Pertama, jawaban secara statis. Jawaban ini dari waktu ke waktu, dan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu lembaga ke lembaga lain, dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu sekolah tinggi ke sekolah tinggi yang lain, dari satu universitas ke universitas lain, dari satu fakultas ke fakultas lain sama jawabannya. Jawaban yang dimaksud yaitu definisi “Kamus”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem adalah perangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Kedua, jawaban dinamis. Jawaban ini lahir dari penelitian. Biasanya definisi secara konseptual dan operasional atau definisi lain yang dikenal dalam dunia sains. Dalam definisi dinamis terdapat banyak arti tentang sistem. Kita mulai dengan beberapa pengertian dinamis tentang “sistem”. Sistema adalah suatu komponen-komponen yang satu sama lain saling berkorelasi atau berhubungan satu dengan yang lainnya di dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Menurut definisi ini maka “perencanaan pembelajaran sebagai sistem” adalah perencanaan pembelajaran yang dilakukan guru merupakan bagian penting dari sistem pembelajaran secara utuh. Artinya perencanaan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, media pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi pembelajaran, latar belakang pesertadidik, dan lain sebagainya yang berkontribusi terhadap pembelajaran. Menurut Surwana, dalam perencanaan sebagai sistem ada empat kriteria yang perlu diperhatikan yaitu: Suwarna, Pengajaran Mikro, (2005” 33) Menurut Wina Sanjaya, ada beberapa komponen sistem pembelajaran dibagai menjadi lima bagian yaitu: a. Tujuan. Menurut Sanjaya, tujuan pembelajaran merupakan faktor atau komponen yang sedemikian urgen dalam suatu sistem proses pembelajaran. Dalam penentujuan tujuan itu akan nampak ke arah mana siswa dididik atau diajar untuk mengalami perubahan, dengan kata lain: mau dibawa ke mana siswa? Dan Apa yang harus dimiliki oleh peserta didik? Dua hal ini akan nampak dalam perumusan tujuan b. Materi pelajaran. Untuk mencapai tujuan pelajaran maka dibutuhkan materi atau isi materi pelajaran. Dalam hal ini materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem proses pembelajaran. Materi pelajaran harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. c. Metode atau strategi pembelajaran. Untuk mencapai tujuan maka peserta didik diberikan sejumlah materi yang sesuai tujuan. Untuk memahami atau mengalami belajar (perubahan kognitif, afektif dan psikomotorik) maka diperlukan strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pembahasan. Jadi, strategi dan metode pembelajaran merupakan bagian penting dari komponen yang juga mempunyai fungsi dalam mencapai tujuan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen penggunaan strategi dan metode pembelajaran yang relevan. Dalam strategi dan metode terdapat pula penggunaan media pembelajaran. Secara khusus dalam era Teknologi canggih khususnya perkembangan internet yang mengglobal di seluruh dunia maka internet dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Melalui internet, peserta didik dapat melakukan belajar dari mana saja dan kapan saja dengan menfaatkan hasil-hasil teknologi. Dalam konteks ini, guru bertindak sebagai pengelola sumber belajar. Jadi, guru bukan hanya berperan sebagai sumber belajar tetapi pengelola sumber belajar. d. Evaluasi. Evaluasi proses pembelajaran merupakan komponen terakhir dalam sebuah sistem proses pembelajaran. Evaluasi berfungsi untuk mengetahui keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran, selain itu evaluasi pembelajaran berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerjanya dalam mengorganisir kegiatan proses pembelajaran. Melalui evaluasi seorang guru dapat mengetahui kekurangan dalam pembelajaran berbagai komponen sistem pembelajaran (Wina Sanjaya, 2010: 203-206).
B. Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

