Blog ini berisi info pendidikan, tidak diperkenankan tampilan iklan dewasa. Silakan Baca Postingan baru 2024 tentang judul-judul penelitian mahasiswa dan masalah penelitian. Dilarang Keras Mengkopi Paste Artikel dalam Blog ini tanpa izin pemilik blog. Bila Anda mengkopi paste, saya akan laporkan ke DMCA dan blog Anda dapat dihapus.Copi paste dapat diketahui melalui www.google.co.id/. Selamat Paskah 2024. Imanuel

Sponsor

Sponsor

Saturday, February 8, 2020

Contoh Bab I Karya Ilmiah Teologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Alkitab adalah kanon Kristen. Segala ajaran dan perilaku orang percaya dapat dikatakan benar apabila sesuai dengan isi Alkitab. Untuk memahami isi Alkitab maka dipakai berbagai pendekatan, seperti pendekatan biblika (eksegesis, teologi PL dan PB), dogmatika atau sistematik teologi. Pendekatan yang dipakai disini yakni pendekatan analisis yang bersifat teologis terhadap makna kesempurnaan yang diajarkan Yesus dalam Injil Matius 5:48.

Ada beberapa kata dalam alinea di atas yang perlu diberi arti, yaitu kata pendekatan biblika (eksegesis, teologi PL dan PB), dogmatika atau sistematik teologi. Kata eksegese dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk menafsir sesuatu. Eksegese dapat pula diartikan membawa keluar atau mengeluarkan. Berdasarkan kata benda dari exegeomai memiliki pengertian tafsiran atau penjelasan (John H. Hayes dan Carl R. Holladay, 2006:1-4).






Selain itu eksegese dapat diartikan upaya mencari makna menurut penulis Alkitab dengan berpedoman pada kata-kata Ibrani dan Yunani yang dipakai. Dengan kata lain pendekatan eksegesis terhadap teks Alkitab bermaksud untuk memahami apa sesungguhnya makna asli dari penulis kitab dengan frasa yang dipakai (Yonas Muanley, 2013:292).

Pendekatan teologi biblika berusaha mencari makna berdasarkan tema-tema dalam Alkitab. Pendekatan ini bersifat lintas teks dan berusaha memahami tema tertentu dalam ajaran Alkitab. Sedangkan pendekatan dogmatika atau sistematik teologi yaitu sebuah pendekatan yang berusaha mensistematiskan/mengurutkan ajaran-ajaran dalam Alkitab dalam urutan yang logis-teologis dan dapat diterima secara rasional dan juga nirakali (dilura rasio). Semuanya disusun secara sistematis (W.R.F. Browning, 2009: 91)


Kesempurnaan merupakan salah satu konsep atau variabel yang didambakan oleh setiap orang. Allah adalah sempurna, dan telah menciptakan manusia pertama yaitu Adam dan Hawa dalam kesempurnaan yaitu tanpa dosa (kesempurnaan secara moral), kondisi kesempurnaan itu dapat disaksikan dalam narasi Kejadian 1 dan 2. Akan tetapi kesempurnaan moral itu mengalami gangguan yaitu kegagalan manusia dalam dosa sebagaimana muncul dalam deskripsi Kejadian 3. Dalam perkembangannya, manusia yaitu Kain membunuh adiknya. Hal ini menunjukkan penyimpangan kesempurnaan. Seharusnya Kain mengasihi adiknya tetapi justru kain bertindak tidak sempurna. Kondisi demikian berkembang dalam kehidupan umat pilihan-Nya sampai datang-Nya Yesus Kristus.

Dalam Kamus Filsafat, sempurna memiliki beberapa pengertian yakni: (1) lengkap, (2) murni, (3) tidak ada kesalahan. Tidak memiliki kemungkinan untuk cacat atau tidak bercacat (Lorens Bagus, 1996:986). Berdasarkan definisi ini, kata sempurna menunjukkan kualitas moral yaitu tanpa salah. Hal ini berarti sempurna adalah kondisi dimana tidak terjadi pelanggaran atau kesalahan dalam diri seseorang.

