Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2024 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Saturday, February 8, 2020

Contoh Skripsi Pendidikan Agama Kristen

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Harapan merupakan sikap optimis yang realistis dan bukan mimpi. Ketika pendidikan dilaksanakan itu memiliki peran dalam pembangunan yang disebut dengan pembangunan nasional dan pengembangan sumber daya manusia yang melibatkan proses pendidik dan peserta didik dan lingkungannya. Pendidikan yang diselenggarakan secara mendasar tidak sekedar mentransfer dan menanamkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, tetapi lebih dari itu, adalah membentuk perilaku, sikap dan karakter serta kepribadian yang mandiri dan produktif. Dengan adanya peran demikian, membuat isi dan proses pendidikan semakin
berkualitas serta mampu menjawab tuntutan perkembangan zaman. Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat serta kebutuhan masyarakat akan perbaikan-perbaikan kehidupan hanya dapat diwujudkan apabila ada sumber daya yang berkompetensi dan unggul.. Namun pendidikan di Indonesia.

Dewasa ini mengalami perubahan-perubahan kurikulum yang bertujuan menambah kemajuan dan nilai pendidikan yang lebih optimal dibanding dengan sebelumnya. Sejak tahun 2007 sampai sekarang ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjadi konsumsi atau pembahasan setiap lembaga pendidikan di Indonesia. Pada prinsipnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diterapkan di setiap jenjang pendidikan sebagai upaya memberhasilkan anak didik melalui proses belajar mengajar yang mengutamakan anak didik serta sebagai subjek serta lebih kreatif dalam menemukan pengetahuan dan pengalamannya.

Perubahan kurikulum tidak menjadi jawaban yang mampu menambah kualitas anak didik, sebab pada kemyataannya di sekolah atau di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung guru menjadi subjek bagai anak didik, yakni pembelajaran cenderung teoritik dan tidak terkait dengan lingkungan dimana siswa berada. Selain itu anak didik terbatas dalam menemukan dan mengkonstruksikan ilmu pengetahuan yang ia terima, karena guru lebih banyak aktif memberi informasi secara terpisah-pisah dan materi yang disajikan.

Pembelajaran yang selalu berorientasi pada guru dan penguasaan teori hafalan, meciptakan anak yang kurang berpotensi dan malu mengekspresikan jati dirinya sebagai manusia yang mampu membangun masa depannya sendiri. Meskipun keberhasilan didapatkan, itu hanya dalam jangka pendek, sehingga pengembangan diri secara jangka panjang mengalami kesulitan atau kegagalan.

Hasil yang didapatkan anak didik melalui pengajaran dan informasi terpusat dari guru tidak maksimal dimiliki dan diterapkan. Hal yang penulus ungkapkan di atas merupakan fakta dan harus diakui bahwa system pembelajaran di Indonesia lebih mendemominasi kreatifitas guru dan sekaligus sebagai sumber paling utama dalam memberikan informasi bagi anak didik,sehingga kegiatan anak didik dalam belajar hanya bergantung penuh pada guru atau nara sumber.

Ada kecenderungan bahwa anak didik akan belajar dengan baik, jika lingkungan dijadikan sebagai bagian yang terkait dengan pembelajaran. Anak didik akan belajar lebih bermakna, jika mengalami langsung apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. Model Pembelajaran yang disebut pembelajaran kontekstual atau dalam bahasa Inggris disebut “Contextual Teaching And Learning) adalah konsep pembelajaran (belajar-mengajar) yang menolong guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik serta mendorong peserta didik membuat relasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Deprtemen Pendidikan Nasional, 2002:1)






Dengan konsep itu , hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak didik. Proses pembelajaran berlangsung dalam kegiatan siswa sambil mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada anak didik. Dalam konteks itu, anak didik perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dalam kehidupannya, sehingga ia berupaya untuk mencapai secara kreatif.. Melihat kenyataannya manusia tidak terpisahkan dari lingkungannya, tetapi berinteraksi terus menerus. Karena itu pembelajaran bagi anak didik tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata, tetapi dalam kontks dimana peserta didik berada. Anak didik sedapat mungkin membangun pengetahuannya dalam proses pembelajaran dunia nyata.