Pendidikan Krisaten di sekolah menurut pendidikan Kristen dimaksud disini yakni teori dan konsep para pendidik Kristen. Para pendidik Kristen disini adalah pendidik Kristen yang ditemukan dalam beberapa literatur Pendidikan Kristen. Pembahasan ini tidak bermaksud membahas seluruh pendapat dari pendidik-pendidik Kristen yang ditemukan dalam literatur maupun penulis buku pendidikan Kristen. Dengan demikian maka penulis hanya mengambil beberapa pendapat dari pendidik-pendidik Kristen tentang pandangan mereka akan pendidikan Kristen di sekolah. Setalah menjelaskan bagian ini, penulis akan mengemukakan pendidikan Kristen berdasarkan kurikulum Pendidikan Kristen atau sering disebut dengan Pendidikan Agama Kristen yang dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Pendidikan Kristen yang diselenggarakan di sekolah mendapat tanggapan positif dari Iris V. Cully (1995:2). Ia menyatakan: “sekolah adalah lingkungan di mana anak-anak dari setiap generasi diajarkan tentang apa yang diharapkan dan dituntut oleh suatu kebudayaan”. dapat dilakukan melalui kegiatan mengajar dan memberi teladan (sikap hidup atau perilaku guru yang sesuai dengan ajaran Kristen). Keteladanan adalah cara mendidik melalui perilaku yang baik dari setiap pendidik Kristen atau guru di sekolah yang akan mempengaruhi peserta didik atau siswa di sekolah. Sedangkan mengajar melibatkan pemberdayaan intelek individu untuk meningkatkan tubuh, pikiran dan jiwa. Hal ini tidak berarti bahwa keteladanan tidak melibatkan pikiran dan jiwa. Pikiran sangat diperlukan dalam kehidupan karena dengan pikiran itulah kemudian setiap orang mengaplikasikan apa yang diketahuinya dalam perilaku hidupnya. Berdasarkan paparan di atas menjadi jelas bahwa dalam pendidikan terdapat dua interaksi yaitu orang dewasa yang dalam konteks sekolah disebut guru dan orang belum dewasa yang dalam konteks sekolah formal disebut peserta didik. Dalam pendidikan Kristen di sekolah dibutuhkan peran guru-guru. Secara keyakinan, peserta didik membutuhkan guru-guru Kristen yang dapat memberi pengajaran dan keteladanan yang baik. Guru adalah mereka yang memiliki tekad dan kemauan tidak pernah berakhir untuk memastikan bahwa semua siswa mengambil kendali dari belajar mereka sendiri dan mencapai potensi maksimum mereka, sambil terus berusaha untuk 'mencapai dan mengajarkan' setiap siswa di bawah perawatan mereka. Guru Kristen mengajar dengan pandangan untuk membuat siswa berkembang menjadi individu yang yang lebih baik. Untuk memahami pokok-pokok pengajaran dalam pendidikan Kristen maka deskripsi berikut ini akan memaparkan pengajaran-pengajaran Kristen dalam berbagai teori tentang Pendidikan Kristen di sekolah. Menurut E.G.Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996:150). Kedua ahli Pendidikan Kristen di atas dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Agama Kristen” menjelaskan tentang pendidikan Kristen atau istilah yang dipakai oleh kedua ahli ini yakni Pendidikan Agama Kristen di Sekolah-sekolah. Kedua ahli ini menyatakan bahwa ada negara-negara lain yang bersikap toleran terhadap agama tetapi pemerintah tidak mengakomodir pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Ada pula negara-negara komunis seperti Cekoslovakia dan Hongaria, pemerintahnya mengizinkan pengajaran agama Kristen di sekolah-sekolah negara, guru-guru dibiayai oleh negara. Pendidikan Kristen di sekolah memberi faedah-faedah yang berarti. Menurut E. G. Homrighausen dan I.H. Enklaar (1996:149) faedah pendidikan keagamaan Kristen di sekolah yaitu: (1) Gereja dapat menyampaikan Injil kepada anak-anak dan pemuda-pemuda yang sukar dikumpulkan dalam PAK gereja sendiri, seperti Sekolah Minggu dan Katekisasi. (2) Anak-anak yang menerima pendidikan Kristen di sekolah akan merasa bahwa pendidikan umum dan keagamaan ada hubungannya (3) Meringankan beban biaya Gereja yang harus dikeluarkan untuk pendidikan Kristen di sekolah (4) Agama mulai menjadi bagian kebudayaan setiap rakyat. Dalam konteks pendidikan Agama Kristen di sekolah, seorang guru PAK adalah seorang pelayan firman Allah atau seorang penafsir isi Alkitab dan menerapkannya secara praktis kepada siswa. Kualitas Pendidikan Agama Kristen di sekolah berhubungan dengan kemampuan guru PAK membaca komentar atau tafsiran-tafsiran Alkitab.

C. Apa hubungan Perencanaan Pembelajaran sebagai Sistem Terhadap Pendidikan Agama Kristen di Sekolah

Ada sejumlah pengamatan penulis berhubungan dengan hubungan pembelajaran sebagai sistem terhadap PAK di sekolah, yaitu: 1. Pembelajaran sebagai sistem memberi kontribusi dalam aspek pergumulan dan penentuan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran harus dirumuskan berdaarkan perubahan seperti apa yang hendak dicapai dalam proses Pembelajaran PAK. 2. Pembelajaran sebagai sistem memberi kontribusi dalam aspek pergumulan penentuan materi pelajaran. Penentuan materi pelajaran didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan 3. Pembelajaran sebagai sistem memberi kontribusi dalam aspek proses pembelajaran yaitu pemanfaatan strategi, metode dan media pembelajaran termasuk keberanian guru Pendidikan Agama Kristen memanfaatkan teknologi Internet sebagai sumber belajar. Dalam hal ini Guru PAK berfungsi sebagai pengelola sumber belajar 4. Pembelajaran sebagai sistem memberi kontribusi kepada Pnedidikan Agama Kristen di sekolah dalam hal penilaian.