Matius 5:48 telah menjadi diksusi para ahli, diskusi itu salah satunya adalah pokok yang bersifat teologis. Percakapan teologis berkisar pada doktrin “kesempurnaan Kristen” (Christian Perfection) yang diajarkan John Wesley, Victoria L. Campbell. Mereka menulis artikel berisi pembelaan terhadap doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan oleh Wesley.
Menurut Campbell, ajaran Wesley tentang kesempurnaan merupakan sebuah “sasaran” (goal) atau “tujuan akhir” (ends). Artinya, kesempurnaan Kristen menurut Wesley bukanlah sebuah status kekinian yang dapat dinikmati oleh orang percaya saat ini dan di sini, melainkan sebuah sasaran atau tujuan akhir yang menjadi orientasi dari seluruh kehidupan Kristiani. Wesley memberi ajaran ini untuk konter terhadap doktrin predestinasi Calvinisme yang menurutnya dapat melahirkan Antinomianisme (sikap mengabaikan hukum-hukum moral).

Seorang yang bernama Cambell mewakili teolog Wesleyan yang mempublikasikan artikelnya juga dalam sebuah jurnal dari sebuah seminari yang menganut teologi Wesleyenisme, yaitu Asbury Theological Seminary, sementara Baxter adalah seorang teologi Injili yang lebih dekat pemahaman teologisnya kepada aliran Calvinisme. Di sisi lain, seorang profesor Perjanjian Baru yang mengajar di Asbury Theological Seminary termasuk juga penganut teologi Wesleyanisme, Ben Witherington III, mempublikasikan sebuah buku mengenai problem teologi Injili yang di dalamnya terdapat diskusi mengenai doktrin kesempurnaan Kristen yang diajarkan Wesley.

Menurut Witherington, Wesley memang mengajarkan doktrin kesempurnaan Kristen yang bersifat progresif, bukan status kekinian, namun Wesley memang percaya bahwa progress menuju kesempurnaan Kristen itu dapat tercapai dalam hidup ini. Latar pemahaman ini dipengaruhi oleh definisi Wesley tentang dosa. Baginya, dosa adalah “perlawanan secara sengaja terhadap hukum-hukum moral yang telah tercatat dalam Alkitab”. (Ben Witherington III, 2005:209).

Hal penting yang perlu kembali ditegaskan adalah bahwa diskusi teologis di atas mengambil acuan biblikalnya pada beberapa teks yang relevan dengan isu ini, yaitu Matius 5:17-48; 1 Korintus 10:13; 1 Yohanes 1:8-10; 2:2; 3:6-9; dan 4:12, 17-18.Akan tetapi apakah Matius 5:48, mengindikasikan bahwa orang-orang Kristen harus mencapai suatu tingkat kehidupan yang sempurna di dalam segala aspeknya dalam hidup ini? Apakah yang dimaksudkan dengan “sempurna” (te,leio,j) dalam teks ini?

Yesus selama masa pelayanan-Nya mengajarkan para murid dengan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi murid-murid-Nya bahkan setiap orang yang menjadi pengikut-Nya. Di dalam Matius 5:48 Yesus menyatakan: “karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Matius 5:48 merupakan ringkasan ucapan Yesus yang dimulai dari ayat 21 sampai 47. Bagian ini menegaskan bahwa murid-murid Yesus harus sempurna karena rujukan pada Bapa yang adalah sempurna. Kata sempurna dalam ungkapan ini dapat diartikan menjadi lengkap atau menjadi utuh yang memiliki korelasi dengan kedewasaan dan keutuhan moral seseorang. Kedewasaan yang digambarkan dalam ayat ini berhubungan dengan ketaatan seseorang kepada Allah (Barklay M. Newman dan Philip C. Stine, 2008:142).