Pembelajaran Contectual and Learning (CTL) pada dasarnya adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang nantinya secara refleksi dan kreatif dapat diterapkan dari satu permsalahan ke permaslahan yang lain atau dari suatu konteks ke konteks lain. Sejalan dengan itu, anak didik mampu menemukan sendiri bagian inti dari pembelajarn sebagai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk diterapkan dan dinikmati. Selain berharap guru menjadi pengarah yang menfasilitasi kekurangan atau kelemahan dari anak didik, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal. Pembelajaran kontekstual menganjurkan para pendidik memilih atau mendesain lingkungan pelajaran yang memadukan sebanyak mungkin pengalaman belajar. Dalam proses seperti ini terjadi pembelajaran yang murni. Proses belajar yang murni bersifat kontekstual.(Syaiful Sagala, 2003:61).

Berarti anak didik mudah menghubungkan pelajaran dengan pengetahuan mereka
sebagai anggota keluarga, warga negara atau masyarakat bahkan sebagai tenaga kerja pada masa mendatang. Sebagai keuntungan dalam pembelajaran kontekstual adalah siswa lebih responsive, mudah menghubungkan pelajaran dengan pengetahuannya dan mampu memanfaatkan ide serta pengalamannya dalam dunia nyata, sesuai dengan situasi dan kondisi ia berada. Pendidikan Agama Kristen, adalah firman Allah dalam Alkitab yang dijabarkan keadlam ilmu teologi dan dilengkapi dengan berbagai ilmu filsafat manusia. (Fery C.Lewier 1990:4). Artinya PAK bukanlah hasil penemuan atau karya manusia semata-mata dan juga tidak sama seperti ilmu alam yang berdasarkan penelitian ilmiah dan pengamatan manusia secara biologis, tetapi Allah berfirman serta mengistruksikannya kepada umat-Nya untuk meneruskan kepada generasi berikutnya. PAK mencakup sejarah, karena Allah bermaksud menyatakan diri melalui peristiwaperistiwa masa lampau.

Melalui itu dapat belajar memahami, memahami dan hidup bergaul dengan Tuhan secara akrab dan menjadi sahabat dalam kehidupannya. Dari hasil pengamatan penulis, pembelajaran PAK yang dilangsungkan selama ini merupakan kegiatan yang berurutan dan selalu kaku atau monoton, seperti menyanyi dan berdoa, guru menjelaskan topic pelajaran, guru mendiktekan materi pelajaran, guru menyuruh siswa membaca Alkitab, guru meminta siswa untuk bertanya dan memberikan tugas kepada siswa serta menutup pembelajaran dengan ibadah (menyanyi dan berdoa). Hal ini merupakan kebiasaan yang hanya mengutamakan teori dan mempelajari Alkitab, sementara kemampuan anak didik dalam mengkonstruksikan pengetahuan yang diterima belum dapat dikonkritkan.

Dalam pengajaran yang diberikan Tuhan Yesus , para murid menjadi pelaku dan mengkontruksi pengetahuan yang mereka terima sebagai bagian pengembangan diri. Sebagaimana diketahui bahwa PAK dilaksanakan dengan pendekatan yang bersifat dialogis partisipatif. Artinya dalam proses pembelajaran terjadi komunikasi aktif antara guru anak didik, adanya diskusi dua arah yang mengisi dan menerima. Disini peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu tidak lagi mutlak karena anak didik dapat belajar dari berbagai media pembelajaran yang ada, baik media masa maupun media lainnya. Dalam pedekatan dialogis partisipatif harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik. Untuk memperkaya pendekatan dalam proses pembelajaran PAK, maka perlu CTL sebagai salah satu strategi yang membantu guru dan anak didik dalam menemukan arti dan makna sebuah teori. Pengetahuan dan keterampilan anak didik diperoleh melalui usaha mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Sehubungan dengan itu, penulis berkeinginan untuk melakukan penelitian ilmiah guna menjawab pergumulan di atas melalui karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi dengan judul “MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI SEKOLAH MENENGAH ……