Wednesday, January 20, 2016

Masalah Penelitian Skripsi, Tesis dan Disertasi

Selamat Tahun Baru 2016, Tahun persaingan dalam MEA. Tahun inovasi dan kreativitas. Kini saya masuk dalam pembahasan sesuai postingan judul: Masalah penelitian skripsi, tesis dan disertasi. Jika kita mengadakan penelitian mahasiswa (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) maka variabel yang diteliti (variabel utama atau Y) harus mempunyai masalah. Setelah itu melanjutnya dengan variabel bebas yang ditetapkan untuk diteliti. Misalnya, setelah kita membaca buku, mengamati kenyataan yang terjadi serta merenung terhadap realitas kehidupan di kampus, kita kemudian mendapat masalah penelitian yaitu pada hari-hari tertentu sering mahasiswa teologi menjadi tidak berseri, selalu cemberut, tidak bergairah dll. Berdasarkan masalah ini kita rumuskan variabel utama (variabel Y) penelitian (skripsi, tesis, disertasi) adalah: “Senyum Mahasiswa Teologi”. Sedangkan variabel bebasnya kita tetapkan: Uang Saku Mahasiswa menjadi variabel bebas (X). Berdasarkan itu kita tetapkan judul/varibel penelitian: Pengaruh uang saku terhadap Senyum Mahasiswa Teologi. Bisa juga sebaliknya kita menetapkan judul atau variabel penelitian kemudian mencari masalahnya. Setelah kita tahu masalah dan judul penelitian kemudian kita mendemonstrasikannya dalam bentuk menulis. Sebelum menulis masalah penelitian dari skripsi, tesis dan disertasi perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan masalah penelitian. Berikut teorinya. Teori Menurut Yonas Muanley, masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan, perbedaan antara teori dan praktik. Menurut Sugiyono, masalah penelitian dapat diartikan: (1) penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktik, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan, penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi.Sugiono melanjutkannya dengan memberi contoh tentang masalah.Masalah yang berhubungan dengan definisi: penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan.Perubahan yang tidak diharapkan oleh orang-orang tertentu akan dapat menimbulkan masalah. Misalnya orang yang biasanya menjadi pimpinan pada bidang pemerintahan harus berubah ke bidang pendidikan. Hal ini pada awalnya tentu menimbulkan masalah. Orang yang biasanya mengelola pendidikan dengan system sentralisasi kemudian berubah menjadi desentralisasi, atau dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) maka akan muncul masalah. Orang yang biasanya menulis menggunakan mesin ketik manual harus mengganti dengan computer, maka akan muncul masalah. Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2008: 52-54) Dalam bidang Pendidikan Agama Kristen, orang yang terbiasa mengajar tanpa media harus berubah ke penggunaan media maka akan menimbulkan masalah. Guru PAK yang tidak terbiasa memanfaatkan Teknologi Internet dalam mengajar harus berubah menggunakan teknologi Internet dalam pembelajaran maka akan menimbulkan masalah. Masalah yang berhubungan dengan definisi: penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan. Suatu rencana yang telah ditetapkan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan tujuan dari rencana tersebut maka akan menimbulkan masalah. Misalnya, dengan adanya reformasi diharapkan harga-harga akan turun, ternyata tidak, sehingga timbul masalah. Direncanakan dengan adanya pelatihan kurikulum 2013 maka guru akan melaksanakan kurikulum 2013 secara baik, tetapi ternyata tidak, sehingga timbul masalah. Dengan adanya sertifikasi guru dan dosen diharapkan mutu pendidikan meningkat, tetapi kenyataannya tidak , sehingga timbul masalah. Jadi, untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat adanya penyimpangan antara yang direncanakan dengan kenyataan. Masalah yang berhubungan dengan adanya pengaduan. Dalam suatu organisasi sekolah yang tadinya tenang tidak ada masalah, ternyata setelah ada pihak tertentu yang mengadukan produk maupun pelayanan yang diberikan, maka timbul masalah dalam organisasi itu. Pikiran pembaca yang dimuat dalam Koran atau majalah yang mengadukan kualitas produk atau pelayanan suatu lembaga pendidikan, dapat dipandang sebagai masalah, karena diadukan lewat media, sehingga banyak orang menjadi tahu akan kualitas pelayanan yang diberikan. Dengan demikian orang tidak akan lagi menggunakan jasa lembaga tersebut. Demonstrasi oleh sekelompok orang terhadapa suatu sekolah atau perguruan tinggi dapat menimbulkan masalah. Dengan demikian masalah penelitian dpat digali dengan cara menganalisis isi pengaduan. Masalah yang berhubungan dengan definisi: ada kompetensi. Adanya saingan atau kompetensi sering dpat menimbulkan masalah besar, bila tidak dpat memanfaatkan untuk kerja sama. Dalam pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini unggul di dalam negeri, akan timbul masalah setelah ada perguruan tinggi asing boleh beroperasi di Indonesia. Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2008: 52-54) Dalam proposal penelitian setiap masalah harus ditunjukkan dengan data. Data masalah dapat diperoleh dari hasil pengamatan terhadap hasil penelitian orang lain, atau dari dokumentasi. Data yang diberikan harus up tu date, lengkap dan akurat. Jumlah data masalah yang dikemukakan tergantung pada jumlah variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Kalau penelitian berkenaan dengan 5 variable, maka data masalah yang dimeukakan minimal 5. Tanpa menunjukkan data, maka masalah yang dikemukakan dalam penelitian tidk akan dipercaya. Lihat Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2008: 52-54) Berdasarkan teori tentang masalah penelitian yang mendasari kita dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan, kita mengemukakannya dalam Bab I Pendahuluan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap anak ketika mengakhiri studi di sekolah lanjutan atas, mulai memikirkan: apakah melanjutkan kuliah atau mencari kerja. Bila keputusannya adalah melanjutkan studi di perguruan tinggi maka kerinduan itu didiskusikan dengan orangtua, atau orangtua memiliki rencana untuk anaknya perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Bila hal ini disetujui oleh anak dan orangtua maka tindakan selanjutnya adalah mendaftar ke perguruan tinggi. Setelah diterima di perguruan tinggi, sang mahasiswa mengikuti kuliah secara teratur sesuai jadwal akademik yang dikeluarkan kampus. Kegiatan perkuliahan ini berlangsung selama beberapa tahun. Minimal untuk S1, empat tahun. Bila ada satu dan lain hal yang menghambat maka kuliah S1 dapat ditempuh selama lebih dari empat tahun. Kuliah sebagaimana yang dimaksud di atas dapat berlangsung secara menyenangkan. Setiap mahasiswa merasa bahagia karena menjadi mahasiswa dan mengikuti kuliah hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun sampai batas waktu yang ditentukan untuk menyelesaikan S-1. Dalam proses perkuliahan itu, setiap mahasiswa memiliki masalah tersendiri. Ada yang tetap tersenyum dalam menghadapi berbagai kondisi yang berhubungan dengan kuliahnya, ada pula yang menunjukkan bahwa situasi tertentu menyebabkan masalah bagi dirinya. Mahasiswa demikian sering murung, tidak bersemangat mengikuti kuliah pada tanggal-tanggal tertentu. Hal yang menyebabkannya juga bermacam-macam, khususnya uang saku. Mahasiswa yang mendapat dukungan dari sponsor atau orangtua yang berada, sering mengalokasikan dana untuk uang saku mahasiswa. Mahasiswa yang terlambat atau terhalang mendapat uang saku sering menunjukkan gejala psikologis yaitu murung, tidak bergairah, mukanya tidak berseri pada waktu mengikuti kuliah ataupun berinteraksi dengan sesame temannya. B. Identivikasi masalah C. Rumusan Masalah D. Dst.

Sunday, April 27, 2014

Konsultasi Skripsi, Tesis, dan Disertasi Pendidikan Kristen dan Teologi



Semua Orang punya kemampuan untuk menyelesaikan karya ilmiah tetapi untuk sebagian yang karena kesibukan tidak dapat menyelesaikan karya ilmiah secara baik. Untuk itulah kami hadir memberi pelayanan dalam bentuk:
KONSULTASI SKRIPSI, TESIS DAN DISERTASI

Untuk konsultasi tersebut dikenakan biaya yang relative terjangkau.
Paulus membangun pelayanan dengan ekonomi alamiah (bekerja sebagai tukang tenda), yang oleh hasil kerja itu digunakan untuk pelayanan.
Di atas dasar pemikiran filosofi-teologis itulah kemudian kami menyediakan ruang konsultasi dalam penulisan karya ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi dalam bidang Konsentrasi Pendidikan Agama Kristen, Teologi Kependetaan, Misiologi).
Bila berminat hubungi kami: 081388662585