Berdasarkan uraian di atas menjadi jelas bahwa ungkapan “sempurna” dalam Matius 5 : 48 memiliki pengertian bahwa setiap orang percaya atau pengikut Yesus Kristus harus memiliki kelakuan yang baik, tidak ada cacatnya seperti kelakuan Bapa, atau sempurna mengandung pengertian setiap pengikut Yesus harus taat kepada Tuhan sepenuhnya, sama seperti Bapa mengasihi setiap orang, Bapa di sorga memperhatikan memperhatikan setiap orang maka setiap orang percaya melakukan kehendak Allah secara sempurna. Jadi Yesus meminta pengikut-Nya untuk sempurna karena Bapa pun sempurna.


Akan tetapi masalah yang terjadi adalah terjadi tindakan tidak sopan dari seorang anak kepada orangtua. Misalnya anak-anak Nuh, ada yang bertindak sempurna tetapi juga tidak sempurna. Ham bertindak tidak terpuji, yaitu melihat aurat ayahnya(Kej. 9:22, pembangunan menara babel. Mendirikan menara babel sebenarnya tidak sa;ah hanya saja yang salah yaitu pada tujuan mendirikan menara babel yaitu supaya tidak terpencar ke seluruh muka bumi, sementara Allah bermaksud untuk memenuhi bimi ini (bnd. Kej. 11). Penyimpangan perilaku itu berlanjut dari zaman ke zaman.Dengan kata lain, tindakan moral yang tidak sempurna terjadi dari zaman ke zaman.

Dalam Alkitab, narasi tentang ketidaksempurnaan terjadi dalam aspek penyimpangan seksual (bnd. Kej. 6:2), dan kejahatan lainnya (bnd. Kej. 6:5). Richard L.Pratt Jr. menyatakan: “terbentuknya sifat unggul atau karakter manusia telah berubah karena dosa. Manusia tidak lagi mencerminkan gambar Allah yang sempurna, manusia tidak lagi berpikir dan bertindak sebagaimana halnya dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa” (Richard L. Pratt Jr., 2000:39)
Berdasarkan paparan masalah di atas variabel yang dirumuskan untuk penelitian ilmiah yakni: "Analisis Teologis Kesempurnaan Menurut Matius 5:48 dan implementasinya bagi Kualitas Kesaksian Kehidupan Jemaat Gereja .... di .....

B. Identifikasi Masalah

1. Apa arti asli “sempurna” dalam Matius 5:48
2. Pendekatan eksegese yang lebih tepat untuk memahami “sempurna” dalam ucapan Yesus menurut Matius 5:48
3. Pendekatan etika lebih cocok terhadap makna “sempurna” dalam Matius 5:48
4. Pendekatan Teologis atau analisis teologis dapat menolong memahami makna ucapan “sempurna” dalam Matius 5:48
5. Pendekatan filosofis dapat membantu memahami makna “sempurna” dalam ucapan Yesus menurut Matius 5:48

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identivikasi masalah di atas menjadi jelas bahwa ada beragam pendekatan dalam usaha memahami apa yang dimaksud penulis Injil Matius 5:48 yang Dari tidak dapat dipakai secara menyeluruh dalam penelitian ini. Hal ini disebabkan karena berbagai keterbatasan seperti waktu, biaya dan tenaga. Oleh karena itu dari beragama pendekatan itu penulis memakai pendekatan teologis dalam memahami makna Matius 5:48 dan korelasinya dengan pertumbuhan rohani mencapai kedewasaan rohani. Korelasinya dilator belakangi oleh pemahaman bahwa makna Matius 4:58 tidak memiliki aksiologi kekinian bila tida ada relevansinya dengan kehidupan kini. Oleh karena itu maka hasil kajian itu dihubungkan dengan variabel implementasi kesempurnaan dalam kehidupan orang Kristen masa kini. Jadi masalah penelitian dibatasi pada poin 4

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan masalah di atas dirumuskan beberapa pertanyaan pengarah. Pertanyaan pengarah ini bermaksud sebagai pedoman kerja bagi penulis dalam mengadakan penelitian variabel penelitian: kajian teologis tentang kesempurnaan menurut Matius 5:48 dan implementasinya bagi Pertumbuhan Rohani Mencapai Kesempurnaan. Berdasarkan pemahaman demikian maka penulis menetapkan rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana Latar Belakang Injil Matius?
2. Bagaimana kajian Teologis “sempurna” yang ditekankan dalam Matius 5:48?
3. Bagaimana implikasinya dalam kehidupan orang percaya masa kini?

E. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan Latar Belakang Injil Matius
2. Menjelaskan kajian teologis terhadap Matius 5:48
3. Menjelaskan implementasinya bagi kedewasaan dalam pertumbuhan rohani orang percaya masa kini

F. Manfaat Penelitian

1. Memberi kontribusi bagi lembaga pendidikan teologi yaitu STT …. dalam pengembangan Teologi Perjanjian Baru
2. Memberi kontribusi bagi Gereja dalam pembinaan jemaat tentang kesempurnaan moral warga jemaat
3. Memberi kontribusi bagi hamba-hamba Tuhan dalam upaya membina jemaat yang digembalakan
4. Mendalami pemahaman penulis guna kepentingan pelayanan

G. Hipotesis

Jika ucapan Yesus tentang “kamu harus sempurna seperti Bapa adalah sempurna maka akan ditemukan makna yang sangat bermanfaat bagi upaya pemantapan moral yaitu pertumbuhan kedewasaan rohani

H. Metode Penelitian

Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik, serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok yaitu: Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian? Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data? Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut? Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian. Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian. Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebut diperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian literatur (Penelitian kepustakaan= Lybrary Research), yaitu studi terhadap literatur yang berhubungan dengan judul tesis dan berusaha menganalisis data berupa kata-kata dan disusun secara sistematis (Moh. Nasir, 1998:111-112). Sedangkan metode prnulisan yang dipakai adalah metode deskriptif dan teologis. Dikatakan deskriptif karena menggambarkan peristiwa apa adanya berdasarkan penyelidikan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991:226). Dikatakan teologis karena berhubungan dengan karya Tuhan dengan tetap memperhatikan hasil eksegesis (Yun = menggali arti) untuk menafsirkan kitab suci dalam konteks aslinya (Gerald O’Colline dan Edward G. Farrugia, 1996:66) yang dapat dipakai untuk kepentingan kajian teologis terhadap Matius 5:48





I. Definisi Istilah

Definisi istilah yang dimaksud disini hanya berkenaan dengan frasa-frasa yang dianggap penting dijelaskan supaya tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda antara penulis dan pembaca. Dalam hal ini istilah-istilah yang sudah jelas artinya tidak akan diartikan. Frasa yang perlu diartikan disini yakni kata “sempurna”.


Menurut Kamus Filsafat, sempurna memiliki pengertian lengkap, murni, tidak ada kesalahan, artinya tidak memiliki kemungkinan untuk cacat atau tidak bercacat. Sempurna dalam Matius 5:48 dipahami dalam pengertian menjadi lengkap atau menjadi utuh yaitu kedewasaan dan keutuhan moral seseorang Barklay M. Newman dan Philip C. Stine, 2008:142). Kedewasaan yang dimaksud adalah ketaatan seseorang kepada Allah (Lorens Bagus, 1996:986). Para pengikut Yesus Kristus harus memiliki kelakuan yang baik, tidak ada cacatnya seperti kelakuan Bapa. Setiap pengikut Yesus harus taat kepada Tuhan sepenuhnya, sama seperti Bapa mengasihi setiap orang, Bapa di sorga memperhatikan memperhatikan setiap orang maka setiap orang percaya melakukan kehendak Allah secara sempurna. Jadi, kesempurnaan moral menjadi maksud dari ucapan Yesus dalam Matius 5:48

Semoga Bermanfaat

Salam


Mengerjakan penelitian dalam skala Sarjana Teologi maupun Pendidikan Agama Kristen sebenarnya menyenangkan. Hanya saja sejak awal ada sejumlah kesulitan. Namun ketika kesulitan itu teratasi maka kita akan menikmati betapa indahnya berkarya dalam logi yang berbuah.





No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.