B. Indentifikasi Masalah

1. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah formal cenderung berorientasi pada guru
2. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Formal dilaksanakan lebih mengutamakan pengetahuan dan hafalan ketimbang hubungan dengan dunia nyata peserta didik
3. Guru PAK Cenderung merancang dan melaksanakan metode pembelajaran yang kurang kreatif dan inovatif.
4. Pembelajaran PAK berpusaatkan pada guru dan materi ajar atau kurikulum yang berlaku, bukan pengalaman belajar peserta didik terhadap materi PAK yang diajarkan.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian ini difokuskan pada pembelajaran kontekstual

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah “Bagaimana pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Menengah …..?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan ada tidaknya hubungan antara Konsep-konsep penerapan pembelajaran kontekstual dalam proses pembelajaran Agama Kristen di Sekolah Menengah …..



F. Manfaat Penelitian

1. Dari sisi teoritis, penelitian ini menambah teori tentang pembelajaran kontekstual di sekolah formal dan perguruan tinggi
2. Membantu para guru PAK dalam peningkatan pengetahuan tentang model-model pembelajaran
3. Memeberi informasi kepada guru PAK tentang cara menerapkan pendekatan kontekstual
4. Sebagai tambahan informasi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut

BAB II
TEORI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A. Konsep Dasar Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pembelajaran Kontekstual didefinisikan sebagai pembelajaran yang menghubungkan materi ajar dengan pengalaman sehari-hari dari peserta didik. Penekanannyamengkombinasikan teori dan konteks kekinian peserta didik. Pendekatan demikian membuat pelajaran yang diberi lebih bermakna. Belajar sebagaimana ditemukan dalam literature pendidikan diartikan proses perubahan kognitif maka mengajar diartikan proses transfer pengetahuan, yang kemudian mempengaruhi pendekatan atau metode yang dipakai.

Pemahaman tentang belajar mempengaruhi mengajar. Demikian sebaliknya pemahaman tentang mengajar mempengaruhi belajar. Dalam konteks ini, pemahaman akan pendekatan metode Contxtual Learning membuat guru dan peserta didik memiliki arah dalam pembelajaran yang bermakna dan mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan dalam masyarakat.
Dalam teori Pendekatan CTL, pendekatan lebih menekankan pada kemampuan peserta didik dalam merekonstruksi pengetahuan secara kontekstual yang berlangsung dalam bimbingan pendidik. Pendidik hanya berfungsi sebagai fasilitator pembelajaran. Dalam konteks pemahaman yang demikian, CTL pada satu sisi menekankan ranah kognitif pada taraf yang lebih tinggi yaitu kemampuan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kenyataan hidup sehari-hari, pada sisi yang lain CTL menekankan kemampuan afektif dan psikomotorik, karena pembelajaran berpusatkan peserta didik pasti melibatkan tiga ranah.



Berdasarkan penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa pilihan pendekatan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh tujuan pembelajaran yang akan dicapai peserta didik. Dalam pembahasan ini lebih difokuskan pada pendekatan atau metode CTL.
Penggunaan metode atau pendekatan pembelajaran CTL yang disinggung di atas disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak lain adalah terjadinya pengalaman belajar yaitu perubahan pada kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan adanya perubahan tersebut, peserta didik mampu mengolah informasi, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, menurut W.Gulo, tujuan pengajaran terarah pada peningkatan kemampuan, baik dalam bentuk kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kegiatan belajar mengajar tidak lagi sekedar menyampaikan dan menerima informasi, tetapi mengolah informasi sebagai masukan pada usaha peningkatan kemampuan peserta didik. Artinya yang dibutuhkan ialah peningkatan kemampuan peserta didik untuk memproses informasi (pelajaran) yang ditemukannya (W.Gulo, 2004:71).

Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan penggunaan metode atau pendekatan mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar (W. James Popham dan Eva L. Baker, 2005:141). Tujuan mengajar tidak lain adalah adanya perubahan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang dimaksud di atas, pendidik menggunakan ragam metode. Salah satunya yaitu CTL. Pendekatan CTL merupakan upaya yang mengaitkan isi mata pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong mereka untuk dapat mengaitkan pengetahuan sesuai situasi dan kondisi di mana ia berada.

Sesuai dengan apa yang dikemukakan di atas, Johnson menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual tidak lain yaitu: Sistem Pembelajaran CTL adalah sebuah proses pendidikan yang menekankan tujuan membantu peserta didik melihat makna materi pelajaran yang diajarkan di sekolah dengan menghubungkan mata pelajaran formal dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka.(Elaine B. Johnson, 2002:25)

Berdasarkan definisi di atas, disimpulkan bahwa pendekatan CTL adalah suatu konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi pelajaran dengan situasi dan kondisi dunia nyata anak didik serta memotivasi mereka untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dengan kehidupan sekarang. Usaha yang dilakukan guru dalam mendorong anak didik untuk menemukan sendiri dan membentuk pengetahuannya merupakan strategi memberdayakan potensi anak didik menuju tujuan yang optimal.

Teori tentang pembelajaran kontekstual dapat dikembangkan dengan membaca buku-buku yang membicarakan tentang model pembelajaran kontekstual. Kiranya apa yang saya kemukakan ini sebagai bagian kecil dari landasan atau kebenaran rasional yang dirumuskan dan disampaikan dalam Bab II

Selamat berjuang dalam kebenaran rasional menuju kebenaran Empiris dengan dipandu metodologi (Bab III)

Semoga bermanfaat.


Buku-buku Referensi yang perlu Anda baca untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang Metode Pembeljaran Kontekstual antara lain:






Buku-buku yang diterbitkan

Amin O. Harefa, Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika, (IKIP Gunungsitoli, FPMIPA, 2008)

Agus Gerrad Sendek dan Nurhadi, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK, (Malang: Universitas Negeri Malang, 2003)

Deprtemen Pendidikan Nasional, Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and
Learning/ CTL), (Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2002)

Depdiknas, Kurikulum 2004, Kerangka Dasar, (Jakarta: Depdiknas, 2003)
Elaine B. ohnson, Contextual Teaching and Learning, ( Caifornia: Corwin Press, 2002)

Fery C. Lewier, Dalam Materi-,ateri Bimbingan PAK, (Ambon: Fakultas Teologi UKIM, 1990)

Fritz Rienecker; A Lingustic Key Tothe Greek New Testament; Zondervan Publishing Haouse 1996

Fa’aso Ndraha, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Melalui Pembelajaran Kontekstual, (Padang: Univesritas Negeri Padang, 2005)

H.Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jogjakarta : AR-Ruzz Media, 2008)

John A. Zahorik, Constructivist Teaching, (Bloomington Indian: Phi-Delta Kappa Educational Foundation, 1995)

Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003).
Surakhmad Winarso, Pengntar Pendidikan Ilmiah, (Bandung Tarsito, 1999)
W.Gulo, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : Gramedia, 2004)
W. James Popham dan Eva L. Baker, Tehnik Mengajar Secara Sistematis (Jakarta : Rineka Cipta, 2005)

Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jogjakarta : Ar RuzMedia, 2008)
M.Sukardjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan Konsep dan Aplikasinya, (Jakarta : Rajawali Pers, 2009)

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)

PH. Suripatty, Strategi Belajar Mengajar PAK, (Jakarta: DEPAG Direktorat Jenderal BIMAS Kristen, 2003)

Sadieli Telaumbanua, Pendidikan Agama Kristen Dengan Pembelajaran Kontekstual, Disajikan kepada Mahasiswa Jurusan PAK, STT BNKP Sunderman, ( Gunungsitoli, 2004)

Sardiman A.M.; Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar; PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta 2010

Buku Teori Pendidikan AGama Kristen:

Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, ( Jakarta; BPK- GM, 2006)

Anda dapat membeli buku secara online seperti di Belbuk maupun di Toko Buku terdekat di kota Anda


No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.